Fakta Kampung Adat Cikondang yang Kaya Akan Nilai Luhur

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 10 Oktober 2021

Kampung Adat Cikondang merupakan salah satu dari kampung tradisional yang masih menerapkan prinsip hidup berdasarkan tradisi dan budaya leluhurnya. Lokasinya sedikit terpencil, yaitu di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Luas kampung adat ini hanya sekitar 3 ha. Beberapa sumber menerangkan bahwa Kampung Adat Cikondang sudah berusia ada sejak tahun 1800-an.

Sebagai salah satu kampung adat yang kental dengan budaya, banyak sekali fakta menarik dari kampung yang pernah mengalami kebakaran besar di tahun 1942 ini. Hal ini tercermin dari perilaku, gaya hidup dan rumah tinggal yang ada di sana. Kami sudah merangkum beberapa informasi fakta menarik tentang Kampung Adat Cikondang, simak selengkapnya berikut ini!

Baca juga: Fakta Menarik tentang Kampung Adat Ciptagelar

1. Asal Muasal Nama Cikondang

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di tatar Sunda banyak nama tempat yang diawali dengan imbuhan ci- yang diambil dari Bahasa Sunda yang berarti air. Kita mungkin mengenal ada nama Cipacing, Cimacam, Cikadongdong yang semuanya merupakan gabungan kata air dan nama-nama benda khususnya.

Akan tetapi, berbeda dengan nama Cikondang. Penamaan kampung ini bukan merupakan gabungan kata air dan banyaknya pohon kondang yang tumbuh di sana, melainkan diambil dari kata ci- yang berarti aci atau hati dan kondang yang berarti terkenal atau tersohor.

2. Gaya Arstitektur Rumah Adat Cikondang

Rumah adat Cikondang terletak di paling belakang atau paling selatan permukiman. Posisi rumah adat ini menghadap ke utara dan dibangun lebih tinggi dari rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Material bangunannya terbuat dari bahan alami, seperti bambu, kayu dan ijuk.

Rumah adat ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu atap, badan rumah yang terletak di tengah dan bagian bawah atau kolong. Atap rumah adat Cikondang bergaya Julang Ngapak. Konstruksi atap ini mempunyai kuda-kuda yang terbuat dari kayu, dan bambu yang dibelah dua.

Bagian atap ini sering digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan ritual 15 Muharam yang rutin diadakan di Kampung Adat Cikondang.

Sementara itu, bagian tengah rumah diberi dinding yang terbuat dari bilik bambu. Ruangan tengah ini punya beberapa ruangan, yaitu ruangan depan, ruang tengah yang terdapat hawu (tungku) dan goah atau pedaringan yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan.

Gaya arsitektur rumah adat yang berbentuk panggung ini secara keseluruhan menggambarkan bahwa masyarakat Kampung Cikondang berinteraksi langsung dengan Allah. Ini sejalan dengan prinsip orang Sunda yang sangat menjaga pola keseimbangan hubungan dengan Allah dan dengan mahluknya.

3. Rumah Adat Cikondang Sebagai Jati Diri Orang Sunda

Rumah adat Cikondang bukanlah sekadar rumah yang telah berusia ratusan tahun. Rumah adat ini bukan pula sebagai tempat untuk acara-acara khusus. Menurut sang Juru Kunci ke-5 Kampung Adat Cikondang, Ki Anom Juhana, rumah adat ini adalah jati diri orang sunda.

Rumah yang berbentuk panggung ini merupakan satu-satunya rumah tradisional yang masih tersisa dan mempunyai filosofi yang kuat. Menurut sang Juru Kunci, rumah panggung ini mempunyai makna tempat yang tertinggi atau agung. Kata panggung diambil dari Bahasa Sunda pang dan agung yang berarti paling tinggi.

4. Rumah Adat Tahan Gempa

Rumah Adat Tahan GempaSumber: bobo.grid.id

Kamu mungkin sering mendengar bahwa benda-benda zaman dulu mempunyai ketahanan yang luar biasa sehingga ia bisa awet sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Teknologi yang digunakan di masa itu adalah salah satu faktor yang menyebabkannya bisa awet. Rumah adat cikondang pun demikian.

Meski menggunakan material alami, namun rumah adat Cikondang menerapkan konsep khusus yang membuat rumah ini tidak tergerus zaman dan aman ketika ada bencana. Gempa, misalnya.

Rumah adat yang telah berusia ratusan tahun ini mengaplikasikan konsep bangunan tahan gempa yang sudah diakui oleh akademisi arsitektur.

Desain rumah setinggi 60-80 cm dari permukaan tanah ini adalah kombinasi dari tiang kayu jati dan suren yang terkenal kokoh. Sambungannya menggunakan pen dan pasak serta lilitan tali ijuk atau rotan. Di bagian pondasi rumah diletakan batu.

Selain itu, menurut Ki Anom Juhana, desain rumah adat yang dibuat tanpa menyentuh tanah ini bertujuan agar tidak mengganggu proses peresapan air.

Pasalnya, lokasi di mana rumah adat ini berdiri berada di kawasan Gunung Tilu yang bermuara ke sungai Ci Tarum yang mana aliran airnya sangat tinggi. Desain rumah panggung seperti ini menyebabkan pergerakan alami tanah dan air tidak terganggu.

5. Hutan Larangan dan Segala Pamalinya

Hutan Larangan di Kampung Adat Cikondang adalah salah satu bagian yang terkenal. Luasnya sekitar 3 ha. Hutan ini menyimpan berbagai mitos dan aturan-aturan serta pamali yang harus dipatuhi bagi siapa saja yang ingin memasuki hutan ini.

Sekitar 50 meter dari pintu masuk Hutan Larangan, terdapat batu yang berjejer rapi yang digunakan untuk menyimpan pusaka Kampung Cikondang. Di area ini pula terdapat makam leluhur yang sering dijadikan tujuan ziarah warga di hari yang diperbolehkan dikunjungi.  

Siapa saja boleh masuk kecuali wanita yang sedang haid atau nifas dan non-muslim. Mereka dilarang memasuki hutan yang sakral itu. Lalu, boleh mengambil foto hutan dan seisinya kecuali di hari Minggu, Senin, Rabu dan Kamis.

Berdasarkan penuturan Ki Anom Juhana, Juru Kunci Kampung Cikondang, jika Allah tidak mengizinkan hasil foto yang diambil tidak akan muncul. Namun, jika ada izin Allah, hasil jepretannya akan terlihat di dalam foto.

6. Punya Ritual Tahunan 15 Muharam

Punya Ritual Tahunan 15 MuharamSumber: inibaru.id

Kampung Adat Cikondang punya hari besar yang diadakan setiap tanggal 15 muharam. Ritual ini adalah rangkaian upacara ritual yang diadakan untuk memperingati Tutup Tahun (Wuku Taun) dan Pembuka Tahun (Magap Taun).

Dalam ritual ini, seluruh masyarakat berkumpul, memanjatkan doa dan mengucap syukur atas diperkenankannya memasuki tahun yang baru.

Jauh-jauh hari sebelum tanggal 15 Muharam, masyarakat sudah melakukan persiapan seperti menumbuk beras dengan menggunakan peralatan tradisional seperti lisung dan halu, memasak makanan dan mengolah hasil bumi yang akan disuguhkan dalam acara puncak nanti.

7. Punya 45 Jenis Kuliner dan Mengolah Makanan Secara Tradisional

Berkunjung ke Kampung Adat Cikondang bukan hanya bertujuan untuk jalan-jalan. Kampung yang menyimpaan segudang ilmu ini sering dijadikan sebagai destinasi studi banding dan penelitian oleh akademisi di bidang ilmu tertentu.

Misalnya saja rumah adat Cikondang yang sering dijadikan sebagai percontohan arsitektur unik. Selain itu, kearifan lokal yang tercermin dari kuliner khas masyarakat pun menjadi bagian menarik yang banyak diteliti.

Dihitung-hitung, kurang lebih terdapat 45 jenis kuliner tradisional yang ada di Kampung Cikondang. Orang yang berkunjung ke Kampung ini biasa disuguhi berbagai penganan tradisional yang dibuat dari hasil bumi di sana.

Sebut saja, rengginang, ampeang, teng-teng dan lain-lain. Semua masakan dari Kampung Adat Cikondang diolah secara tradisional. Ini disebabkan adanya larangan untuk menggunakan peralatan elektronik apa pun, baik itu lemari es, penanak nasi elektrik apalagi radio dan televisi.

Berkunjung ke kampung adat Cikondang, kamu akan menemui banyak hal menarik. Prinsip yang dipegang oleh masyarakat bisa jadi inspirasi untuk menjaga keseimbangan hidup. Meskipun mereka dikepung oleh berbagai inovasi dan modernisasi, Kampung Adat Cikondang tidak goyah.

Oh, ya di Hutan Larangan Kampung Cikondang terdapat anggrek purba yang berusia ratusan tahun. Jika bunga ini mekar, wanginya bisa tercium sampai seluruh kampung. Pilih hari di mana kamu bisa melihat bunga ini mekar. Perhatikan pula aturan dan pamali yang dianut di tempat tersebut. Ini merupakan bentuk rasa hormat terdapat tradisi dan kepada masyarakat yang tinggal di sana.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram