Inilah 8 Fakta Upacara Minum Teh di Jepang yang Mendunia

Upacara minum teh di Jepang sudah sangat terkenal. Ritual yang disebut dengan Chanoyu banyak diminati oleh turis asing yang datang ke Jepang.

Upacara minum teh ini melibatkan kegiatan menyiapkan dan menyajikan matcha, yaitu bubuk teh hijau asli Jepang. Teh tersebut disajikan bersama dengan manisan tradisional khas Jepang untuk mengimbangi rasa pahit teh.

Ritual minum teh ini sudah menjadi bagian dari budaya Jepang dan sudah berlangsung selama berabad-abad. Upacara ini memiliki tata cara yang harus diikuti oleh semua yang terlibat.

Ini bukan sekedar minum teh tapi berhubungan dan budaya. Sejarah panjang upacara ini juga menarik untuk diketahui. Mau tahu lebih banyak tentang upacara minum teh di Jepang? Baca faktanya di sini.

Baca juga: 10 Alat Musik Tradisional Jepang yang Mesti Diketahui

1. Sejarah Teh serta Upacaranya di Jepang

Sejarah Teh serta Upacaranya di Jepang

Tradisi minum teh serta produksinya dimulai sekitar abad ke-4 di Cina. Sementara biji teh pertama tiba di Jepang pada masa Dinasti Tang (618-907). Upacara minum teh Jepang pertama kali disebut pada abad ke-8.

Pada abad itu juga muncul tulisan yang menyebutkan seorang pendeta Buddha Cina mengajarkan cara menyiapkan teh hijau dengan benar kepada orang Jepang.

Tanaman teh ditanam di Jepang selama periode Nara (710-794). Namun teh tersebut hanya digunakan untuk tujuan pengobatan. Selain itu, minum teh adalah hak istimewa bagi pendeta Buddha yang memiliki pangkat tinggi dan kaum bangsawan. Sampai sekitar tahun 1192 minum teh merupakan kemewahan bagi kaum elit.

Barulah pada abad ke-13 minum teh menjadi bagian penting untuk budaya Jepang. Perubahan ini dilakukan di periode samurai berkuasa. Popularitas teh pun kemudian menyebar ke seluruh Jepang. Selama periode ini diselenggarakan pesta teh mewah yang besar disertai dengan permainan yang berhubungan dengan membedakan jenis teh.

2. Dilakukan di Cha-Shitsu

Dilakukan di Cha-Shitsu

Upacara minum teh di Jepang dilakukan di sebuah rumah teh yang disebut cha-shitsu. Idealnya tempat ini berupa bangunan kecil yang letaknya terpisah dari rumah utama.

Namun seringkali cha-shitsu hanya berupa ruangan khusus dari sebuah rumah. Untuk memberikan kesan sederhana tapi berseni maka pemilihan bahan dan konstruksi cha-shitsu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Biasanya ruangannya memiliki ukuran kira-kira 3 m2 atau lebih kecil. Di salah satu ujungnya terdapat ceruk yang dinamakan tokonoma, yang di dalamnya ditampilkan lukisan gulir gantung, rangkaian bunga, atau bisa keduanya.

Ruangan tersebut juga mempunyai perapian cekung kecil yang disebut ro dan pada musim dingin digunakan untuk memanaskan ketel teh. Pada musim panas untuk memanaskan teh digunakan anglo portable. Cha-shitsu memiliki pintu masuk yang kecil dan rendah. Pintu tersebut didesain untuk menunjukkan kerendahan hati.

3. Bapak Upacara Minum Teh

Bapak Upacara Minum Teh

Dalam sejarah budaya Jepang, Murata Juko (1423–1502) dikenal sebagai “bapak” upacara minum teh Jepang. Murata Juko memberikan pengaruh awal dalam promosi teh memakai kerajinan Jepang, di pondok teh kecil dan berdasar pada kesederhanaan.

Murata Juko yang merupakan seorang guru Zen abad ke-15 melanggar semua aturan ritual minum teh untuk para aristokrat dengan menyelenggarakannya di ruang kecil dengan hanya beralaskan tikar yang sederhana.

4. Sen no Rikyu, Penyempurna Upacara Minum Teh

Sen no Rikyu, Penyempurna Upacara Minum Teh

Ritual upacara minum teh di Jepang disempurnakan oleh Sen no Rikyu (1522-1591). Rikyu merupakan putra seorang saudagar kaya dari daerah Sakai, yang dekat dengan Osaka.

Daerah ini pada abad ke-16 merupakan sebuah pelabuhan perdagangan paling makmur di Jepang. Berlatar belakang keluarga saudagar kaya membuat dia masuk dalam lingkaran upacara minum teh orang kaya.

Namun ternyata dia lebih tertarik dengan pendekatan para pendeta. Bagi para pendeta tersebut ritual minum teh merupakan perwujudan dari prinsip Zen untuk menghargai yang suci dalam kehidupan sehari-hari. Mencontoh Murata Juko, Rikyu menghilangkan semua hal yang tidak penting dari ruang minum teh juga cara persiapannya.

Dia pun kemudian mengembangkan ritual minum dengan tidak ada gerakan yang sia-sia dan tidak ada benda yang berlebihan. Daripada memakai bejana impor yang mahal di aula resepsi yang mewah, dia membuat teh di pondok jerami dengan menggunakan ketel besi sederhana.

Untuk teh digunakan wadah berpernis polos, sendok teh dan kocokan yang dibuat dari bambu, dan untuk minum teh digunakan mangkuk nasi.

Dekorasi satu-satunya dalam cha-shitsu dalam gaya Rikyu yaitu lukisan gulir gantung atau vas bunga yang diletakkan di ceruk. Karena ruangannya tidak memiliki banyak dekorasi, peserta jadi lebih fokus pada detail acaranya hingga terbangun keindahan.

Sen no Rikyu (1552 -1591) merupakan orang yang menciptakan upacara minum teh Jepang yang dikenal sekarang ini. Dia juga kenal untuk konsep kunci sei, kei, wa dan jaku.

Upacara minum teh gaya Jepang sudah menyebar di berbagai lapisan masyarakat Jepang pada akhir abad ke-16. Tempat terbaik untuk merasakan dunia teh di Jepang adalah Kyoto, Kamakura, Tokyo, dan Kanazawa

5. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan dalam Upacara

Bahan dan Alat yang Dibutuhkan dalam Upacara

Di dalam upacara minum teh Jepang dibutuhkan beberapa hal. Yang tentunya harus ada adalah tehnya. Selain itu, ada juga peralatan lainnya. Berikut ini beberapa barang yang digunakan dalam upacara minum teh tersebut:

  • Chawan yaitu mangkuk teh. Dalam upacara minum teh yang digunakan sebagai wadah minuman adalah mangkuk dan bukan cangkir. Ada beberapa mangkuk teh yang digunakan dalam upacara yang usianya lebih dari 400 tahun.
  • Chashaku yaitu sendok teh. Sendok teh ini dibuat dari bambu dan digunakan untuk memasukkan teh ke dalam mangkuk. Sendok besar dipakai untuk memasukkan teh ke dalam wadah teh.
  • Chasen yaitu kocokan. Kocokan itu berbentuk sikat digunakan untuk mencampur teh. Pengocok teh terbuat dari bambu.
  • Natsume atau cha-ire yaitu caddy the atau wadah teh. Caddy teh merupakan wadah khusus tempat menaruh bubuk teh hijau. Terdapat dua jenis caddy teh, yaitu natsume dan cha-ire. Natsume bentuknya pendek dan mempunyai tutup datar dan dasar bulat dan dibuat dari kayu. Kadang-kadang natsume disebut dengan cha-ki.

Cha-ire bentuknya tinggi dan tipis dan dibuat dari keramik. Natsume dan cha-ire dipakai dalam upacara yang berbeda. Membuat teh ringan yang disebut usu-cha dibutuhkan natsume, sedangkan untuk membuat teh kental yang disebut koi-cha dibutuhkan cha-ire.

  • Fukusa yaitu serbet. Fukusa merupakan kain persegi khusus yang dibuat dari bahan sutra. Kain ini dipakai untuk secara simbolis memurnikan sendok teh serta caddy teh.
  • Hishaku yaitu sendok. Jenis sendok yang dipakai dibuat dari bambu. Sendok ini memiliki pegangan yang panjang dan di ujungnya ada bagian yang seperti cangkir.
  • Mizusashi yaitu wadah air. Air dalam teko besi untuk memasak teh tidak diisi penuh. Untuk mengisi teko tersebut ditambahkan air dari dalam mizusashi.
  • Kensui yaitu tempat penampungan air limbah mencuci. Sebelum dan sesudah membuat teh, mangkuk teh dan pengocok dicuci. Air yang dipakai untuk mencuci kemudian dimasukkan ke dalam kensui.
  • Kama yaitu panci besi. Sebuah kama digunakan untuk menampung air panas. Selama upacara minum teh, air terus direbus menggunakan arang.
  • Matcha yaitu teh. Teh yang dipakai dalam upacara minum teh Jepang yaitu teh hijau yang dihaluskan. Teh tersebut dibuat jadi minuman saat upacara minum teh dan dimasukkan ke dalam mangkuk teh, kemudian ditambahkan air panas, dan dicampurkan menggunakan kocokan.

6. Ruangan Upacara Minum Teh

Ruangan Upacara Minum Teh

Upacara minum teh dilakukan di ruang minum teh khusus atau bangunan khusus yang dinamakan cha-shitsu. Saat upacara, kebanyakan orang memakai kimono. Saat masuk ke dalam ruangan, sepatu harus dilepas dan kemudian duduk di atas tatami, yaitu tikar khas Jepang.

Seringkali ukuran cha-shitsu sangat kecil. Para tamu yang menghadiri upacara minum teh kadang-kadang menyantap makanan dan minum sake juga. Selain itu, tamu juga akan makan makanan yang manis terlebih dulu sebelum minum teh matcha.

Tuan rumah, yaitu orang yang melakukan upacara minum teh, akan secara simbolis memurnikan mangkuk teh juga peralatan teh lainnya. Saat upacara minum selesai, tuan rumah akan membersihkan semuanya kemudian menyimpan peralatannya. Sesudahnya tamu pun pergi. Acara ini memakan waktu kurang lebih 20 menit sampai sekitar empat jam.

7. Etika Minum Teh

Etika Minum Teh

Biasanya upacara minum teh Jepang yang kecil terdiri dari 4-5 tamu dan masing-masing dibariskan berdasarkan hirarkinya. Tamu pertama dan utama yaitu shokyaku dan semua tamu mempunyai tugas khusus untuk dilakukan berdasarkan posisinya masing-masing. Shokyaku yaitu orang yang bertanya dan dia selalu sopan.

Umumnya saat seorang tamu ingin memindahkan mangkuk, mereka harus menggunakan kedua tangan harus karena lebih sopan. Tugas shokyaku adalah untuk memimpin tamu lainnya. Dia selalu meminta maaf serta membungkuk karena minum lebih dulu.

Kemudian dia akan mengambil chawan dan menyimpannya di depan lututnya. Setelah itu dia membungkuk ke teishu, tuan rumah, lalu berkata: "Otemae chodai itashimasu" yang artinya terima kasih sudah membuatkan teh.

8. Ekspresi Upacara Minum Teh

Ekspresi Upacara Minum Teh

Upacara minum teh di Jepang selalu dilaksanakan menggunakan bahasa Jepang meskipun tamunya berasal dari negara lain. Shokyaku dan teishu harus mengetahui ekspresi penting yang digunakan dalam upacara agar bisa berkomunikasi satu sama lain.

Saat upacara berlangsung, mereka hanya bertukar beberapa kata saja. Selain itu, hanya pertanyaan penting saja yang diajukan.

Teishu juga shokyaku juga harus bisa menahan diri untuk tidak membahas topik yang tidak berhubungan dengan acara minum teh agar upacara tersebut terasa lebih formal dan istimewa. Berikut ini adalah contoh beberapa ekspresi yang umum diucapkan:

  • Teishu: “Okashi wo dozo” (Silakan makan manisan)
  • Teishu: “Ippuku sashi agemasu” (Saya ingin menghidangkan semangkuk teh)
  • Teishu: “O-fukukagen wa ikaga de gozaimasuka” (Bagaimana tehnya?)
  • Shokyaku: “Otemae chodai itashimasu” (Terima kasih sudah membuatkan teh)
  • Shokyaku: “Osakini shitsureishimasu” (Maafkan saya karena mendahului Anda)
  • Shokyaku: “Mo ippuku ikaga desuka” (Apakah Anda ingin minum satu kali lagi?)

Ternyata kebiasaan minum teh di Jepang asalnya dari negeri Cina. Selain itu, upacara yang awalnya hanya untuk para biksu buddha dan bangsawan akhirnya mengalami perubahan dan bisa dinikmati oleh semua orang seperti sekarang ini.

Upacara minum teh di Jepang ini memiliki aturan khusus yang harus diikuti oleh semua partisipan. Apakah kamu tertarik untuk mengikuti acara minum teh seperti ini?

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram