4 Pakaian Adat Kalimantan Selatan yang Masih Lestari

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 17 Mei 2021

Kalimantan Selatan adalah provinsi yang jumlah penduduknya sekitar 4 juta jiwa. Suku Banjar adalah suku mayoritas di provinsi ini. Jumlah penduduknya sekitar 74% dari total keseluruhan masyarakatnya. Tak heran jika kebudayaannya pun dipengaruhi oleh suku ini. Maka kebudayaan Banjar pun jadi ikon utama Kalimantan Selatan.

Salah satu bentuk pengaruh dari budaya suku Banjar terlihat pada pakaian adat Kalimantan Selatan. Namun, tak hanya suku Banjar saja, budaya Kalimantan Selatan juga dipengaruhi oleh budaya dari suku-suku yang tinggal wilayah tersebut. Bahkan, ada agama tertentu yang ikut mempengaruhi budaya provinsi ini. Seperti apa pakaian adat Kalimantan Selatan? Simak ulasannya berikut ini ya!

1. Babaju Kun Galung Pacinan

Babaju Kun Galung Pacinan

Pakaian adat Kalimantan Selatan yang seringkali dipakai oleh pengantin ini adalah perpaduan dua budaya, yaitu budaya Timur Tengah dengan Cina. Perpaduan unik ini menghasilkan pakaian adat yang terlihat mempesona.

Dipopulerkan pada sekitar abad ke-19, pakaian pengantin khas Kalimantan Selatan ini mempunyai beberapa warna yang unik. Tambahan detail yang menawan menjadikan pakaian adat Kalimantan Selatan ini begitu berbeda dan berkesan yang indah.

Dengan hanya melihat pakaian adat ini akan nampak jelas perpaduan dua budaya tersebut. Mempelai pria memakai kopiah alpe lengkap dengan baju gamis serta jubah yang terlihat seperti pakaian pedagang Gujarat saat membawa Islam ke wilayah nusantara.

Kopiah alpe ini akan diberi lilitan surban. Selain itu, bisa juga memakai tanjak laksamana. Pada bagian lehernya, pengantin pria akan mengenakan roncean bunga melati. Sementara alas kakinya adalah berupa selop.

Untuk mempelai perempuan, pakaian yang dikenakan berupa kebaya gaya cheongsam yang berlengan panjang. Kebaya ini untuk perempuan juga diberi jahitan indah serta payet yang sengaja memakai benang emas. Payet tersebut dibentuk menjadi bunga teratai.

Cara memakai pakaian ini dipadukan bersama dengan rok panjang yang diberi hiasan manik-manik juga. Tak hanya ada hiasan manik-manik, pakaian tersebut juga diberi sulaman yang bermotif yang ada kaitannya dengan tirai bambu.

Untuk pengantin perempuan pada bagian kepala memakai mahkota yang indah. Mahkota tersebut berhiaskan permata yang berkilau serta kembang goyang lengkap dengan tusuk konde yang bentuknya huruf Arab, yakni hurf Lam dan burung hong. Pengantin pun terlihat lebih cantik.

2. Baamar Galung Pancaran Matahari

Baamar Galung Pancaran Matahari

Pakaian adat ini merupakan baju pengantin yang paling disukai oleh kebanyakan penduduk Banjar, Kalimantan Selatan. Nama pakaian adat Kalimatan Selatan ini adalah Baamar galung pancaran matahari. Nama itu merupakan nama perhiasan kepala yang dikenakan oleh pengantin wanita.

Penggunaan pakaian ini di kalangan masyarakat Banjar mulai berkembang sejak abad ke-19. Mempelai pria memakai kemeja berwarna putih berlengan pendek. Di bagian dadanya terdapat hiasan renda yang menutupi semua kancing. Lalu dilengkapi dengan pemakaian jas terbuka yang tanpa kancing.

Pengantin pria juga memakai pantalon yang bahan serta warnanya sama dengan jas. Ditambah dengan pemakaian sabuk berhias air guci bermotif lelipan yang merupakan simbol kekuasaan serta kemuliaan.

Kepala pengantin pria dibalut dengan destar model siak Melayu yang segitiganya lebih tinggi. Terdapat berbagai hiasan di bagian depan. Hiasan tersebut diikat pada bagian belakang memakai buhul lam jalalah. Adapun pengikat adalah tali wenang yang berupa kain berwarna.

Untuk perhiasannya yaitu samban, kalung panjang bogam, kalung bermotif bunga-bungaan, serta liris-liris bunga. Kemudian diselipkan di pinggang keris berhiaskan bogam dengan motif bunga merah. Sementara mempelai wanita memakai baju poko dengan lengan pendek yang ditutupi kida-kida.

Apa itu kida-kida? Ini adalah mantel sempit dengan hiasan yang fungsinya untuk menutup dada. Selain itu, mempelai wanita juga memakai sarung serta penutup pinggang atau tali gapu yang berhiaskan air guci.

Mempelai wanita rambutnya disanggul model amar galung yang bertahtakan mahkota serta dihias dengan kembang goyang. Mahkota tersebut dibuat dari pending emas yang bertahtakan permata. Hiasan lain pada rambut, yaitu boquet disertai pita rambut.

Selain itu, diberi juga bunga melati yang ditata berbaris, dan untaian bunga depan serta belakang. Tambahan lain untuk mempelai wanita yaitu kerabu manguyun, untaian metalik, kalung, dan untaian bunga berwarna keemasan.

Aksesori lainnya yaitu cincin yang dibentuk dari warna bunga mayang, bunga jepun dengan bentuk jepitan, sabuk pinggang berwarna emas, dan bangle. Bangle dikenakan pada lengan atas serta pergelangan kaki. Bangle dibuat dari karet yang berbentuk lekuk akar maupun iris buncis.

Sebagai alas kaki untuk pengantin adalah selop beludru yang bersulam benang emas. Pasangan pengantin ini kemudian disandingkan di batatai yang sudah dipenuhi dengan rangkaian daun sirih, bunga melati, dan bunga mawar merah.

3. Babaju Kubaya Panjang

Babaju Kubaya Panjang

Ada lagi pakaian adat Kalimantan Selatan yang lainnya. Pakaian ini sudah mengalami modifikasi dari yang aslinya. Nama pakaian ini adalah babaju kubaya panjang. Selain nama itu, baju adat ini juga kerap disebut dengan sebutan banjar baamar galung modifikasi.

Pakaian adat Kalimantan Selatan ini dimodifikasi agar tampilannya lebih banyak disukai orang dan tentunya untuk mengikuti perkembangan zaman. Walaupun sudah mengalami modifikasi, tapi pakaian ini tetap masih memiliki unsur-unsur asli khas baamar galung.

Misalnya pakaian untuk pria, baju yang dipakai masih tetap pakaian yang sama seperti pakaian adat baamar galung pancar matahari. Sebenarnya, modifikasi pakaian adat tersebut dilakukan pada pakaian adat perempuan yang asalnya berbentuk baju koko menjadi berbentuk kebaya panjang.

Inilah mengapa pakaian tersebut namanya berganti menjadi kubaya panjang. Modifikasi lainnya ditemukan juga pada pengantin perempuan yang ingin memakai hijab.

Tentunya hal tersebut diperbolehkan juga mengingat tujuan modifikasi yaitu agar menyesuaikan dengan perkembangan zaman ataupun aturan-aturan tertentu. Meskipun beberapa perempuan ada yang memakai jilbab, tapi mahkota pada pakaian adat ini tidak dihilangkan.

Selain itu, aksesoris-aksesoris lainnya yang dikenakan pada baamar galung pancar matahari masih tetap dikenakan pada babaju kubaya panjang.

Aksesoris itu meliputi ronce bunga melati serta mawar. Hiasan berupa ronce tersebut sudah jadi bagian dari baju-baju adat di daerah Banjar. Dengan demikian, modifikasi yang dilakukan pada pakaian tersebut masih memakai unsur-unsur identitas aslinya.

4. Bagajah Gamuling Baular Lulut

Bagajah Gamuling Baular Lulut

Pakaian adat Kalimantan Selatan ini mempunyai nama yang unik. Biasa dikenakan sebagai pakaian pernikahan. Walaupun dikenakan untuk kedua mempelai, kedua baju tersebut mempunyai model yang tak sama.

Biasanya pengantin laki-laki tidak menggunakan baju, tapi juga bisa memakai pakaian lengan pendek dengan hiasan manik-manik pada bajunya. Hiasan ini membuat pakaian jadi berkilau juga memberikan kesan mewah. Pakaian ini juga tak diberi kerah dan dapat padankan dengan celana panjang.

Untuk tambahan aksesoris dapat diberi kalung samban, ikat pinggang, kain yang motifnya kelapang, serta penutup kepala. Umumnya penutup kepala ini bentuknya melingkar layaknya ular lidi dan fungsinya sebagai mahkota.

Sedangkan untuk mempelai perempuan memakai kemben dan pada bagian dada ditutup dengan tambahan selendang. Jangan lupa juga hiasan kepala yang berbentuk konde dan ikat pinggang. Kondenya biasanya diberi hiasan dengan mahkota, kuncup bunga melati serta kembang goyang.

Untuk bagian bawah, pengantin perempuan akan mengenakan rok dari kain panjang dengan motif halilipan. Bagajah Gamuling Baular Lilit adalah pakaian untuk pengantin yang dipenuhi dengan bunga melati serta mawar yang memberikan kesan cantik juga segar dengan bunga hidupnya.

Perkembangan zaman tak bisa dihindarkan lagi. Terkadang ikut menggerus budaya tradisional. Untungnya orang-orang masih peduli dengan peninggalan budaya ini. Misalnya seperti pakaian adat Kalimantan Selatan ini.

Agar bisa bertahan terhadap gerusan zaman, masyarakat melakukan memodifikasi pada pakaian adat Kalimantan Selatan tapi dengan tetap memakai unsur budaya aslinya. Ini tentunya layak untuk diapresiasi sebagai salah cara untuk melestarikan kebudayaan supaya tidak hilang.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram