9 Macam Tarian Asal Jepang Beserta Sejarah dan Maknanya

Ditulis oleh Anggie Warsito - Diperbaharui 2 Agustus 2020

Seperti Indonesia, Jepang juga termasuk negara yang mengenal tari-tarian tradisional. Tarian asal Jepang sendiri jumlahnya tergolong banyak. Tiap tariannya memiliki sejarah serta makna yang berbeda.

Jika kamu termasuk orang yang tertarik dengan budaya Jepang, mengetahui macam-macam tarian Jepang ini bisa membantumu mengenal negeri anime ini lebih dalam lagi. Berikut adalah beberapa tarian tradisional yang berasal dari Jepang.

1. Kabuki

Kabuki

Kabuki merupakan satu dari sekian tarian Jepang yang terkenal. Tarian ini sudah ada di Negeri Sakura sejak tahun 1603. Saat itu, tarian ini masihlah berwujud dramatari. Seiring berjalannya waktu, tarian ini pun berkembang dan menjadi tari kabuki yang kini dikenal masyarakat luas.

Mayoritas pelaku tari ini adalah kaum pria. Sebelum menari kabuki, para penari bakal diberi riasan yang mencolok dan mewah. Riasan itu konon menjadi faktor pembeda antara kabuki dengan tarian Jepang lainnya.

Setiap gerak tari kabuki diyakini merupakan simbol kearifan hidup, kritik sosial, dan aktualisasi diri manusia selaku makhluk hidup. Selain sebagai warisan budaya Jepang, tarian ini juga dinobatkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non-Bendawi Manusia oleh UNESCO.

2. Kasa Odori

Kasa Odori

Ciri khas utama dari tarian ini adalah penggunaan payung pada tiap penarinya. Di ujung payungnya terdapat sebuah benda kecil mirip emas yang membuatnya terlihat megah. Tarian ini konon sudah ada sejak Zaman Edo, tepatnya pada tahun 1603-1867 Masehi.

Tarian ini kini lazim dihelat pada Shan-Shan Ang, sebuah festival musim panas yang lazim dihelat di Prefektur Tottori Timur. Tari yang dilakoni pria dan wanita ini konon merupakan bentuk permintaan kepada Tuhan agar hujan segera turun.

3. Bon Odori

Bon Odori

Seperti halnya kasa odori, tarian ini juga lazim dihelat pada festival musim panas di Jepang. Ciri khas tarian ini adalah adanya penggunaan baju kimono pada tiap penarinya. Orang yang menarikan tarian ini bisa dari berbagai gender dan kalangan.

Tarian ini diyakini sudah ada sejak 600 tahun yang lalu. Setiap gerakan tarian ini konon merupakan perlambang dari gerakan tari para awah.

Pada zaman dahulu, tarian ini lazim dipakai sebagai perlindungan diri agar terbebas dari siksa neraka. Kini, tarian ini dilakoni sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

4. Noh Mai

Noh Mai

Ciri khas tarian ini adalah penarinya yang memakai topeng dan kimono. Ciri khas lainnya adalah penggunaan musik latar yang terdiri atas gendang, kecapi, dan vokal. Tarian noh mai sendiri terbagi atas beberapa jenis, yaitu:

  • Chu no mai: Merupakan jenis tarian noh mai yang relatif cepat dan lazim dilakukan oleh penari wanita.
  • Mai jo no: Merupakan tarian noh mai yang relatif lambat dan dilakukan penari wanita. Pada tarian ini, sang penari lazim memakai pakaian tertentu, entah pakaian seorang pelacur maupun seorang dewi.
  • Otoko mai: Tarian noh mai yang lazim dilakukan penari pria di mana sang penari lazim memakai topeng dan berperan sebagai tokoh pahlawan.
  • Kagura: Tarian noh mai yang dilakukan penari wanita dan merupakan salah satu jenis tarian noh mai yang paling cepat.
  • Kami mai: Mirip tarian kagura, hanya saja penari pada tarian ini adalah kaum pria.
  • Gaku: Jenis tarian noh mai yang mana gerakan sang penari mengikuti irama musik yang tengah dimainkan.

Meski memiliki sejumlah perbedaan, semua jenis tari di atas mempunyai satu kesamaaan, yaitu menggambarkan dongeng-dongeng klasik yang akrab di telinga warga Jepang. Secara sejarah, tarian ini diyakini sudah ada sejak abad ke-14.

5. Onikenbai

Onikenbai

Seperti halnya Noh Mai, tarian yang satu ini juga mengharuskan penarinya untuk memakai topeng. Dalam bahasa Inggris, tarian ini dikenal dengan nama devil’s sword dance. Nama ini dipakai lantaran penarinya yang memakai topeng dan kostum layaknya iblis.

Belum diketahui secara pasti kapan tarian ini pertama kali muncul. Tarian ini sendiri lazim dilakoni sebagai simbol pengusir roh dursila yang bersemayam dalam tanah.

Dengan mengusir roh tersebut, maka tanaman yang ditanam petani bisa tumbuh subur. Tarian ini biasanya dilanjutkan dengan satu tarian tradisional lainnya, yaitu tarian nanazumai.

6. Nanazumai

Nanazumai

Nanazumai merupakan sebuah tarian yang melambangkan siklus pertanian yang terjadi di Jepang, mulai dari fase-fase sulit, hingga fase memanen. Tarian ini dilakukan oleh tujuh penari yang masing-masing membawa tujuh alat berbeda.

Setiap alat yang dibawa merupakan representasi dari tiap fase yang ada. Seperti halnya onikenbai, asal-usul tarian ini juga belum diketahui secara pasti. Yang jelas, tarian ini sudah menjadi salah satu warisan budaya dan masih dilakoni hingga saat ini.

7. Wadaiko

Wadaiko

Ini merupakan tarian tradisional yang diiringi dengan taiko, sebuah alat musik tradisional yang bentuknya serupa drum. Dalam tarian ini, wadaiko akan dimainkan dengan sejumlah alat musik tradisional lainnya.

Tarian ini lazim dilakukan di sejumlah festival di Jepang. Hadirnya tarian ini juga tak lepas dari kehadiran alat musik taiko. Taiko sendiri sudah ada sejak zaman peperangan Jepang. Saat itu, alat musik ini sering dipakai untuk menyemangati pasukan Jepang yang ada di medan perang.

8. Arauma

Arauma

Tarian ini lazim sekali dilakukan oleh penduduk Okawadai yang tinggal di Aomori. Tarian ini sendiri dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang melimpah. Tarian ini juga dilakukan sebagai bentuk terima kasih kepada para kuda yang membantu proses pertanian mereka.

Tarian ini lazim dilakukan oleh seorang pria dan wanita. Pada tarian ini, sang pria akan berperan sebagai kuda, sedangkan pihak wanita akan berperan sebagai wanita. Keduanya lantas menunjukkan gerakan tari yang mirip dengan gerakan penduduk Okawadai saat bertani.

Keduanya juga akan meneriakkan kata "rassera" di hampir tiap gerakannya. Dalam tiap gerakannya juga para penari itu bakal ditemani oleh iringan musik yang terdiri atas taiko, cappa, dan fue. Kadangkala, kuda yang terdapat dalam tarian ini tidak diperankan penari pria, tapi diganti oleh kuda-kudaan yang terbuat dari kayu dan kain.

9. Nihon Buyo

Nihon Buyo

Ini merupakan tarian tradisional Jepang yang pertama kali diperkenalkan pada abad ke-17. Seperti beberapa tarian Jepang lainnya, penari yang melakoni tarian ini juga mengenakan kimono sebagai ciri khas utamanya.

Nihon buyo lazim diselenggarakan sebagai pertunjukkan hiburan. Para penarinya lazim melakoni tari ini di atas panggung. Setiap gerak yang terdapat dalam tarian ini cenderung lamban dan lembut, sehingga membuat penonton terenyuh dan terbawa ke dalam tiap gerakannya.

Nihon buyo lazimnya menggambarkan filosofi hidup atau kisah-kisah legenda di Jepang. Saat ini, sudah ada 200 lebih sekolah di Jepang yang mengajarkan taria ini. Lima sekolah yang ternama adalah Hanayagi-ryu, Wakayanagi-ryu, Bando-ryu, Nishikawa-ryu, dan Fujima-ryu.

Itulah macam-macam tarian Jepang beserta dengan latar belakang sejarah dan makna yang terkandung di tiap geraknya. Semoga bermanfaat buatmu, terutama untuk menambah wawasanmu soal kebudayaan Jepang.

Kalau kamu ingin menyimak semua tarian di atas, silahkan datang ke Jepang pada saat musim panas atau musim panen. Mayoritas tarian di atas biasanya dihelat pada momen-momen tersebut.

Perlu kamu ketahui juga bahwa Jepang tidak hanya kaya akan tarian tradisionalnya saja, karena Jepang juga punya sejumlah alat musik tradisional yang bisa kamu pelajari selengkapnya di artikel ini.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram