Inilah 5 Alat Musik Tradisional dari Sulawesi Utara

Ditulis oleh Rizky Maisyarah - Diperbaharui 29 Mei 2021

Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki ragam kekayaan alam yang melimpah, terutama kekayaan lautnya. Tidak hanya itu, provinsi ini juga digadang-gadang kaya akan budaya yang masih lestari hingga saat ini.

Salah satu kebudayaan di Sulawesi Utara yang menarik dan sayang untuk dilewatkan adalah alat musik tradisionalnya. Sama seperti provinsi lain, Sulawesi Utara juga memiliki ragam alat musik tradisional yang khas sesuai dengan karakteristik daerahnya.

Alat Musik Sulawesi Utara tidak hanya satu, lho. Memangnya, apa saja alat musik khas daerah yang berbatasan dengan Filipina tersebut? Yuk, simak pembahasannya berikut ini!

1. Kolintang

 Kolintang

Nama Kolintang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga beberapa dari kamu. Kenapa? Karena alat musik tradisional yang satu ini merupakan salah satu yang cukup ikonik di daerah Minahasa.

Secara umum, alat musik Kolintang terbuat dari kayu yang dibunyikan dengan cara dipukul. Hanya saja, terdapat tiga alat pemukul yang berbeda dengan pemain yang berbeda pula.

Selain perbedaan tersebut, Kolintang juga memiliki bunyi yang khas dan dapat berbunyi cukup lama. Biasanya, kolintang dimainkan dengan iringan gong yang dapat menghasilkan ritme yang khas dan mampu memanjakan telinga.

Alat musik tradisional Sulawesi Utara yang satu ini biasanya dibuat dengan bahan baku kayu lokal yang ringan namun tetap memiliki daya tahan yang kuat. Salah satu contoh jenis kayu yang paling umum digunakan untuk membuat Kolintang adalah kayu Cempaka dan Waru.

Pada zaman dahulu, Kolintang biasanya dimainkan pada acara-acara sakral dalam adat. Seperti untuk keperluan ritual pemujaan terhadap leluhur, pengantaran jenazah, dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut perlahan menghilang dan kini Kolintang dapat dimainkan siapa saja dan kapan saja.

2. Tetengkoren

Tetengkoren

Alat musik Sulawesi Utara yang berikutnya adalah Tetengkoren. Alat musik tradisional yang satu ini juga berasal dari daerah Minahasa. Tetengkoren ini terbuat dari bambu dan memiliki bentuk yang mirip dengan kentongan.

Dulunya, alat musik yang satu ini memang digunakan sebagai salah satu media komunikasi antar warga apabila terdapat ancaman atau bahaya tertentu. Selain itu, bentuknya yang mirip kentongan dan memiliki suara yang nyaring juga kerap digunakan oleh para petani dalam mengusir hama di lahan sawah mereka.

Tetengkoren dibunyikan dengan cara dipukul seperti membunyikan kentongan. Selain dapat digunakan sebagai pengusir hama di area persawahan, alat musik yang satu ini juga sering dipakai para petani dalam menghibur diri mereka ketika beristirahat di ladang.

Tak hanya menjadi nama sebuah alat musik, Tetengkoren juga merupakan nama tarian tradisional dari daerah Minahasa. Kedua komponen kebudayaan ini kini kerap ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu besar atau pembukaan acara pemerintahan.

3. Salude

Salude

Setelah Tetengkoren, kini kita beralih ke alat musik tradisional Sulawesi Utara lainnya yang bernama Salude. Alat musik ini terbuat dari bahan utama berupa bambu yang diberikan dua buah dawai yang terbuat dari kulit arinya.

Pada bagian tengah bambu tersebut, terdapat lubang yang berfungsi sebagai lubang resonansi. Oleh karena itu, Salude dapat mengeluarkan bunyi yang nyaring. Bagaimana cara memainkannya? Salude bisa dimainkan dengan cara dipetik dan dipukul bergantian menggunakan pelepah pinang. Sayangnya, saat ini Salude sudah jarang digunakan atau dimainkan dalam acara atau upacara adat di Sulawesi Utara.

4. Momongan

Momongan

Sekilas, gambar di atas mirip dengan gamelan, bukan? Alat musik tersebut memiliki nama Momongan. Momongan merupakan alat musik dari Sulawesi Utara yang terbuat dari logam perunggu. Bentuknya mirip seperti Kenong (alat musik gamelan dari Jawa Tengah) dan cara memainkannya pun dengan dipukul menggunakan kayu atau tongkat yang sudah disediakan.

Sama seperti kegunaan gamelan dari Jawa Tengah yang digunakan untuk mengiringi tari atau sebuah acara adat tertentu. Momongan juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan hal tersebut. Ia kerap dipakai untuk memeriahkan sebuah acara hiburan maupun pengiring alunan tari adat dari Sulawesi Utara.

5. Oli

Oli

Eits, Oli di sini bukan nama minyak pelumas kendaraan, ya! Nama Oli sebagai salah satu jenis alat musik tradisional Sulawesi Utara mungkin terdengar asing di telinga kita. Alat musik ini memang jarang dimainkan atau digunakan, kecuali dalam upacara adat tertentu yang harus menghadirkan alunan musik tradisional.

Oli terbuat dari sepotong bambu yang bentuknya mirip dengan suling. Cara memainkan Oli juga sama seperti memainkan suling, sama-sama ditiup. Selain digunakan sebagai nama alat musik, Oli juga merupakan jenis aliran musik yang berasal dari daerah Sangihe, Sulawesi Utara. Dulu, aliran musik Oli kerap digunakan oleh warga setempat dalam melakukan persembahan pada Yang Maha Kuasa.

Dalam genre Oli, terdapat beberapa alat musik lain selain Oli, yaitu Salude, Arababu, Sasaheng, dan Suling. Biasanya, genre ini dimainkan dalam acara Tulude, yaitu upacara religius tahunan yang digelar oleh masyarakat Sulawesi Utara, khususnya etnis Talaud dan Sangihe.

Selain acara Tulude, Oli jarang sekali dimainkan. Oleh karena itu, pemerintah setempat berupaya membangun kesadaran generasi muda dengan menjadikan Oli sebagai warisan budaya yang dilindungi.

Filosofi di Balik Alat Musik Tradisional Sulawesi Utara

Ragam alat musik tradisional dari Sulawesi Utara yang telah kita bahas di atas rata-rata digunakan sebagai pengiring upacara adat atau acara yang sakral. Oleh karena itu, penggunaan masing-masing alat musik tersebut sangat kental kaitannya dengan unsur religius dan magis.

Setiap bunyi yang dihasilkan oleh alat musik tradisional tersebut diyakini oleh masyarakat Sulawesi Utara dapat memberikan efek baik bagi semesta (lingkungan sekitar) maupun manusia yang mendengarkannya.

Efek baik bagi semesta tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rumengan (2010) yang menyatakan bahwa tradisi musik mahzani yang sampai saat ini masih sering dilakukan oleh warga desa Rurukan, Tomohon Timur, Sulawesi Utara diyakini dapat membantu kesuburan tanaman dan mampu merangsang pepohonan aren memberikan hasil panen nira yang lebih banyak.

Selain itu, dalam tradisi lain di kalangan masyarakat Tountemboan, mereka mempercayai bahwa alunan musik atau bebunyian yang dialunkan dapat mempengaruhi hasil perburuan mereka. Bunyi-bunyi yang dilantunkan pun haruslah sesuai dengan tatanan. Jika saat memainkan musik tersebut menyalahi aturan, masyarakat setempat yakin kesalahan tersebut akan membawa malapetaka.

Nah, itulah tadi informasi singkat mengenai ragam alat musik Sulawesi Utara yang kaya akan makna dan filosofi. Selain menyajikan pemandangan alam sekitar yang ciamik, nyatanya provinsi dengan ibukota Manado ini juga memiliki banyak keragaman budaya dan adat istiadat yang tak kalah menarik untuk dipelajari.

Jadi kalau kamu punya kesempatan untuk berkunjung ke Sulawesi Utara, mau mampir buat belajar alat musik serta tradisi mereka nggak kira-kira? Jika kamu punya pendapat terkait alat musik khas Sulawesi Utara, yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram