9 Pakaian Adat NTB yang Cantik dan Penuh Warna

Saat mendengar kata Nusa Tenggara Barat, maka pikiran kita akan menerawang jauh ke pantai-pantainya yang indah. Tetapi keindahan dari Nusa Tenggara Timur tidak hanya alam saja yang indah, tetapi budayanya juga sangat indah, satu di antaranya adalah pakaian adat yang mereka miliki.

Pakaian adat mereka juga kaya akan ragam kain tenunnya, yang juga memiliki beragam fungsi dan arti. Kain tenun dari setiap sukunya juga memiliki beragam motif yang indah. Berikut ini adalah ulasan beragam pakaian adat dari NTB yang juga menggunakan kain tenun sebagai bahan pakaiannya.

1. Pakaian Adat Lambung 

Pakaian Adat LambungSumber: infobudayaindonesia.com

Pakaian adat lambung merupakan pakaian adat yang digunakan oleh suku Sasak dari NTB. Lambung adalah pakaian adat yang dikenakan oleh wanita. Pakaian ini dikenakan pada saat menyambut kedatangan tamu di upacara adat, dan dipadu dengan beberapa aksesoris pelengkap pakaian.

Pakaian atasan yang dikenakan oleh wanita  seperti baju bodo berlengan pendek, dengan kerahnya berbentuk V. Atasan hitam ini dipadukan dengan selendang atau lempot yang berbahan kain tenun. Sedangkan bawahannya menggunakan menggunakan kain sarung hitam dengan motif flora.

Aksesoris yang dikenakan pada busana suku Sasak berupa sepasang gelang tangan dan juga dari perak. Lalu ada juga anting-anting yang terbuat dari daun lontar. Pada bagian pinggang terdapat sabuk anteng yaitu ikat pinggang untuk mengencangkan sarung dengan menyisakan juntaian di samping.

2. Baju Adat Pegon 

Baju Adat PegonSumber: setkab.go.id

Pakaian yang satu ini juga merupakan pakaian adat suku Sasak  yang biasa dikenakan oleh kaum pria. Pakaian ini juga pernah dikenakan oleh presiden Joko widodo dalam sidang tahunan MPR tahun 2019. Pakaian pegon merupakan busana akulturasi dari budaya Jawa dan juga Eropa.

Penggabungan dua budaya ini dianggap sebagai lambang kesopanan dan keagungan. Baju pegon biasanya berwarna hitam polos dengan pola jas. Pakaian ini biasanya dipadukan dengan songket   yang menggunakan benang emas yang diikat pada bagian pinggang tempat diselipkannya sebuah keris.

Busana pegon biasanya dilengkapi hiasan kepala berupa ikat kepala yang bernama sapuk. Ikat kepala ini merupakan perlambang kejantanan, dan juga menjaga kebersihan pikiran. Selain itu ada juga selendang yang hanya digunakan oleh pemangku adat sebagai lambang kebijakan  dan kasih sayang.

3. Pakaian Adat Rimpu

Pakaian Adat RimpuSumber: linafachrunia.student.umm.ac.id

Pakaian adat rimpu merupakan pakaian adat yang berasal dari dari suku Mbojo yang mendiami daerah Bima. Pakaian ini sangat kental dengan nuansa Islam, terutama yang dikenakan oleh kaum wanitanya. Pakaian rimpu sendiri memiliki dua jenis yaitu rimpu mpida dan juga rimpu colo.

Rimpu adalah busana yang menggunakan sarung sebagai bahan pakaiannya. Rimpu colo biasanya digunakan oleh orang yang sudah menikah. Sedangkan rimpu mpida digunakan oleh wanita yang masih lajang, dengan bagian depannya menyerupai cadar dengan hanya menyisakan untuk mata saja.

Saat ini pemakaian rimpu hanya digunakan dalam upacara kebudayaan, tak lagi digunakan dalam kehidupan keseharian. Saat ini sudah terdapat kerudung yang dapat mereka gunakan sehari-hari.  Sarung yang biasa digunakan merupakan sarung dengan motif kotak-kotak  dengan warna mencolok.

4. Pakaian Adat Katente Tembe

Pakaian Adat Katente TembeSumber: twitter.com

Katete tembe merupakan istilah untuk pakaian yang dikenakan oleh kaum pria dari suku Mbojo dari daerah Bima. Pakaian dari kaum pria ini menggunakan dua buah kain sarung. Kain sarung tersebut digunakan seperti sarung hingga menutup lutut, sedangkankan satunya digunakan sebagai selendang.

Sarung yang digunakan sebagai selempang bahu biasa disebut dengan istilah saremba. Pakaian ini melambangkan ketaatan dalam beribadah dan juga lambang kerja keras. Pakaian ini tak hanya digunakan oleh masyarakat Bima tapi juga dikenakan oleh kaum pria dari masyarakat Dompu.

5. Pakaian Adat Suku Bayan

 Pakaian Adat Suku Bayan

Suku Bayan merupakan suku yang tinggal di daerah Lombok Utara. Mereka memiliki pakaian adat yang disebut dengan tenun Bayan, kain tenun ini merupakan hasil karya dari masyarakat Bayan sendiri. Kain tenun pada masyarakat Bayan memiliki  beberapa jenis dan juga  serta siapa saja penggunanya.

Satu contoh adalah kain tenun lodong abang, merupakan jenis kain tenun yang memiliki warna dasar merah muda dengan hiasan berupa garis hitam dan kuning. Orang yang menggunakannya adalah Kiayi Adat Bayan, serta perempuan dari golongan bangsawan dan juga keturunan Kiayi Adat Bayan.

Selain itu masih banyak lagi jenis dari kain tenun bayan ini. Pakaian adat ini biasa digunakan untuk kegiatan upacara adat. Pakaian pada pria dan wanita keduanya sama-sama menggunakan ikat kepala, ikat pinggang dan juga selendang dengan jenis-jenis kain tenun yang sesuai peruntukannya.

6. Pakaian Adat Poro

Pakaian Adat PoroSumber: facebook.com

Baju poro merupakan pakaian adat yang dikenakan oleh masyarakat Bima yang dikenakan oleh kaum wanita. Pakaian ini sendiri merupakan baju polos dengan bahan yang tipis tetapi tidak menerawang. Ada pembagian warna dari baju poro sesuai dengan siapa yang mengenakannya.

Baju dengan warna gelap seperti hitam, coklat, biru tua, dan ungu dikenakan oleh para ibu. Sedangkan untuk para gadis mengenakan baju berwarna merah. Sedangkan warna kuning  dan hijau merupakan warna pakaian yang biasa digunakan oleh keluarga bangsawan.

Bawahan dari baju poro biasanya menggunakan kain sarung  palekat dengan motif kotak-kotak yang menutup mata kaki. Pada kaum pria biasanya mengenakan kemeja lengan pendek dengan bawahan sarung pekat dengan hiasan berupa ikat pinggang dan juga pisau khas Bima yaitu pisau mone.

7. Pakaian Adat Poro Rante dan Pasangi

Pakaian Adat Poro Rante dan PasangiSumber: facebook.com

Pakaian yang satu ini merupakan pakaian khas yang digunakan pada upacara adat pernikahan pada masyarakat Bima. Pakaian yang dikenakan oleh wanita berupa pakaian berwarna merah dengan hiasan cepa atau bunga emas pada permukaan bajunya. Bawahannya berupa sarung dari songket.

Aksesoris yang digunakan berupa pasapu atau sapu tangan, anting-anting, dan juga gelang. Pada rambut yang disanggul diberi hiasan keraba dan wange. Sedangkan kaum pria mengenakan pakaian yang dikenal dengan nama pasangi, baju berlengan panjang dengan warna hitam, coklat atau merah.

Pakaiannya juga dihiasi ornamen dari benang emas. Sedangkan bawahannya mengenakan celana panjang yang disebut sarowa dondo. Celananya dipadu dengan sarung songket yang dihiasi dengan sebilah keris di sebelah kiri depan yang diselipkan pada ikat pinggang besar.

8. Pakaian Adat Suku Donggo

Pakaian Adat Suku DonggoSumber: folder.warungfiksi.net

Suku Donggo merupakan suku yang mendiami daerah pegunungan di daerah Bima. Mereka juga memiliki pakaian tradisional yang khas dari suku Donggo. Ciri yang paling khas adalah warna dari pakaiannya yang didominasi oleh warna hitam untuk seluruh pakaiannya.

Pakaian dari suku Donggo terbuat dari benang katun yang berwarna hitam. Pakaian pada kaum wanita yang telah dewasa disebut dengan kababu yaitu baju pendek sederhana. Sedangkan untuk bawahannya mengenakan celana panjang disebut deko dan juga kain sarung berwarna hitam.

Pakaian para pria berupa baju berkerah yang memiliki warna hitam atau biru tua. Pelengkap dari pakaiannya berupa ikat kepala yang disebut sambolo dan juga mengenakan salongo atau ikat pinggang. Pada pria pelengkap dari pakaiannya berupa pisau mone yang diselipkan di pinggang.

9. Pakaian Adat Suku Sumbawa

Pakaian Adat Suku SumbawaSumber: fajar.co.id

Pakaian dari suku sumbawa juga tidak lepas dari penggunaan kain songket. Songket yang dibuat dari benang emas ini diberi nama kere’alang. Pakain adat sumba yang dikenakan oleh wanitanya berupa baju pendek, sedangkan untuk bawahannya berupa sarung songket dengan motif kotak-kotak.

Pada kaum lelaki pakaian yang dikenakan berupa jas lengan panjang yang disebut lamung. Bagian bawahannya mengenakan celana panjang yang disebut dengan saluar belo. Celana panjang ini dipadu dengan kain songket, serta ikat kepala atau sapuk dibuat dari tenun khas Sumbawa.

Itulah ulasan dari pakaian adat khas dari Nusa Tenggara Barat. Setiap bajunya yang ada mungkin saja sudah tidak dikenakan lagi dalam keseharian, tetapi masih biasa digunakan saat ada acara peresmian atau juga dalam upacara adat. Walau begitu memelihara ada budaya juga penting sebagai identitas suatu bangsa.

Pakaian-pakaian yang ditunjukan merupakan harta warisan negara kita yang menunjukan keanekaragam budaya kita yang kaya. Busana ini tak hanya sekedar pakaian yang kita gunakan saja, tetapi ada nilai-nilai filosofis dan juga kearifan lokal yang senantiasa harus kita lestarikan.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram