10 Alat Musik Tradisional Jepang yang Mesti Diketahui

Ditulis oleh Anggie Warsito - Diperbaharui 6 Februari 2020

Layaknya negara-negara lain di dunia, Jepang juga mempunyai warisan budaya. Alat musik tradisional adalah salah satu di antaranya. Alat musik tradisional Jepang sendiri cukup banyak jumlahnya.

Beberapa di antara alat musik tradisional tersebut tergolong populer di telinga masyarakat Negeri Sakura. Untuk memperluas wawasan kebudayaan, berikut ini bahasan singkat mengenai sejumlah alat musik tradisional Jepang.

1. Shakuhachi

Shakuhachi

Kalau diibaratkan, ini adalah serulingnya Negeri Matahari Terbit. Bahan dan bentuknya persis dengan seruling jenis recorder. Hanya saja seruling Jepang ini hanya punya empat lubang di bagian depan, serta satu lubang di belakangnya.

Alat musik ini konon sudah ada sejak zaman Kamakura era pertengahan. Alat ini diperkenalkan oleh seorang biksu Zen bernama Kakushin. Ia menemukan dan memperkenalkan alat ini seusai belajar dari negeri Tiongkok.

Selain dimainkan masyarakat Jepang, alat ini juga lazim dijual secara umum. Di pasaran, harga alat musik ini cukup mahal. Mahalnya alat ini tak lain disebabkan oleh proses pembuatannya yang cenderung rumit.

2. Taiko

Taiko

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, taiko mempunyai arti ‘drum besar’. Di masa feodalisme Jepang, alat ini lazim dipakai untuk memotivasi pasukan, mengatur pengumuman, atau menentukan barisan pasukan.

Di masa kini, taiko lebih sering dipakai untuk menangkal bencana ataupun sebagai sarana mengekspresikan dunia arwah. Taiko sendiri memiliki beragam jenis.

Satu di antaranya adalah nagado-daiko. Ini merupakan jenis taiko yang badannya panjang, berbahan kayu dan bagian atas serta bawahnya dilapisi kulit sapi.

3. Koto

Koto

Ini merupakan alat musik tradisional Jepang yang dimainkan dengan cara dipetik. Secara bentuk, alat musik ini cukup mirip dengan alat musik zheng asal Tiongkok.

Koto terbuat dari kayu kiri sepanjang 180 centimeter, dan bagian atasnya dilengkapi senar sebanyak 13 buah. Ketiga belas senar tersebut lantas diberi jembatan berjumlah sama yang bisa digerakkan ke mana pun.

Sejak diperkenalkan pada abad ke-17 hingga sekarang, alat musik tradisional ini masih dimainkan secara tunggal tanpa diiringi instrumen lainnya.

4. Shamisen

Shamisen

Ini adalah alat musik tradisional Jepang lainnya yang dimainkan dengan cara dipetik. Ciri khas alat ini adalah bagian badannya yang agak kotak, berleher panjang, serta memiliki senar berjumlah tiga buah. Untuk memainkannya, kamu cukup memetik senarnya dengan sebuah pick yang lazim disebut bachi.

Shamisen pertama kali dibuat dan diperkenalkan pada akhir abad ke-16. Shamisen pertama yang dibuat saat itu bernama yodo yang dibuat oleh pengrajin asal Kyoto. Shamisen tersebut dibuat sebagai persembahan kaisar Toyotomi Hideyoshi kepada istrinya.

Di masa kini, shamisen lazim dipakai untuk sejumlah event, mulai dari pertunjukkan kabuki hingga pengiring joruri (sandiwara boneka). Jenisnya pun kian beragam. Nakazao, hosozao, dan futozao adalah tiga di antaranya.

5. Biwa

Biwa

Masih ada satu alat musik tradisional Jepang lainnya yang dimainkan dengan cara dipetik. Biwa adalah alat musik tersebut. Bentuk dan cara memainkan alat ini hampir sama dengan shamishen. Bedanya, leher pada alat musik ini jauh lebih pendek.

Alat musik ini sebetulnya berasal dari Tiongkok, lalu kemudian diperkenalkan di Jepang. Di Jepang, alat ini lazim sekali dimainkan di acara pertunjukkan musik tradisional di Jepang, khususnya Gagaku dan Heike Monogatari.

6. Kane

Kane

Alat yang bernama lain sho ini merupakan alat musik yang bentuknya serupa mangkok besi. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul layaknya lonceng. Seperti halnya biwa, alat musik ini juga lazim dipakai pada perhelatan Gagaku.

Bagi yang belum tahu, Gagaku merupakan pertunjukkan musik dan tari asal Tiongkok yang kemudian menjadi bagian dari budaya Jepang. Selain dimainkan pada perhelatan Gagaku, kane juga sering dimainkan dalam upacara agama Shinto dan Buddha di Jepang.

7. Tsuzumi

Tsuzumi

Alat musik pukul khas Jepang tak hanya taiko saja. Masih ada satu-dua alat musik pukul lainnya yang ada di Jepang. Tsuzumi adalah salah satu contohnya.

Ini merupakan alat musik pukul yang bagian tubuhnya mirip jam pasir, serta memiliki selempang di bagian tubuhnya. Untuk memainkan alat musik ini, kamu harus meletakkan selempang di bagian bahunya.

Tsuzumi lazim sekali dimainkan dalam teater kabuki, teater noh, pagelaran minyo, atau juga untuk mengiringi sejumlah lagu rakyat Jepang.

8. Den-Den Daiko

Den-Den Daiko

Kalau kamu pernah menonton film The Karate Kids II, kamu pasti pernah melihat alat musik ini. Bagi yang belum tahu, den-den daiko merupakan drum kecil khas Jepang yang berukuran kecil. Ciri khas alat ini adalah terdapat batang pada bagian bawah, serta drum di bagian atasnya.

Bagian atas tersebut memiliki dua kepala di bagian depan dan belakang. Kedua kepala itu dilapisi kulit serta dilengkapi manik-manik. Untuk memainkan alat ini, kamu hanya perlu memutarnya secara bolak-balik hingga bagian maniknya memukul kedua sisi kepala alat ini.

9. Shakubyoshi

Shakubyoshi

Boleh dibilang kalau ini merupakan salah satu alat musik tertua di Jepang. Shakubyoshi sendiri terdiri atas dua lempeng kayu yang dipukul secara bersamaan. Setiap kayunya memiliki panjang 36 cm dan lebar 2 cm.

Untuk memainkan alat ini, kamu harus memegang bagian ujung tertipis dari sepasang alat musik ini. Syahdan, bagian ujung paling tebal dari kedunya langsung kamu pukul secara bersamaan. Alat musik shakubyoshi juga lazim dimainkan pada pertunjukkan Gagaku.

10. Hyoshigi

Hyoshigi

Bentuk dan cara memainkan alat ini hampir mirip dengan shakuyobshi. Hanya saja, alat musik ini dibuat dari bambu atau kayu keras, berbentuk agak kecil, dan bagian ujung bawahnya diberi tali hias tipis.

Biasanya, alat musik ini dimainkan dengan dipukul secara perlahan pada mulanya. Kemudian, setelahnya baru dipukul secara cepat.

Hyoshigi lazim dimainkan pada pertunjukkan kabuki dan bunraku, khususnya ketika kedua pertunjukkan teater itu baru memasuki bagian pembuka. Hyoshigi juga lazim dimainkan di sejumlah festival dan acara keagamaan di Jepang, misalnya Mikoshi dan Mikagura-uta.

Tak hanya dipakai untuk acara agama dan budaya, alat musik ini juga bahkan dipakai untuk keperluan masyarakat umum. Misalnya dipakai sebagai “kentongan” untuk penjaga malam di Jepang, atau dipakai petugas kebakaran Jepang untuk memperingatkan adanya peristiwa kebakaran kepada masyarakat.

Nah, itulah beberapa alat musik tradisional Jepang yang perlu diketahui. Jika kamu memang tertarik dengan budaya Jepang, kamu bisa mengetahui produk budaya Jepang lainnya dalam bentuk tari-tarian.

Oh iya, selain soal alat musik tradisionalnya, Jepang juga punya tempat wisata menarik, beberapa di antaranya adalah Tempat Wisata di Yokohama dan Pantai Terindah di Jepang. Yuk, liburan ke Jepang!

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram