Mengenal Pakaian Adat Palembang yang Unik dan Penuh Makna

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 24 Maret 2021

Pakaian adat Palembang adalah satu dari sekian banyak pakaian adat kebanggan Indonesia. Ia berfilosofi dan bermakna yang cukup dalam bagi kehidupan. Salah satu pakaian adat dari Sumatera Selatan ini biasa dikenakan dalam upacara adat pernikahan. 

Warna dominan pada pakaian adat khas Palembang adalah merah dan emas. Dua warna tersebut juga memiliki ajaran, harapan serta filosofinya tersendiri. Ketika memakai pakaian adat tersebut, kedua mempelai harus pula memakai beberapa elemen atau aksesori lain yang sama bermaknanya. Bagaimana lengkapnya? Mari simak uraian berikut ini!

Sejarah Palembang

Sejarah Palembang

Palembang merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Selatan dengan luas kedua terbesar di Pulau Sumatera setelah Medan, yaitu 400,61 Km2. Sama seperti sebagian besar wilayah Indonesia lain, Palembang memiliki sejarah panjang yang melahirkan banyak sekali budaya serta adat istiadat. 

Kota yang terkenal dengan Jembatan Amperanya ini dahulu pernah berstatus sebagai ibu kota kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara. Bisa menebak kerajaan apa yang dimaksud? Ya! Kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke 9, Kerajaan Sriwijaya menguasai Semenanjung Malaya dan seluruh nusantara. Oleh karena itu dikenal istilah Bumi Sriwijaya.

Setelah penyerangan yang dilakukan Rajendra Chola dari Kerajaan Chola pada tahun 1025, Kerajaan Sriwijaya tidak lagi berjaya. Kerajaan Chola sendiri merupakan salah satu kerajaan terkuat di India Selatan yang dipimpin oleh Dinasti Chola.

Semenjak itu, Kerajaan Sriwijaya berubah jadi kota pelabuhan biasa. Sejarah berlanjut pada 1659 ketika Palembang menjadi kesultanan yang dipimpin oleh Sri Susuhunan Abdurrahman. Namun, kesultanan tersebut dihapuskan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Palembang pun terbagi menjadi dua keresidenan, yakni kawasan Ulu dan Ilir. Kota yang terkenal dengan makanan khas berupa Pempek ini hingga sekarang (2020) sudah berusia 1337 tahun. Berkat itu, ia dijuluki sebagai kota tertua di Indonesia. 

Pakaian Adat Palembang

Pakaian Adat Palembang
*

Bicara mengenai sejarah panjang Palembang, tidak lengkap jika tanpa membicarakan budayanya. Salah satu yang menarik untuk dibincangkan adalah pakaian adat Palembang. Pasalnya, pakaian adat masih banyak digunakan dalam pernikahan khas Palembang. Di antara produk budaya yang lain, ia salah satu yang masih terus dilestarikan. 

Pakaian adat Palembang sangat khas dengan warna merah yang mencolok. Pakaian penuh makna dan filosofi ini mudah ditemui di acara-acara pernikahan yang masih mengusung konsep tradisional. Namun, tahukah Anda bahwa pakaian adat Palembang dibedakan menjadi dua macam? Berikut penjelasannya lebih lanjut!

1. Aesan Gede

Aesan Gede
*

Aesan dalam bahasa Palembang berarti pakaian, jadi bila diartikan secara sederhana, Aesan Gede bermakna pakaian besar, yaitu pakaian yang melambangkan kebesaran. Kebesaran yang dimaksud mengacu pada kebesaran nama Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Sebagai pakaian kebesaran Kerajaan Sriwijaya, Aesan Gade juga memiliki filosofi swarnadwipa yang bermakna pulau emas. Pasalnya, Aesan Gede dibuat dengan aksen berupa sulaman berwarna emas di hampir seluruh bagian.

Aksesori yang digunakan ketika mengenakan Aesan Gede menambah kesan bahwa baju ini memang merupakan baju kebesaran yang megah dan mewah, seperti songket, mahkota, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan dan baju dodot. Serangkaian Aesan Gede sangat pas dipakai untuk acara-acara kebesaran atau pernikahan.

Elemen-elemen Aesan Gede untuk mempelai wanita dipisahkan menjadi beberapa bagian, yaitu bagian kaki, badan, tangan dan kepala. Untuk bagian tangan dan kaki, mempelai wanita harus memakai Gelang Kulit Bahu yang berbentuk belah ketupat dengan hiasan berupa bunga melati di tengahnya.

Selanjutnya dia akan dipakaikan Gelang Sempuru yang berbentuk bulat pipih terbuat dari kuningan atau lapisan emas. Lanjut menggunakan Gelang Ulo Betapo yang bentuknya bulat dilengkapi ornamen ular melingkar. Setelah itu jangan lupa harus memakai Gelang Gepeng yang berbentuk bulat tipis berhias bunga serta tumbuhan.

Naik ke bagian badan, mempelai wanita harus mengenakan Taratai yakni penutup dada dan Kalung Kebo Munggah. Kalung berornamen kepala kerbau tersebut terdiri atas tiga susun. Taklupa pakaikan Songket Lepus yaitu sejenis kain yang ditenun menggunakan benang emas dan bermotif tumpal. 

Bagian selanjutnya yang takkalah penting adalah kepala. Kepala mempelai wanita dihiasi oleh Bungo Rampai, yaitu hiasan berbentuk bunga cempaka bertangkai yang terbuat dari emas. Kemudian ada Gandik atau seperti ikat kepala yang bahannya khusus terbuat dari kain beludru berwarna merah. Di bagian atas Gandik dihiasi bunga melati.

 Setelah itu pakaikan Gelung Malang yang berbentuk sanggul lengkap dengan rangkaian bunga melati dan mawar. Ada lagi Tebeng Malu yang dipakaikan di samping telinga mempelai wanita. Tebeng Malu biasanya berbentuk bulat dan berwarna-warni.

Apakah selesai? Belum! Terakhir mempelai wanita harus mengenakan mahkota berhiaskan melati dengan batu permata di bagian tengah bernama Kesuhun. Taklupa dia juga harus menggunakan Kelapo Standan, hiasan berbentuk segitiga dari emas dengan hiasan berupa bunga dan tangkainya.  

Bagaimana dengan mempelai pria? Secara garis besar, aksesori atau elemen tambahan yang dipakai hampir sama dengan mempelai wanita. Seperti Tebeng Malu, Kalung Kebo Munggah, Gelang Kulit Bahu dan beberapa gelang lain. Bedanya pengantin pria mengenakan celana berupa Celano Sutra yang berbahan sutra bermotifkan Ukel.

2. Aesan Paksangko

Aesan Paksangko
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=dFE78yot6vo

Bila Aesan Gede melambangkan kebesaran, Aesan Paksangko memperlihatkan keanggunan. Mempelai pria yang menggunakan Aesan Gede harus memasangkan atau memakai elemen-elemen dalam busana yang sudah menjadi tradisi. Seperti Songket Lepus Sulam Emas, Selempang Songket, Seluar dan Songkok Emas yang dipakai di kepala.

Mempelai wanita juga memiliki kewajiban yang sama, yaitu mengenakan semua elemen busana pelengkap Aesan Paksangko. Seperti baju dodot (baju kurung berwarna merah) yang penuh dengan bintang emas dan Tengkupan Terate Dada atau penutup dada. Pada Aesan Gede dan Aesan Paksangko, kedua mempelai pria dan wanita menggunakan alas kaki yang disebut Cenela

Selain itu, pada mahkota yang digunakan mempelai wanita saat memakai Aesan Paksongko kita akan melihat pengaruh dari akulturasi budaya Tionghoa sejak berabad lalu di Bumi Sriwijaya. Penggunaan kain songket dalam pakaian adat Palembang juga tidak kalah menarik perhatian sebab kecantikannya.

Kain songket yang digunakan merupakan kain songket khas Sumatera Selatan yang ditenun menggunakan benang emas. Benang tersebut disusun menjadi sebuah pola atau motif seperti motif tretes midar, bunga pacik, jando beraes, bunga inten, pulir biru, kembang suku hijau, bungo cino dan lepus.

Warna Merah Penuh Filosofi

Warna Merah Penuh Filosofi
*

Pakaian adat Palembang didominasi oleh warna merah dengan aksen emas. Tapi tahukah Anda bahwa warna merah pada pakaian tersebut memiliki filosofi yang berasal dari sebuah manggis? Menurut seorang pengamat sejarah dari UIN Raden Fatah, buah manggis menyimbolkan kejujuran. 

Buah manggis tidak pernah berbohong mengenai jumlah isi di dalamnya. Itu semua bisa diketahui dengan menghitung bagian yang menonjol berbentuk bunga yang bisa dilihat di bawah buah. Ajaran seperti itu sudah ditanamkan sejak masa Kerajaan Sriwijaya.

Ditambahkan bahwa walau buah manggis berwarna gelap, daging buah di dalamnya berwarna putih bersih. Rasanya juga manis saat buah tersebut sudah benar-benar matang. Maknanya, orang yang terlihat gelap di luar bukan satu ukuran, karena buah manggis pun kulitnya hitam tapi dagingnya putih. 

Aksesori Turut Punya Makna

Aksesori Turut Punya Makna
*

Sekian banyak elemen atau aksesori tambahan dalam pakaian adat Palembang bukan hadir tanpa filosofi. Semua itu tidak sembarangan dipakai melainkan memiliki makna dan harapan. Taratai atau terate misalnya, elemen yang digunakan sebagai penutup dada mempelai pria dan wanita tersebut bermakna do’a semoga kedua penganti memiliki ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi apa pun.

Motif geometris abstrak pada kain songket juga bermakna ketertiban, keramahan, saling menghormati antara sesama masyarakat Palembang. Sementara motif tumpal dan garis pada kain dodot adalah simbol bahwa kedua pengantin adalah bagian dari kehidupan sosial bermasyarakat.

Alas kaki kedua pengantin yaitu Cenela juga tidak luput dari makna, yaitu bahwa ketika melangkah dalam kehidupan harus memiliki pelindung berupa agama. Makna yang baik juga tersemat pada Kalung Kebo Munggah, yakni kesuburan serta penangkal hal-hal jahat yang akan menimpa.

Gelang Gepeng yang dipakai dua mempelai juga bermakna rasa persatuan, harapan dapat menjaga kerukunan serta saling menguatkan. Terakhir adalah mahkota. Pada pengantin pria dan wanita, mahkota memiliki filosofi berbeda tapi maknanya sama-sama indah.

Pada pengantin perempuan, mahkota bermakna asal kehidupan, penghormatan dan penghargaan serta dianggap sebagai jalan kelahiran. Ia juga menyimbolkan sifat-sifat keibuan dan kelembutan. Sementara pada pria, mahkota bermakna berani, baik dalam memimpin keluarga atau bermasyarakat.

Simbol serta filosofi tidak bisa lepas dari pakaian adat Palembang beserta aksesori atau elemen-elemennya. Ia lahir dari kebudayaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Setuju bukan pakaian adat dari Palembang ini juga cantik dan mewah? Apakah Anda ingin mencoba mengenakannya?

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram