10 Peninggalan Kerajaan Banten, Kerajaan di Tanah Pasundan

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kerajaan Banten merupakan sebuah Kerajaan Islam yang berada di Provinsi Banten, Indonesia. Keraajan Banten sendiri adalah bagian dari pengembangan wilayah kekuasaan yang dilakukan oleh kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak di kawasan pesisir barat Pulau Jawa.

Meskipun kekuatan politik kesultanan Banten pada akhirnya runtuh di tahun 1813, namun sisa-sisa peninggalan Kerajaan Islam yang sempat mempertahankan kejayaan selama hampir 3 abad tersebut masih bisa masyarakat tanah air lihat hingga saat ini.

Apa saja sisa-sisa peninggalan Kerajaan Banten? Kali ini Keluyuran akan mengulasnya dalam artikel berikut ini.

1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten

Peninggalan Kerajaan Banten pertama yang masih bisa kita lihat adalah Masjid Agung Banten yang terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen. Masjid ini adalah salah satu tempat peribadatan ajaran Islam tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin di tahun 1652.

Di area masjid sendiri terdapat area kompleks pemakaman Sultan Banten dan juga kerabatnya. Meski telah berusia cukup tua, namun Masjid Agung Banten masih digunakan untuk tempat ibadah. Masjid Agung sendiri dikenal karena memiliki menara unik dengan sentuhan arsitektur China pada bagian kubah menara yang mirip dengan mercusuar.

2. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk merupakan sisa bangunan pada masa pemerintahan kerajaan Banten yang berada di kampung Pamarican, Serang, Banten. Benteng Speelwijk merupakan poros pertahanan maritim yang dibangun pada abad ke-17. Benteng ini adalah bagian dari benteng pertahanan di sekitar Selat Sunda.

Benteng setinggi 3 meter ini dirancang oleh Hendrick Loocaszoon Cardeel pada tahun 1681-1684, yaitu pada masa Sultan Abu Nas Abdul Qohar. Benteng ini dilengkapi dengan menara pengintai dan senjata meriam yang terhubung dengan Keraton Surosowam.

Meski kondisi bangunan sudah tidak utuh, namun masyarakat sendiri masih bisa melihat sisa peninggalan berupa ruang bawah tanah yang terhubung pada lorong di bagian Barat.

3. Istana Keraton Surosowan

Istana Keraton Surosowan

Keraton Surosowan merupakan peninggalan kerajaan Banten yang berdiri sekitar tahun 1522-1526 oleh Maulana Hasanuddin. Keraton ini dirancang oleh arsitek asal Belanda bernama Hendrik Lucasz Cardeel. Keraton yang berdiri di area lahan seluas 3 hektar ini memiliki dinding pembatas setinggi 2 meter.

Pada masa kejayaannya, kota Banten sendiri mendapatkan julukan Kota Intan. Meski hampir sebagian besar dinding bangunan keraton tidak terlihat utuh, namun masih menyisakan puing-puing dinding serta pondasi puluhan ruangan berbentuk persegi empat.

Salah satu yang cukup terkenal di kawasan komplek keraton tersebut adalah bekas kolam taman bernama Bale Kambang Rara Denok serta pancuran pemandian yang dikenal dengan Pancuran Mas.

4. Istana Keraton Kaibon

Istana Keraton Kaibon

Istana Keraton Kaibon adalah tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Syaifudin. Istana yang hanya menyisakan puing-puing akibat bentrokan antara Kerajaan Banten dengan Belanda pada tahun 1832 ini memang cukup memprihatinkan. Meski demikian, bangunan yang menyimpan sejarah kelam penjajah kolonial di tanah air ini masih dapat dilihat oleh masyarakat.

Salah satunya adalah gerbang serta  pintu yang cukup besar di lokasi tempat istana tersebut berada. Arsitektur Keraton ini memang sangat unik. Mengingat istana Keraton tersebut dibangun di atas saluran air sehingga telihatnya seolah-olah berdiri di atas air.

5. Danau Tasikardi

Danau Tasikardi

Danau Tasikardi adalah sebuah danau buatan yang terletak di sekitar Istana Keraton Kaibon. Danau ini diperkirakan dibuat pada tahun 1570-1580 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Danau yang memiliki luas sekitar hampir 5 hektar ini dilapisi ubin dan batu bata.

Dahulu kaka, danau ini merupakan sumber air utama yang digunakan oleh keluarga kerajaan di Istana Keraton Kaibon. Selain sebagai sumber air istana, Danau Tasikardi ini juga digunakan sebagai saluran air irigasi sawah untuk wilayah yang ada di sekitar Banten.

6. Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

* sumber: deirdretenawin.wordpress.com

Vihara Avalokitesvara adalah tempat peribadatan ajaran Budha yang terletak di kawasan Banten lama. Meski Kerajaan Banten merupakan kerajaan yang menganut ajaran Islam, namun toleransi antar agama di masa lalu memang cukup tinggi.

Vihara Avalokitesvara sendiri diketahui masih berdiri kokoh dan aktive digunakan untuk tempat  peribadatan ajaran Budha hingga saat ini. Pembangunan Vihara sendiri memiliki cerita yang menarik antara Sunan Gunung Jati dan Ong Tien, seorang putri yang berasal dari negeri China.

Vihara sendiri dibangun sebagai bentuk toleransi sang raja untuk pasukan pengawal yang mengantar sang putri. Sementara Ong Tien sendiri kemudian mualaf dan masuk ke dalam kesultanan Cirebon.

7. Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk merupakan sebuah Meriam berusia ratusan tahun  milik Kesultanan Banten. Saat ini meriam yang memiliki panjang 3 meter dengan berat 7 ton ini di simpan di depan Masjid Agung Banten Provinsi Banten. Meriam Ki Amuk dibuat untuk menjaga Pelabuhan Karanghantu, di Teluk Banten.

Masyarakat sendiri dapat melihat simbol dari Surya Majapahit di mulut meriam. Selain itu terdapat juga prasasti bertuliskan pesan yang ditulis dalam bahasa Arab menggunakan aksara Arab. Ki Amuk pun menjadi salah satu saksi kejayaan Kerajaan Banten dalam bidang persenjataan.

8. Kherkoff

Kherkoff

* sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Kherkoff merupakan tempat pemakan Belanda yang terletak di Banten lama. Kherkoff sendiri berlokasi tidak jauh dari benteng Speelwijk yang berada di kampung Pamarican, Serang, Banten. Kherkoff sendiri menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Banten pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Meski berusia lebih dari ratusan tahun, namun makan yang berada di pinggir jalan aspal ini masih bisa dilihat hingga saat ini. Sayangnya, salah satu makam kuno yang ada di Banten ini memang sudah tidak terawat dan mulai terkikis oleh waktu, sehingga membuatnya cukup menakutkan.

9. Masjid Agung Kenari

Masjid Agung Kenari

Masjid lain yang menjadi saksi atas kejayaan kesultanan Banten adalah Masjid Agung Kenari yang terletak di kampung Kenari yang berada sekitar 3 km dari Mesjid Agung Banten ke arah selatan. Masjid Kenari adalah salah satu masjid bersejarah peninggalan dari Sultan Abul Mufachir Muchmud Abdul Kadir pada masa 1596-1651.

Sultan Abul Mufachir Muchmud Abdul Kadir sendiri adalah putra dari Maulana Muhammad Pangeran ing Banten yang bergelar Sultan Mekah. Masjid ini menjadi salah satu mesjid tertua yang ada di Banten.

10. Makam Pangeran Astapati

Makam Pangeran Astapati

Selanjutnya ada makam Pangeran Astapati. Ia adalah seorang panglima perang Banten pada masa pemerintahan Sultan Tirtayasa. Makam Pengeran Astapati berada di kampung Odel. Posisi makanya sendiri berada di area yang dikelilingi oleh tembok dengan berpagarkan besi dimana pada gerbang utama menuju makam terdapat pintu masuk dengan bangunan khas Eropa-Jawa kuno.

Pangeran Astapati sendiri merupakan keturunan dari para pemimpin suku Baduy, yang ada di Kanekes, Banten Selatan. Pangeran Astapati dikenal karena keberaniannya menggempur tentara kolonial di teluk Banten.

Nah, itulah 10 Peninggalan kerajaan Banten, kerajaan di tanah Pasundan yang berhasil Keluyuran rangkum untuk kamu. Keberadaan benda bersejarah memang sangat menarik serta mampu memupuk rasa cinta masyarakat pada sejarah bangsa. Semoga informasi di atas menambah pengetahuan tentang salah satu kerajaan Islam yang berada Tatar Pasundan.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *