Keluyuran / Kuliner Papua / 8 Makanan Khas Papua Barat yang Unik dan Rasanya Enak

8 Makanan Khas Papua Barat yang Unik dan Rasanya Enak

Ditulis oleh - Diperbaharui 15 Januari 2020

Papua Barat adalah Provinsi di wilayah Indonesia bagian timur. Seperti daerah lainnya, provinsi ini juga memiliki berbagai hal unik yang hanya ada di tempat tersebut, seperti bahasa, pakaian, tarian, lagu daerah, senjata tradisional dan tentu saja makanan khas!

Tentunya kita semua setuju kalau makanan khas daerah menjadi salah satu daya tarik utama kita mendatangi suatu tempat, bukan? Anda tidak akan kecewa dengan masakan Papua Barat, deh! Soalnya, makanan tidak hanya sebagai daya tarik, tapi merupakan simbol budaya dari Papua, khususnya Papua Barat.

Jadi, dijamin makanannya menarik dan enak tentunya. Berikut adalah makanan khas Papua Barat yang sudah Keluyuran rangkum yang harus Anda coba saat mengunjungi daerah ini.

1. Papeda

Kalau mendengar masakan Papua, tentu kita akan langsung teringat papeda. Papeda adalah bubur sagu. Sesuai penjelasannya, papeda dibuat dari tepung sagu atau sagu fresh dari pohonnya. Papeda merupakan makanan pokok penduduk asli di Kepulauan Maluku dan juga Papua Barat tentunya. Tapi, Anda akan menemukannya juga di wilayah lainnya di Indonesia timur.

Tidak seperti nasi, membuat papeda hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Jadi, Anda tidak perlu takut kelaparan kalau ke Papua Barat, karena masakannya disediakan cepat dan hangat pula!

Untuk yang bertanya-tanya seperti apa, sih, rasa papeda itu? Sebenarnya papeda tidak ada rasanya alias hambar. Yang unik dari teksturnya saja yang kenyal-kenyal seperti mochi (tapi lebih lembut tentunya). Karena tidak memiliki rasa khusus, papeda dimakan dengan lauk lain. Biasanya papeda dinikmati dengan ikan kuah/saus kuning.

2. Sate Ulat Sagu

* sumber: ksmtour.com

Sudah bukan hal yang aneh lagi kalau warga daerah Papua mengonsumsi ulat sagu. Berbeda dengan ulat-ulat pohon lainnya, ulat sagu memang bisa dimakan. Bahkan kandungan ulat sagu tidak main-main, loh! Hewan berwarna putih dan gemuk ini mengandung 16 asam amino, 8 diantaranya ialah asam amino esensial. Lalu, kandungan protein dalam ulat sagu juga sangat tinggi.

Ulat yang gemuk ini akan memberikan energi pada tubuh kita dan kadar kolesterolnya rendah. Jadi, tak ada alasan untuk takut makan ulat sagu sebenarnya, cuma karena Anda tahu itu “ulat” dan bentuknya yang sangat “ulat sekali” dan kadang Anda mungkin ditawarkan untuk mencoba memakannya hidup-hidup, Anda jadi sudah geli duluan membayangkannya.

Kalau penduduk asli, sih, sudah biasa banget sama ulat sagu. Bahkan mereka memakan ulatnya mentah-mentah pun berani. Tapi, kita sebagai wisatawan mungkin agak mengkerut nyalinya kalaupun ditawarkan yang sudah matang, ya, hihi.

Ulat sagu hidup di pohon di mana papeda lahir, yaitu di pohon sagu tapi yang sudah lapuk. Kadang penduduk sengaja memotong batang sagu untuk membusuk, hal ini dilakukan agar ulat sagu bermunculan.

Jika Anda tidak kuat makan yang masih uget-ugetan, cobain versi yang sudah matangnya saja, yaitu ulat sagu yang ditusuk dan dibakar seperti sate. Hidangan ini disebut sebagai “koo” oleh warga lokal. Untuk mendapatkannya, Anda tidak perlu menjelajah hutan di Bumi Cendrawasih ini, kok.

Karena, ulat sagu suka dijual di pasar tradisional seperti Pasar Youtea Abepura, Jayapura. Menurut yang sudah mencoba, ulat sagu itu keras di luar tapi pecah di dalam, terus rasanya manis + asin gitu.. Mau coba?

3. Ikan Bakar Manokwari

*Sumber: https://twitter.com/jarodyudo/status/937963329573699585

Mau coba menu yang tidak seekstrim ulat sagu? Ada makanan yang namanya ikan bakar Manokwari. Untuk yang belum tahu, Manokwari adalah pusat ekonomi dan kuliner di Papua Barat. Kota ini memiliki beragam makanan yang terkenal hingga ke daerah lain. Jadi, kenapa menu makanan ini bernama ikan bakar Manokwari sudah jelas, ya.

Untuk jenis ikannya sendiri biasanya menggunakan ikan tuna atau ikan tongkol, meskipun jenis ikan lain juga bisa saja digunakan. Yang menjadi ciri khas ikan bakar Manokwari sebenarnya adalah sambalnya!

Jadi, sambalnya itu (perpaduan cabai dan rempah) yang digiling kasar, lalu ditamplokkan pada ikan bakar yang sudah matang. Makanan ini bisa Anda temukan di mana saja, mau di warung pinggir jalan, resto di bibir pantai, hingga restoran bintang 5.

4. Ikan Bungkus

Masih di dunia perikanan, nih. Jika menu sebelumnya adalah ikan bakar, kali ini ada pepes ikan. Di Papua, pepes ikan disebut sebagai ikan bungkus. Walaupun begitu, ikan bungkus memiliki beberapa perbedaan dengan pepes ikan pada umumnya.

Perbedaannya itu dapat dilihat dengan jelas dari daun pembungkus yang digunakan. Orang Papua tidak menggunakan daun pisang untuk membuat pepes, melainkan daun talas.

Untuk cara mempersiapkannya kurang lebih sama, ikan laut (biasanya ikan bandeng karena tidak mudah hancur) dan bumbu dimasukkan ke dalam daun talas. Tapi, ikan bungkus ini tidak dikukus, loh, melainkan dibakar sampai matang! Katanya, ikan bungkus ini wangi banget!

Mungkin karena perpaduan daun talas yang dibakar, serta bumbu-bumbu yang meresap ke dalam ikan, kali, ya. Untuk bumbu halusnya sendiri adalah bawang putih + merah, kunyit, cabai merah, kemiri dan ketumbar. Untuk bumbu irisnya ada cabai merah + rawit, daun salam, buah yang asam (belimbing wuluh atau tomat juga tidak apa), lengkuas dan batang serai.

5. Aunuve Habre

*Sumber: https://www.facebook.com/PeterseliKitchen

Namanya cukup sulit dilafalkan, ya? Aunuve habre adalah masakan yang terbuat dari ikan cakalang atau ikan tuna. Ikan yang digunakan dipotong dan dibungkus menggunakan daun talas yang sebelumnya sudah direbus hingga layu.

Cara memasaknya, ikan dikukus di dalam wajan berisi air garam. Untuk bumbunya sendiri sangat sederhana, sebenarnya, tapi cita rasanya sangat menggugah selera. Bumbu-bumbunya cuma asam Jawa dan garam saja, loh!

6. Udang Selingkuh

* sumber: www.genpi.co

Ternyata bukan manusia saja yang bisa selingkuh, tapi udang juga, hihi. Ini bukan mengarang saja biar nama masakannya unik, orang Papua memang menamai udang ini “udang selingkuh”.

Kenapa disebut begitu, karena capitnya menyerupai capit kepiting! Jadi, walau tidak ada bukti perselingkuhannya (hihi), udang ini dituduh selingkuh dengan kepiting, makanya diberi nama udang selingkuh. Asal-usulnya lucu, ya? Udang ini merupakan jenis udang air tawar. Biasanya mereka berkumpul di Sungai Baliem, Papua Barat.

Tak susah mencari udang selingkuh, setiap restoran seafood di Papua Barat pasti menyediakannya. Ketika disajikan, udang selingkuh biasanya sudah direbus atau digoreng dan diberi aneka saus seperti saus tiram, Padang, mentega, asam manis, dll. Tapi, warga lokal lebih sering membakarnya dan menikmatinya dengan sedikit garam sebagai penambah rasa.

7. Martabak Sagu

Martabak Sagu

* sumber: mataradar.com

Makanan selanjutnya tergolong camilan atau dessert, nih! Salah satu jajanan manis khas Papua Barat yang wajib Anda coba, yaitu martabak sagu. Memang di Papua Anda pasti akan menemukan makanan serba sagu. Asal makanan ini adalah dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Cara membuatnya, sagu dihaluskan lalu digoreng. Nanti di atasnya ditaburi dengan gula merah. Setelah matang martabaknya digulung, jadi, deh, martabak sagu! Beda sekali dengan martabak yang kita kenal, yang terbuat dari adonan tepung manis atau martabak telur yang asin.

8. Upacara Bakar Batu

* sumber: bobo.grid.id

Setiap daerah di Indonesia menyimpan keunikan tersendiri, seperti bahasa daerah, pakaian adat, makanan khas, maupun kebiasaan masyarakatnya. Kalau Anda berkesempatan bisa melihat upacara bakar batu, tak ada salahnya ikutan!

Makna dari upacara ini adalah untuk menunjukkan rasa syukur, menyambut kebahagiaan seperti kelahiran, kesedihan seperti kematian, atau untuk mengumpulkan prajurit ketika berperang. Tapi, sekarang tradisi bakar batu tak hanya dilakukan untuk itu saja, melainkan dilakukan juga untuk menyambut tamu besar dan pejabat negara.

Sebenarnya bakar batu itu adalah metode memasak suku pegunungan di Papua Barat. Nah, saat upacara ini, akan dilakukan juga memasak menggunakan batu panas. Susunan acaranya dimulai dari penyerahan babi dari setiap suku, sebagai bentuk persembahan. Lalu, ada yang menari, ada yang menyiapkan kayu dan batu untuk memasak, pokoknya setiap orang punya tugas masing-masing.

Batu yang sudah dibakar menggunakan kayu akan menjadi panas, inilah yang akan digunakan untuk memasak nanti. Tanah digali lalu diberi alas dengan daun pisang dan alang-alang, setelahnya babi pun dimasukkan dan ditutup lagi oleh daun pisang dan alang-alang. Di atasnya akan ditindih dengan batu-batu panas. Sambil memasak babi di dalamnya, aneka sayuran dan petatas (ubi jalar Papua).

Itulah beberapa makanan tradisional khas Papua Barat. Jika Anda seorang pecinta kuliner, maka Anda harus datang ke wilayah ini dan mencoba semua makanan di atas. Tentunya ada banyak makanan tradisional lain yang bisa Anda coba di kawasan ini.

Oh iya, kalau Anda tertarik dengan budaya Papua, kami juga pernah membahas soal alat musik tradisionalnya lho. Ingin tahu? Yuk, langsung kunjungi artikel Alat Musik Tradisional Papua ini.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *