keluyuran web banner

10 Jenis Alat Musik Aceh dari yang Dipukul Hingga Digesek

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 10 Februari 2021

Aceh yang berjuluk Serambi Mekah ini tak hanya menjadi tempat tujuan wisata religi saja. Bumi Nanggroe Aceh Darussalam juga memiliki alam yang indah yang membuatnya dikenal di kalangan wisatawan pecinta keindahan alam. Selain itu, Aceh juga terkenal dengan seni dan budayanya yang sudah mendunia. Sebut saja saman, yang banyak tampil di mancanegara.

Tak hanya tarian, Aceh juga mempunyai beberapa alat musik tradisional. Alat musik Aceh ini beberapa mungkin sudah jarang dilihat. Untuk mengenal instrumen musik dari Aceh ini, yuk simak artikel berikut ini!

1. Canang

Canang

Canang adalah alat musik Aceh yang banyak ditemukan di masyarakat Aceh, Tamiang, Gayo, dan Alas. tiap daerah mempunyai istilah sendiri untuk alat musik tradisional ini. 

“Canang Trieng” adalah sebutan dari orang Aceh. Nama lainnya yaitu “Kecapi Olah” juga “Teganing” yang merupakan sebutan untuk canang di daerah Tamiang dan di daerah Gayo. Canang dibuat dengan bahan dari kuningan serta dibentuk seperti gong. 

Kebanyakan wilayah di Aceh mempunyai alat musik canang, tetapi tiap-tiap canang mempunyai pengertian juga fungsi yang berbeda-beda. Secara umum, canang memiliki fungsi sebagai pengiring untuk tari-tarian tradisional. 

Selain itu, canang juga memiliki fungsi sebagai hiburan untuk anak-anak remaja putri yang sedang berkumpul. Biasanya canang dimainkan sesudah selesai pekerjaan di sawah atau untuk mengisi waktu senggang.

2. Bangsi Alas

Bangsi Alas

Bangsi Alas adalah alat musik tradisional yang asalnya dari Lembah Alas yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara. Dahulu kala, alat musik Aceh ini sering dipakai untuk mengiringi Tarian Landok Alun, yaitu tari rakyat yang bercerita tentang kegembiraan petani yang berada di Desa Telangat Pangan.

Alat musik ini bentuknya memanjang kurang lebih 41 cm dengan diameter 2,8 cm. Pada bagian atas bangsi alas terdapat 7 lubang. Lubang yang berada di paling atas memiliki ukuran lubang yang paling besar. Dari 7 lubang itu 6 lubang merupakan lubang nada dan 1 lubang lainnya yaitu lubang udara.

Alat musik tradisional ini dibuat dari bambu dan ujungnya ditutup menggunakan buku bambu. Sementara itu ujung lainnya yang menjadi tempat untuk meniup ditutup menggunakan gabus dan dibalut memakai daun pandan. Biasanya bangsi dihias dengan ukiran krawang Alas.

3. Rapai

Rapai

Rapai merupakan salah satu alat musik Aceh yang dibuat dari jenis kayu yang keras. Umumnya alat musik ini dibuat dari batang pohon nangka. Sesudah dibulatkan, rapai diberi lubang pada bagian tengahnya. Kayu yang sudah diberi lubang disebut baloh.

Pada umumnya ukuran baloh yang berada pada bagian atas lebih besar dibandingkan bagian bawah. Baloh bagian atas kemudian ditutup menggunakan kulit kambing, sementara bagian bawahnya dibiarkan terbuka. 

Rapai dilengkapi dengan sidak yang terbuat dari rotan. Fungsi sidak ini adalah untuk mengencangkan kulit membran pada gendang. Selain itu, rapai juga diberi anegrik atau bohgrik yang menyerupai kerincing, yakni logam berbentuk pelat yang dipasang di badan rapai.

Biasanya rapai digunakan pada bermacam upacara, khususnya yang berkaitan dengan keagamaan, kelahiran, perkawinan serta permainan tradisional yaitu debus. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul memakai tangan seperti gendang. 

Rapai biasanya dibawakan secara berkelompok. Pemimpin kelompok yang memainkan rapai biasanya disebut dengan panggilan ‘syeh’ atau ‘kalipah’.

4. Arbab

Arbab

Arbab adalah alat musik tradisional dari Aceh yang cara memainkannya yaitu dengan digesek. Alat musik Aceh ini  umumnya digunakan di acara pementasan hiburan rakyat contohnya pasar malam, pawai dan lain-lain.

Alat musik tradisional ini terdiri dua bagian yaitu arbab serta alat geseknya. Arbab dulu pernah berkembang di daerah Aceh Barat, Aceh Besar, dan Pidie. Lagu yang dibawakan umumnya berupa cerita pendek yang diselingi dengan humor-humor ringan yang mudah untuk ditangkap pendengar.

Instrumen arbab dibuat dari bahan berupa tempurung kelapa, kayu, kulit kambing, dan dawai. Sementara untuk penggeseknya yang berbentuk seperti busur dibuat dari serat tumbuhan rotan dan kayu. Boleh dikatakan kalau alat musik ini masuk dalam kategori kerajinan tangan asal Aceh.

5. Bereguh

Bereguh

Alat musik tradisional dari Aceh lainnya bernama bereguh yang  dibuat dari tanduk kerbau. Bereguh memiliki fungsi sebagai alat musik yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk Aceh pada zaman dahulu yang hidup di tengah hutan dan bukan merupakan alat musik untuk menghibur.

Di wilayah tertentu seperti daerah Pidie, Aceh besar dan Aceh utara, pada masa lalu masyarakat daerah tersebut hidup berjauhan satu sama lain. Dengan meniup bereguh, kelompok lain dapat memperkirakan dimana posisi orang yang meniup alat musik tadi. 

Suara yang dikeluarkan juga panjang nadanya dipengaruhi oleh teknik yang digunakan oleh si pengguna dari alat musik ini. Bereguh dapat juga dipakai ketika berada di hutan supaya tak terpisah dari teman pendaki lainnya serta pemandu.

6. Geundrang

Geundrang

Pada umumnya alat musik Aceh ini bisa temukan di wilayah Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Besar. Bentuk Geundrang berupa silinder yang memiliki panjang 40 cm sampai 50 cm dan diameternya 18 cm sampai 20 cm.

Geundrang terbuat dari bahan kulit kambing, kulit nangka, kulit sapi yang tipis, atau juga rotan. Di bagian ujung Geundrang dilengkapi dengan kerincing yang membuat geundrang menghasilkan suara kerincingan ketika dipukul.

Alat musik tradisional Aceh ini juga dapat didengar suaranya dari kejauhan dengan jarak 3 km sampai 4 km. Di dalam musik tradisional geundrang fungsinya yaitu sebagai alat pelengkap tempo.

7. Celempong

Celempong

Alat musik Aceh selanjutnya adalah Celempong. Instrumen musik khas dari Kabupaten Aceh Tamiang ini usianya sudah lebih dari 100 tahun. Celempong memiliki 5 sampai 7 rangkaian potong kayu dengan panjang antara 5 cm hingga 7 cm dan lebar 6 cm sampai 8 cm.

Cara memainkan celempong yaitu dengan diketuk-ketuk menggunakan alat pemukulnya. Biasanya alat musik Aceh ini dimainkan untuk mengiringi lagu tradisional. Selain itu, celempong juga dipakai untuk mengiringi Tari Inai. Umumnya pemainnya adalah kaum perempuan Aceh.

8. Serune Kalee

Serune Kalee

Serune kalee merupakan alat musik Aceh berupa terompet khas dengan bentuk yang mirip dengan klarinet. biasanya alat musik dari Aceh ini dimainkan sebagai instrumen utama pada sebuah pertunjukan musik tradisional Aceh.

Alat musik ini dimainkan bersama dengan iringan alat musik rapai, geundrang, dan beberapa alat musik tradisional lainnya. Istilah serune kalee sebenarnya berasal dari dua kata, yakni ‘serune’ dan ‘Kalee’

Serune adalah alat musik tradisional Aceh, sedangkan Kalee adalah nama sebuah desa di daerah Laweung, Kabupaten Pidie. Jadi sederhananya, arti dari serune Kalee adalah sebuah serunai atau seruling yang asalnya dari daerah Kalee.

Alat musik ini dibuat dari kay pilihan dengan karakter kuat dan keras namun tetap ringan. Pada proses pembuatannya, terlebih dahulu kayu direndam selama tiga bulan sebelum dibentuk. Sesudah fase perendaman usai, kemudian kayu dipangkas sampai hanya menyisakan ‘hati kayu’.

Kemudian hati kayu inilah yang dibor lalu dibubut untuk membuat lubang yang memiliki diameter 2 cm. Sesudah selesai membuat rongga, kemudian dimulailah pembuatan lubang-lubang nada.

Di bagian atas terdapat 6 lubang nada yang berfungsi sebagai interval nada serta 1 buah lubang lagi pada bagian bawah agar tercipta suara khas dari serune Kalee.

9. Tambo

Tambo

Tambo adalah alat musik Aceh yang dibuat dari kulit sapi, batang iboh, dan rotan untuk mengikat kulit. Bentuk alat musik ini mirip dengan tambor dan cara memainkannya dengan dipukul. Dalam sejarahnya, tambo awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi penanda datangnya waktu sholat.

Selain itu, tambo juga berfungsi untuk mengumpulkan warga ke meunasah saat harus membicarakan masalah-masalah dalam satu kampung. Sekarang ini, alat musik ini sudah jarang digunakan dikarenakan kehadiran teknologi modern berupa mikrofon. 

10. Teganing

Teganing

Teganing adalah alat musik tradisional masyarakat Gayo, terutama di Kabupaten Aceh Bener Meriah dan Tengah. Dibuat dari bambu dengan lubang memanjang dengan cara menoreh memanjang tempat tali yang jumlahnya 3 buah dan tak boleh terpisah atau terputus dari bambunya.

Bunyi dari ketiga tali tersebut dapat disesuaikan dengan fungsinya yaitu sebagai memong, canang, dan gong dan diberi ganjal yang disimpan untuk memisahkan tali dari bambu. Dimainkan dengan cara memukul talinya dengan stik menggunakan tangan kanan. Sementara itu, tangan kiri memukul badan teganing yang mewakili bunyi repa’i.

Itulah 10 jenis alat musik Aceh yang mungkin sebagian besar dari kita tidak pernah mendengar namanya dan melihat bentuknya. Hal itu bisa terjadi karena memang alat musik ini jarang terekspos. Dengan semakin sering menghadirkan alat musik tersebut dalam pertunjukkan akan membantu masyarakat lain, khususnya anak muda, untuk mengenal alat musik tradisional ini.

Semua alat musik tersebut adalah aset dari kebudayaan Indonesia. Jangan sampai generasi selanjutnya hanya bisa mengenalnya dari gambar karena alat musik tersebut punah. Kira-kira bagaimana caranya kita supaya bisa ikut melestarikan alat musik Aceh ini?

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram