Fakta Kampung Pulo, Kampung Adat di Tengah Situ Cangkuang

Ditulis oleh Siti Hasanah

Saat itu Eyang sedang mengadakan acara syukuran khitan anak laki-lakinya. Si anak yang punya hajat diarak dengan menggunakan kuda-kudaan (jampana) yang diiringi dengan alat musik tradisional berupa gamelan lengkap dengan gong besarnya.

Tiba-tiba, terjadi angin besar yang membuat anak laki-laki yang sedang diarak tersebut jatuh dan meninggal seketika. Sejak saat itu, gong besar dilarang ditabuh di Kampung Pulo. 

Pantangan lainnya adalah tidak boleh beternak hewan berkaki empat kecuali kucing. Alasannya adalah kucing merupakan binatang peliharaan Nabi Muhamad SAW, sedangkan larangan beternak hewan berkaki empat adalah demi menjaga kebersihan dan agar kampung suci dari najis kotoran hewan.

Punya Koleksi Bukti Penyebaran Islam di Kampung Pulo

Bukti bahwa pernah terjadi adanya penyebaran agama Hindu terlihat dari situs di kawasan yang kini dikenal sebagai Candi Cangkuang. Sedangkan bukti adanya penyebaran agama Islam di Kampung Pulo terlihat dari adanya koleksi benda-benda bersejarah seperti kitab kuno dan Al-Quran kuno yang masih tersimpan di museum kecil Kampung Pulo.

Kitab-kitab yang merupakan naskah khutbah yang digunakan oleh Eyang kala itu juga masih tersimpan dengan baik. Kertas kitab-kitab tersebut terbuat dari kulit kayu saeh dan ditulisi dengan tinta arang yang ditulis sendiri oleh Eyang saat beliau masih aktif menyebarkan ajaran Islam.

Upacara Adat di Kampung Puloa yang Masih Bernafaskan Kebudayaan Hindu

Upacara dan ritual adat yang masih dilaksanakan di Kampung Pulo berkaitan dengan siklus hidup manusia, seperti upacara pernikahan, kehamilan dan kelahiran bayi serta ritual kematian. Ada pula upacara dan ritual dalam bidang pertanian, mendirikan rumah dan memandikan pusaka.

Upacara memandikan benda pusaka dilakukan setiap tanggap 14 Maulud. Acara ini biasanya dihelat selepas pukul 24.00 sampai 13.30 dan biasanya dihadiri oleh anggota keluarga yang ada di Kampung Pulo dan masyarakat luar.

Upacara ini dipimpim oleh kepala adat. Sebelum ritual upacara dimulai, ketua adat akan mempersipakan perlengkapan, seperti empat wadah berisi air yang diberi taburan kembang tujuh rupa, kain putih, sesajen lengkap dengan nasi tumpeng dan ikan bakar.

Ikan bakar haruslah ditangkap dari Situ Cangkuang. Upacara memandikan benda pusaka diawali dengan membasuh keris dengan air kembang tujuh rupa tersebut dan diiringi dengan bacaan shalawat oleh yang dibacakan oleh seluruh warga Kampung Pulo.

Acara ditutup dengan doa dan setelahnya masyarakat dipersilahkan untuk menikmati nasi tumpeng dan penganan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Nah, berkunjung ke Kampung Pulo bisa sekalian jalan-jalan. Kampung Pula berada di kawasan wisata Candi Cangkuang yang terkenal dengan pemandangan alamnya. Kamu bisa menjelajahi bagian situ dengan menaiki rakit dan melihat kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik di sekitar lokasi wisata ini.


Hal menarik lainnya dari Kampung Pulo adalah adanya situs Hindu. Situs yang pertama kali ditemukan oleh Drs. Uka Candrasasmita tahun 1966. Situs ini diperkirakan berasal dari abad ke-8.

Nah, meskipun sudah dipugar, namun bentuk asli bangunan candinya masih dipertahankan. Agar lebih jelas, luangkan waktumu untuk menjelajahi langsung Kampung Pulo, Situ Cangkuang dan segala perniknya.

«1 2
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram