4 Pakaian Adat Sulawesi Tengah yang Indah & Memesona

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 4 Juni 2021

Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah bagian di Pulau Sulawesi. Ibu kota provinsinya yaitu Kota Palu. Berdasarkan luas wilayah, Sulawesi Tengah merupakan yang paling besar dibandingkan wilayah bagian lain di Sulawesi, yaitu 61.841.29 Km2.  Dengan luas yang demikian, jangan heran jika Sulawesi Tengah dihuni oleh banyak sekali etnis.

Setidaknya ada sekitar 19 jumlah etnis yang mendiami Sulawesi Tengah, di antaranya Etnis Kaili, Etnis Mori, Etnis Saluan, Etnis Tolitoli, Etnis Bungku, Etnis Mamasa, Etnis Banggai, Buol, Dondo, Pendai, Lore, Pamona dan Balantak. Sekian banyak etnis yang ada di Sulawesi Tengah, secara otomatis melahirkan banyak adat istiadat dan kebudayaan.

Salah satu produk kebudayaan yang dimaksud adalah pakaian adat atau baju tradisional. Pakaian adat Sulawesi Tengah terdiri atas empat macam. Masing-masing merupakan kebanggaan etnis yang ada di sana. Secara luas, ia juga menjadi kebanggaan Indonesia karena merupakan warisan yang tidak bisa ditemukan di daerah mana pun. Ingin tahu lebih lanjut mengenai jenis-jenis pakaian adat Sulawesi Tengah? Simak ulasannya berikut ini!

1. Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku Kaili

Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku KailiSumber: instagram.com

Pakaian adat Sulawesi Tengah yang pertama merupakan pakaian adat dari Suku Kaili. Suku Kaili menempati sebagian besar Sulawesi Tengah, tidak heran jika pada beberapa kesempatan, baju adat mereka kerap mewakili Sulawesi Tengah. Pakaian adat Suku Kaili dipakai oleh laki-laki dan perempuan.

Baju tradisional Suku Kaili untuk laki-laki, disebut Koje dan Puruka Pajana. Koje mengacu pada baju atasan berupa kemeja lengan panjang dengan kerah tegak sedangkan Puruka Pajana adalah sebutan untuk bawahan berupa celana panjang.

Sementara itu, baju tradisional Suku Kaili untuk perempuan disebut Baju Nggembe. Baju ini berupa pakaian lengan panjang dan berkerah bulat. Baju Nggembe biasanya dilengkapi juga dengan kain penutup dada yang dihias menggunakan payet atau manik-manik. Baju ini dipakai dengan sarung tenun Donggala sebagai bawahan.

Bawahan yang dipakai dinamakan Buya Sabe Kumbaja. Ia berupa rok panjang berpotongan lebar atau mekar. Sisa kain sarung tenun Donggala yang dipakai, dibiarkan menjuntai sebagai hiasan dan dapat mempercantik penampilan.

Pakaian adat Sulawesi Tengah Suku Kaili juga dilengkapi dengan beberapa aksesori, yaitu sarung yang dipakai oleh laki-laki, keris yang diselipkan di pinggang dan topi atau menurut kebiasaan masyarakat setempat disebut juga siga. Pada perempuan aksesori yang digunakan antara lain dali taroe atau anting panjang, ponto date atau gelang, gemo atau kalung, sampo dada atau penutup dada dan pende atau ikat pinggang yang biasanya dibuat dari emas.

2. Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku Saluan

Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku SaluanSumber: instagram.com

Suku Saluan merupakan sebutan bagi masyarakat yang berdiam di Kabupaten Banggai. Mereka mendapat sebutan khusus yakni orang Loinang. Sama seperti pakaian adat pada umumnya, pakaian adat Saluan dibedakan menjadi pakaian yang dipakai laki-laki dan perempuan. Sebutan untuk keduanya pun berbeda.

Pakaian Saluan yang dipakai oleh kaum lelaki disebut juga dengan istilah pakean nu’moane, sementara untuk pakaian bagian bawah berupa celana panjang dikenali dengan nama koja. Tak lupa menggunakan aksesori tambahan berupa penutup kepala yang disebut sungkup nu’ubak serta lipa atau sarung.

Lalu, bagaimana dengan pakaian adat Saluan untuk perempuan? Pakaian adat untuk perempuan dari Suku Saluan disebut juga nu’boune. Pada umumnya, nu’boune berupa blus lengan panjang berwarna kuning cerah dengan akses manik-manik berbentuk bintang di bagian dada. Sebagai bawahan, mereka biasa menggunakan rok yang dinamakan mahantan.

Rok mahantan memiliki panjang hingga mata kaki. Warna rok ini cukup cerah, yaitu merah jambu lengkap dengan corak belang. Sementara itu, tak ketinggalan pula penggunaan aksesori berupa kalong atau kalung, sunting atau anting-anting, potto atau gelang dan salandoeng atau selendang.

3. Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku Mori

Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku MoriSumber: instagram.com

Setelah terpesona dengan kecantikan dua baju tradisional di atas, Anda pasti akan kepincut oleh warna merah menyala pada pakaian adat Sulawesi Tengah dari Suku Mori. Oleh masyarakat setempat, baju adat ini dikenali juga dengan nama lambu; baik yang dipakai laki-laki atau perempuan.

Pakaian adat Mori pada pria berupa blus lengan panjang berwarna merah yang dihiasi dengan motif rantai warna kuning. Blus ini dilengkapi dengan celana panjang warna senada yang disebut salura, sementara untuk aksesorinya para pria akan mengenakan penutup kepala, sembengko atau selempang dan metampi ponal atau sarung serta pedangnya.

Baju adat Suku Mori untuk wanita juga berwarna merah menyala. Bentuknya pun kurang lebih sama yaitu blus lengan panjang yang dihiasai aksen rantai berwarna kuning, sedangkan sebagai bawahan, kaum perempuan Suku Mori menggunakan rok panjang atau menurut bahasa setempat disebut hawu. Rok yang dikenakan sama-sama berwarna merah dan tambahan aksen yang sama pula.

Bagaimana dengan aksesorinya? Para perempuan Suku Mori akan mengenakan pakaian adat tersebut dengan tambahan langsonggilo atau tusuk konde, enu enu atau kalung, pebo’o atau ikat pinggang, sinsi atau cincin, pewutu busoki atau konde, tole yang mengacu pada anting-anting dan mahkota yang cantik atau pasapu. Warna merah pada pakaian adat Mori melambangkan keberanian, kekuatan dan kemewahan.

4. Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku Tolitoli

Pakaian Adat Sulawesi Tengah – Suku TolitoliSumber: instagram.com

Pakaian adat Sulawesi Tengah yang selanjutnya yaitu berasal dari Suku Tolitoli. Sesuai namanya, baju tradisional ini banyak dipakai oleh masyarakat di Kabupaten Tolitoli. Menariknya, pakaian adat milik Suku Tolitoli ini dibuat dengan memanfaatkan kulit kayu ivo atau pohon sejenis beringin dan kulit kayu pohon beringinnya itu sendiri.

Pada pakaian yang dikenakan oleh lelaki biasanya berupa blus dengan potongan lengan panjang. Blus tersebut diberi hiasan warna emas. Potongan pada bagian leher dibuat tegak dan biasanya dihiasi dengan pita emas atau manik-manik warna kuning. Baju atasan tersebut dipadankan dengan celana panjang yang disebut puyuka.

Saat mengenakan baju adat Toli-toli, para lelaki tidak lupa harus mengenakan beberapa aksesori berupa penutup kepala atau sanggo serta sarung yang dipasang di pinggang, yang panjangnya sampai lutut. Selain dua itu, ada juga penggunaan selendang atau selempang untuk membuat penampilan bertambah indah.

Sementara itu, pakaian adat Tolitoli yang dikenakan oleh perempuan disebut badu. Ia berupa blus lengan pendek yang dilipat-lipat dan dilengkapi hiasan manik-manik. Menariknya, bawahan yang dipakai oleh perempuan Suku Tolitoli berupa celana panjang yang disebut puyuka. Celana panjang tersebut dihias sedemikian rupa menggunakan pita emas dan manik-manik hingga tampak cantik.

Elemen tambahan lain pada pakaian wanita Suku Tolitoli yaitu ban pinggang berwarna kuning dan sarung yang panjangnya selutut. Sementara untuk aksesori yang dipakai antara lain anting, gelang, dan kalung yang terbuat juga dari manik-manik.

Melalui pakaian adat Sulawesi Tengah yang berbeda-beda berdasarkan suku atau etnis kita patut bangga karena negeri ini begitu kaya. Semua baju tradisional dari masyarakat Sulawesi Tengah di atas, sangat cantik dan mengesankan justru karena perbedaannya. Setuju? Semoga informasi ini dapat menambah informasi dan wawasan yang Anda punya ya!

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram