Fakta Kampung Adat Urug, Destinasi Wisata Budaya di Bogor

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 17 Oktober 2021

Kurang lebih 48 km dari ibu kota Kabupaten Bogor terdapat sebuah kampung adat yang disebut dengan Kampung Urug. Warga setempat ada yang menyebutnya Lembur Urug.

Kampung adat ini tepatnya berada di Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kab Bogor. Lokasi ini dikenal sebagai tempat tinggal kelompok masyarakat yang masih mempertahankan peradaban dan nilai-nilai tradisi

Ciri khas kampung ini adalah rumah panggung bergaya tradisional dan pola hidup yang sangat kental dengan kebudayaan Sunda. Lokasi Kampung Urug memang terpencil.

Kampung ini berada di lereng bukit sehingga jalannya terjal, sempit dan berkelok. Kampung ini punya banyak fakta menarik yang bisa kamu pelajari. Berikut ini informasinya yang berhasil kami kumpulkan mengenai Kampung Urug.

Baca juga: Fakta Menarik tentang Kampung Adat Kuta

Asal Usul Masyarakat Kampung Adat Urug

Di kampung yang masih dikelilingi pepohonan tinggi ini terdapat sosok yang jadi leluhur kampung yang sangat disegani yaitu Embah Buyut Rosa. Saking diseganinya, masyarakat tidak ada yang berani menyebut namanya. Takut kena bencana, katanya.  

Beliau adalah salah seorang keturunan dari Prabu siliwangi. Menurut kokolot Kampung Urug, Prabu Siliwangi berkali-kali ngahiang (menghilang) dan muncul di kampung ini. Karena hal ini pula di kampung Urug terdapat patilasan.

Arti Nama Urug dan Sejarah Berdirinya Kampung Urug

Arti Nama Urug dan Sejarah Berdirinya Kampung UrugSumber: kelanaku.com

Berdasarkan kirata (etimologi rakyat), nama urug berasal dari kata guru dengan cara baca terbalik dari kiri ke kanan. Kata ini bermakna digugu ditiru. Maksudnya segala petuah dan ajaran seorang guru haruslah dipatuhi dan diteladani.

Kampung Urug sendiri diperkirakan sudah berusia lebih dari 450 tahu. Keberadaan kampung ini ditandai dengan adanya mandala Urug dengan masyarakatnya yang berpegang teguh pada tradisi dan keteladanan Sunda.

Menurut cerita kokolot kampung lainnya, Kampung Urug se-zaman dengan masa pemerintahan Prabu Nilakendra yang dikenal sebagai raja yang bijaksana dan mengabdi pada hal-hal gaib. Sisa-sisa kegaiban dari Prabu Nilakendra masih ada sampai sekarang dan dijadikan sebagai petilasan.

Petilasan inilah yang dijadikan tempat tujuan untuk menyepi dan bermunajat pada Sang Pencipta. Petilasan, mandala atau kabuyutan Kampung Urug dimulai dari Gedong Ageung. Kata gedong di sini bukanlah sebuah bangunan yang megah, melainkan bangunan yang punya fungsi tertentu.

Pola Kepemimpinan yang Khas

Layaknya sebuah kelompok masyarakat lainnya, Kampung Urug punya seseorang yang dituakan atau pemimpin. Pemimpin Kampung Urug merupakan seseorang yang ditunjuk oleh masyarakat lokal atas kebutuhan tertentu. Selanjutnya, mereka disebut dengan Abah (bapa) atau Olot (sepuh)

Kampung Urug dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Urug Tonggoh (atas), Urug Tengah, dan Urug Lebak (bawah). Masing-masing wilayah dipimpin oleh satu olot yang punya tugas berbeda. Pertama, Olot Tonggoh bertugas memimpin kegiatan yang berkaitan adat dan ritual kampung urug.

Ritual dan upacara adat seperti ritual syukuran, menanam padi dan kematian. Olot Tonggoh juga bertugas sebagai juru bicara apabila ada tamu dari luar Kampung Urug yang ingin meneliti kampung, sejarah dan budayanya.

Kedua, Olot Tengah yang mempunyai tugas memberi petunjuk, mengatur dan mengerahkan masyarakat dalam kegiatan, misalnya kegiatan adat dan ritual. Terakhir, Olot Lebak mempunyai tugas memimpin seluruh kegiatan adat, mengendalikan dan mempertahankan adat Kampung Urug.

Olot Lebak adalah sesepuh kampung yang paling dituakan atau dinamakan dengan istilah Pananggeuhan (tempat bersandar). Selain olot, ada juga punduh, kuncen dan lebe. Ketiganya adalah perangkat rakyat yang membantu kerja para olot Kampung Urug. Punduh adalah penyambung masyarakat dengan olot. Ia dipilih berdasarkan garis keturunan pendahulunya.

Lalu, kuncen adalah pemberi petunjuk dalam bidang pemerintahan dan kemasyarakatan. Kuncen sering dimintai nasihat, pendapat dan saran oleh Olot Tengah untuk mengendalikan perilaku masyarakat. Sementara itu, lebe setara dengan ustadz. Ia mengurusi urusan agama. 

Punya Pola Permukiman Unik

Pada dasarnya, pola permukiman di Kampung Urug itu mengelompok dengan tiga gedong sebagai pusatnya, yakni Gedong Ageung, Gedong Luhur dan Gedong Alit. Permukiman penduduk cukup bervariatif, yang terdiri dari bangunan tradisional, semi permanen dan bangunan permanen.

Rumah adat di Kampung Urug mempunyai karakter yang hampir sama dengan semua rumah adat Sunda yang berkolong dan terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruangan depan, tengah dan belakang. Bagian depan rumah berfungsi sebagai tempat menerima tamu.

Bagian tengah rumah adalah tempat keluarga berkegiatan dan berkumpul dan kamar tidur penghuni rumah. Bagian belakang rumah adalah dapur dan goah tempat penyimpanan persediaan beras dan bahan makanan.

Sementara itu, gaya arsitekturnya mengadaptasi rumah tradisional Sunda. Bagian yang banyak digunakan untuk membuat rumah di Kampung Urug terdiri dari tatapakan, yaitu fondasi yang menggunakan batu alam utuh agar kuat menopang bobot bangunan.

Lalu, bagian lebih tinggi dari tatapakan yang disebut dengan golodog, yaitu tepas yang terbuat dari kayu yang disusun berundak. Bagian dindingnya terbuat dari bilik anyaman bambu. Sementara bagian atap disebut dengan hateup. Hateup terbuat dari anyaman daun kiray. 

Lantai rumah panggung atau palupuh dibuat dari bambu yang dirangkai menjadi belahan kecil dan panjang. Bagian langit-langit rumah berbentuk persegi panjang yang dibuat dari kayu. Terakhir, jendela rumah panggung Kampung Urug dibuat dari kisi-kisi bilah kayu atau bambu.

Punya Banyak Upacara Adat

Beberapa tradisi upacara adat di Kampung Urug ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Di waktu-waktu ini Kampung Urug disibukan dengan berbagai persiapan ritual adat tersebut. Olot Tonggoh akan bertugas sebagai pemimpin upacara adat.

Beberapa upcara adat yang ada di Kampung Urug di antaranya adalah Seren Taun. Seren Taun adalah upacara pasca panen. Di kampung urug, Seren Taun diadakan setiap tanggal 10 Muharam. Upacara ini adalah syukuran yang berhubungan dengan petuah mipit kudu amit, ngala kudu menta.

Petuah ini berarti ketika memetik dan mengambil, harus minta izin kepada yang punya. Bentuk rasa syukur dalam Seren Taun ditujukan kepada Sang Pencipta yang telah memberikan bibit pokok berupa benih pangan kepada masyarakat Kampung Urug.

Upacara adat lain yang mirip dengan Seren Taun di Kampung Urug adalah Ngabuli. Pada hakekatnya, Ngabuli adalah ritual tutup tahun yang diadakan di bulan Muharam.

Bedanya, dalam ritual ini biasa diadakan hiburan kesenian seperti jaipongan, wayang, degung dan kesenian lainnya. Ngabuli biasanya diadakan di Gedong Sangyang Tunggal.

Ada pula upacara adat yang berhubungan dengan keagamaan yang juga diadakan oeh seluruh umat muslim di Indonesia. Upacara ini dinamakan Rewahan dan Muludan. Rewahan diadakan di tanggal 12 Syaban dan ditujukan kepada Nabi Muhamad SAW dan keturunannya.

Pada upacara Rewahan, masyarakat Kampung Urug akan menyembelih ayam lalu dimasak. Ayam yang telah dimasak akan diserahkan ke rumah adat. Upacara Rewahan biasanya diadakan selepas Zuhur.

Sementara itu, Muludan adalah upacara yang diadakan setiap tanggal 12 Mulud. Upacara ini diadakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhamad SAW. Menjelang Muludan diadakan, masyarakat akan membuat penganan khas Kampung Urug dan olahan yang selanjutnya dibagikan kepada warga.

Terakhir, Sedekah Bumi. Upacara tradisional ini diadakan beberapa bulan setelah bulan Rewah, Puasa, dan Syawal. Sedekah Bumi diadakan sebelum menanam padi.

Dalam upacara Sedekah Bumi, masyarakat akan berkumpul di halaman rumah adat dan makan bersama setelah Olot Tonggoh dan lebe membacakan doa agar semua warga diberi keberkahan dan proses menanam padi mulus rahayu.

Menjadi Destinasi Wisata Budaya 

Abah Ukat Raja Aya dari Kampung Urug merupakan keturunan ke-11 dari Prabu Siliwangi. Hal ini menyebabkan Kampung Urug dianggap sebagai situs budaya yang penting di Kabupaten Bogor.

Selain itu, pola hidup masyarakat dan tata ruang yang masih mempertahankan prinsip keteladanan dan tradisi Sunda menjadikan kampung ini sebagai tujuan penelitian disiplin ilmu tertentu. Hal-hal tersebut adalah sebagian alasan yang menjadikan Kampung Adat Urug sebagai ikon wisata budaya.

Kokolot kampung yang diwakili oleh tiga olot pun dengan tangan terbuka meluangkan waktunya bagi siapa saja yang ingin berdiskusi dan mempelajari budaya Kampung Adat Urug yang punya sejarah panjang.

Mempelajari budaya dengan berkunjung ke kampung adat adalah salah satu media belajar yang menyenangkan. Ke Kampung Urug, misalnya. Terlebih lagi Kampung Urug sudah termasuk terbuka pada orang luar dan mau membuka diri pada diskusi. Namun, kini Kampung Urug menghadapi situsi sulit berkenaan dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Lereng bukti yang menjadi permukiman masyarakat longsor dan pemerintah tengah mempertimbangkan relokasi wilayah. Namun, keputusan tersebut dirasa cukup sulit sebab relokasi berarti berpotensi menghilangkan situs budaya dan nilai historis dari kampung adat. Di sisi lain, keselamatan warga pun penting.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram