4 Peninggalan Kerajaan Buleleng di Bali yang Perlu Diketahui

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 18 Februari 2021

Bali memang selalu menjadi surga bagi para wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Tidak hanya menjadi bisa menikmati glamornya kehidupan malam dan pantainya yang indah. Di Bali juga terdapat wisata sejarah dan religi, yang bisa kamu lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu wisata sejarah dan religi yang harus kamu ketahui di Bali adalah peninggalan-peninggalan Kerajaan Buleleng. Kurang rasanya kalau tidak menyempatkan diri napak tilas ke peninggalan Kerajaan Buleleng saat berkunjung ke Bali.

Perlu kamu tahu kalau, Kerajaan Buleleng adalah salah satu kerajaan tertua yang pernah ada di Bali. Kerajaan Buleleng diperkirakan sudah berdiri sejak pertengahan abad ke-17 lalu jatuh ke Belanda pada tahun 1849.

Sejarah Kerajaan Buleleng

Sejarah Kerajaan Buleleng

Kerajaan Buleleng didirikan oleh I Gustu Anglurah Panji Sakti yang bersal dari Wangsa Kapkisan. Kerajaan Buleleng memiliki corak agama Hindu-Budha, dimana pusatnya berada di Buleleng, Bali Utara. Kerajaan Buleleng juga banyak disinggahi oleh para saudagar untuk berdagang terutama perdagangan Kuda. Kerajaan Buleleng ini menjadi salah satu Kerajaan tertua di Bali hingga jatuh akhirnya ke Belanda pada 1849.

Kerajaan Buleleng memang dikenal dengan kemajuan dalam sistem ekonominya terutama perdagangan. Hal ini dijelaskan dalam peninggalan-peninggalan seperti prasasti masa kejayaan kerajaan. Kegiatan perdagangan tidak hanya mencakup daerah kerjaan saja, tapi sudah masuk tingkat antar pulau. Salah satunya penjualan kuda yang bisa terlaksana jika kerajaan memiliki kapal besar untuk mengangkut kuda.

Kerajaan Buleleng memiliki beberapa peninggalan yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Bali. Seperti komplek Pura Penegil Dharma yang luasnya mencapai 1,5 hektar dan berisi pura-pura lainnya. Selanjutnya ada Pura Tirta Empul yang merupakan tempat pemandian suci masyarakat Bali. Lalu ada peninggalan tiga prasasti yaitu Prasasti Blanjong, Prasasti Malatgede dan Prasasti Penempahan.

Peninggalan kerajaan Buleleng ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menikmati wisata sejarah di Bali. Kamu dapat menikmati keindahan dari sisa-sisa Kerajaan Buleleng, juga menambah wawasan mengenai Bali. Kamu bisa mengunjungi pura-pura yang merupakan peninggalan Kerajaan Buleleng yang ada di daerah Bali utara.

Peninggalan Kerajaan Buleleng

Kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Buleleng yang ada di Bali. Untuk informasi lebih lengkapnya, kamu bisa membacanya dibawah ini.

1. Pura Penegil Dharma

Pura Penegil Dharma

*

Pura Penegil Dharma dibuat pada 915 M yang merupakan komplek Pura yang luasnya 1,5 hektar. Ada lima bangunan pura besar, di pusatnya dikelilingi oleh delapan pura lainnya.  Lima pura tersebut ialah Pura Pucaking Giri (selatan), Pura Patih Patengen Agung (utara), Pura Kertapura (tengah), Pura Taman Sari Mutering Jagat Istana Dharmadyaksa (timur) dan Pura Kerta Negara Mas (istana para raja).

Pura Penegil Dharma tersusun dari sebongkah batu hitam yang sudah tua dan sangat kuno. Namun batu hitam ini ternyata memiliki sesuatu yang cukup magis dan religius. Karena saat kamu datang kesana dan mulai bersembahyang di sana akan terasa sangat khusyuk. Pura Penegil Dharma adalah tempat dimana orang memohon kesabaran, maka saat sembahyang dipuja ini harus dalam keadaan bersih lahir dan batin.

Pura Penegil Sharma ini memiliki sejarah panjang dengan Ugrasena dan kedatangan Maha Rsi Markandeya di Bali. Masyarakat Bali dulunya mengenal Pura Penegil Dharma dengan nama Pura Penyusuhan. Jika ingin mengunjungi Pura Penegil Dharma, kamu harus ke Desa Kubutambahan dan Desa Bulian, Buleleng Utara, Bali.

  • Alamat: Kubutambahan, Buleleng, Buleleng Regency, Bali 81172
  • Jam Operasional: 24 jam
  • Nomor Telepon: 0812-3830-131
  • Kisaran Harga: -

2. Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul

Salah satu peninggalan Kerajaan Buleleng yang cukup indah dan wajib kamu kunjungi yaitu Pura Tirta Empul. Pura ini menjadi salah satu pemandian suci yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Bali.  Pura Tirta Empul diketahui didirikan sejak tahun 967 M oleh Raja Sri Candrabhaya Warmadewa. Pura Tirta Empul sendiri memiliki arti air dari tanah, dimana air dari Tirta Empul memang menyembul keluar.

Nama Pura Tirta Empul sendiri ternyata diambil dari nama mata air yang berada di dalam pura. Air yang mengalir keluar dari Pura Tirta Empul ini akan mengalir hingga ke arah Sungai Pakerisan. Dahulu Pura ini digunakan pada saat ingin melepaskan ikatan dari dunia materi dan hidup lebih sederhana. Jika kamu ingin sekali mengunjungi Pura Tirta Empul, kamu harus datang ke daerah Tampaksiring, Bali.

Jika kamu berkunjung ke Pura Tirta Empul ada satu nih yang harus banget kamu perhatikan. Para pengunjung diwajibkan untuk memakai kain panjang dan selendang untuk bisa memasuki Pura. Karena Pura Tirta Empul ini bukan sekedar tempat pemandain yang biasa saja loh. Masyarakat Bali mempercayai bahwa Pura Tirta Empul adalah pemandian suci yang sarat akan makna.

  • Alamat: Jl. Tirta, Manukaya, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali 80552
  • Jam Operasional: 08.00 – 18.00 WIB
  • Nomor Telepon: -
  • Kisaran Harga: Rp. 15.000 / orang

3. Prasasti Blanjong

Prasasti Blanjong

Prasasti Blanjong adalah salah satu peninggalan dari Kerajaan Buleleng yang cukup unik nih. Prasasti Blanjong ini cukup berbeda dengan prasasti lainnya, karena prasasti ini ditulis dalam 2 macam huruf. Huruf pertama yaitu huruf Pra-Nagari yang memakai Bahasa yang berasal dari zaman Bali Kono. Bahasa kedua yaitu Bahasa Kawi yang menggunakan Bahasa Sanskerta.

Prasasti Blanjong adalah prasasti yang dikeluarka oleh Sri Kesari Warmadewa yang merupakan seorang Raja Bali. Dalam Prasasti Blanjong juga di temukan kata “Walidwipa”, dimana arti kata tersebut adalah sebutan untuk Pulau Bali. Prasasti ini memuat berbagai tulisan mengenai sejarah mengenai Pulau Bali yang tertua.

Untuk bisa melihat secara langsung prasasti ini, kamu harus datang ke Pura Blanjong yang berada di wilayah Banjar Blanjong. Sayangnya kondisi Prasasti Blanjong ini tidaklah sempurna, karena ada beberapa baris huruf yang sudah hilang. Karena sejak pertama ditemukan oleh Stutterheim, prasasti ini sudah dalam kondisi agak aus.

  • Alamat: Cagar Budaya Prasasti Blanjong - Jl. Belanjong No.1, Sanur Kauh, Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali
  • Jam Operasional: 08.00 – 17.00 WIB
  • Nomor Telepon: -
  • Kisaran Harga: Rp5.000 / orang

4. Prasasti Malatgede

Prasasti Malatgede

Selain ada Pasasti Blanjongan, masih ada dua prasasti lainnya yang merupakan peninggalan Kerajaan Buleleng. Salah satunya adalah Prasasti Malatgede yang berada di Pura Penataran Melet Tengah. Prasasti ini di temukan oleh M. M. Sukarto K. Atmodjo yang ditemukan pada tanggal 27 Februari 1965.

Pada baris pertama Prasasti Malatgede ini tertulis mengenai angka saka 835 dan bulan Phalguna. Baris kedua berisikan nama-nama tokoh, sayangnya tulisan ini sudah sulit untuk bisa dibaca. Tapi ada tulisan yang terbaca dan dipercayai tertulis nama Sri Kesari Warmadewa. Baris ketiga menyebutkan nama musuh dan di barik ke empat berisi tulisan Kadya Kadya Maksa.

  • Alamat: Pura Pebataran Melet Tengah, Desa Malet Gede - Tiga, Susut, Bangli Regency, Bali 80661
  • Jam Operasional: -
  • Nomor Telepon: -
  • Kisaran Harga: -

5. Prasasti Penempahan

Prasasti Penempahan

Pada Prasasti Penempahan di baris pertama tertulis bulan Phalguna, hanya tahunnya saja yang tidak terbaca. Di baris kedua menyebutkan nama Raja Sri Kaisari, di baris ketiga menyebutkan musuh-musuh sang raja. Di baris ke empat berisikan ungkapan Kadya-kadaya maka Iki di tuggalan. Prasasti Penempahan dipercaya berasal dari masa Bali Klasik, dimana budayanya dahulu adalah Hindu Budha.

Prasasti Penempahan berada di Pura Puseh Penempahan yang berada di Desa Manukaya. Baik Prasasti Malatgede dan Prasasti Penempahan ternyata juga memiliki kemiripan satu sama lainnya. Dimana kedua prasasti ini berisikan mengenai sejara peperangan para raja. Prasasti ini dituliskan dalam batu berbentuk tugu batu besar dan didalamnya terdiri dari empat baris tulisan.

  • Alamat: Pura Dalem Penempahan Manukaya, Tampaksiring, Gianyar, Bali 80561
  • Jam Operasional: -
  • Nomor Telepon: -
  • Kisaran Harga: -

Gimana nih, setelah membaca mengenai peninggalan dari Kerajaan Buleleng di Bali ini, makin penasaran dan terinspirasi dong untuk mengunjungi pura-pura peninggalan Kerajaan Buleleng? Perlu diingat saat akan mengunjungi wisata religi seperti pura, kita harus berpakaian sopan. Jadi jangan lupa untuk membawa kain panjang untuk menutupi tubuh.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram