10 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang Menarik Diketahui

Ditulis oleh - Diperbaharui 10 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Gowa-Tallo adalah sebuah kerajaan kembar kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa-Tallo sendiri berpusat di kabupaten Gowa dan beberapa wilayah yang ada di sekitarnya. Kerajaan yang sempat menempati puncak kejayaannya pada abad ke-17 ini merupakan salah satu kerajaan di tanah air yang mengadopsi Islam sebagai agama resmi.

Meski kerajaan ini sudah tidak ada, namun sisa-sisa peninggalannya masih bisa masyarakat tanah air lihat hingga saat ini. Kali ini Keluyuran akan mengulas beberapa peninggalan bersejarah dari salah satu kerajaan Islam tersebut. Apa saja itu? Simak ulasannya berikut ini.

1. Ford Rotterdam

Ford Rotterdam

* sumber: pulaunesia.blogspot.com

Salah satu peninggalan bersejarah yang cukup mengagumkan dari kerajaan Gowa-Tallo adalah Ford Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang. Ford Rotterdam adalah sebuah benteng yang dibangun oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yaitu Raja Gowa ke-9 pada tahun 1545. Fort Rotterdam sendiri terletak di pesisir pantai sebelah barat Makassar.

Dahulu kala benteng yang dikenal dengan sebutan Benteng Panyyua oleh masyarakat setempat berfungsi sebagai markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Nama Panyyua sendiri diambil karena bentuk bentengnya yang mirip dengan seekor penyu yang hendak turun ke lautan.

2. Balla Lompoa

Balla Lompoa

Balla Lompoa atau rumah besar adalah sebuah istana tempat tinggal sultan Gowa. Istana yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 3 hektar ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yang masih berdiri hingga saat ini.

Balla Lompoa dibangun setelah diangkatnya Raja Gowa XXXV, I Mengimingi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin pada tahun 1936. Balla Lompoa terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No 48, Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

3. Masjid Katangka

Masjid Katangka

Peninggalan kerajaan Gowa-Tallo selanjutnya adalah Mesjid Katangka yang bernama asli Masjid Al-Hilal. Mesjid Katangka merupakan masjid tertua yang berada di provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Mesjid yang sempat digunakan oleh kesultanan Gowa sebagai benteng pertahanan ketika melawan penjajah ini memiliki desain unik perpaduan Jawa-Eropa-China. Menurut sebuah prasasti,  mesjid yang berdiri di tanah seluas 150 meter ini dibangun pada tahun 1603. Namun, tak sedikit pula para peneliti yang menyebutkan bahwa bangunan bersejarah itu dibangun pada awal abad ke-18.

4. Kompleks Makam Katangka

Kompleks Makam Katangka

* sumber: www.eviindrawanto.com

Kompleks Makam Katangka merupakan situs pemakaman raja dari kesultanan Gowa. Makamnya sendiri berada di area sekitar halaman masjid Katangka yang terletak di kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Di makam ini diketahui terdapat 71 buah makam kuno dengan 112 nisan yang terdiri dari 76 nisan berbentuk pipih, 31 nisan berbentuk silindris dan 4 berbentuk balok polos. Nama Katangka sendiri diambil dari bahasa Makassar Tangkasa atau berarti kampung suci.

5. Masjid Jami ‘Nurul Mu’minin

Masjid Jami ‘Nurul Mu’minin

Masjid Nurul Mukminin adalah masjid kuno yang terletak di Kecamatan Panakkukang jalan Urip Sumoharjo, kota Makassar. Dahulu masyarakat menyebut mesjid ini dengan nama Karuwisi. Masjid ini dibangun pada tahun 1924 oleh sang pemilik mesjid yang bernama H. Kawari.

Pada awalnya mesjid yang dirancang oleh H. Andi Cincin Karaeng Lengkese ini digunakan untuk kegiatan peribadatan keluarga. Namun, sejak 1995 masjid Nurul Mukminin pun kemudian berubah menjadi milik masyarakat umum yang ada di sekitar masjid. Sebelum renovasi, Masjid Nurul Mukminin sendiri dikenal memiliki ciri khas dua menara kembar yang mengapit serambi depan mesjid.

6. Masjid Jongaya (Babul Firdaus)

Masjid Jongaya (Babul Firdaus)

Nah, salah satu mesjid tertua selanjutnya yang menjadi peninggalan kerajaan Gowa-Tallo adalah Masjid Jongaya atau Babul Firdaus. Mesjid yang dibangun pada 1893 Masehi di Sulawesi Selatan ini berada di Jalan Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Babul Firdaus sendiri adalah masjid ketiga yang dibangun oleh Kesultanan Gowa, setelah Masjid Katangka dan Masjid Taeng. Dahulu kala Masjid Babul Firdaus ini digunakan sebagai tempat untuk memperdalam ilmu agama dan juga digunakan sebagai tempat pertemuan raja-raja dalam rangka mengatur strategi menghadapi para penjajahan Belanda.

7. Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Salah satu peninggalan yang bisa kita lihat lainnya adalah makan Syekh Yusuf Tajul Khalwati. Selain pernah berjuang mempertahankan tanah air dari para penjajah Belanda, Syekh Yusuf Tajul Khalwati merupakan tokoh ulama yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Kerajaan Gowa. Makam Syekh Yusuf terletak tidak jauh dari Benteng Somba Opu yang dibangun oleh Daeng Matanre Karaeng Tumapa.

Shekh Yusuf diketahui wafat pada 23 Mei 1699 di wilayah bernama Kaap yang berada di Afrika Selatan. Sementara proses pemakamannya sendiri dilakukan di Lakiung, Kabupaten Gowa pada tanggal 6 April 1705. Kini makam Shekh Yusuf telah menjadi salah satu situs cagar budaya yang berada di kabupaten Gowa.

8. Batu Pallantikang

Batu Pallantikang

Batu Petantikan raja atau batu Pallantikang adalah peninggalan kerajaan Gowa yang juga masih bisa kita lihat hingga saat ini. Konon, Batu Pallantikang merupakan tempat mengikrarkan sumpah para Raja penguasa Kerajaan Gowa-Tallo. Batu ini terletak di sebelah tenggara kompleks pemakaman Tamalate. Batu Pallantikang merupakan batu yang terbentuk secara alami.

Batu ini terdiri dari dua jenis batuan, yaitu satu batuan andesit dan dua batu kapur. Batu Andesit merupakan batu yang sering digunakan dalam ritual para penganut animisme. Masyarakat yang hidup pada masa tersebut pun mempercayai bahwa batu tersebut adalah batu keramat dari khayangan.

9. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu adalah benteng peninggalan dari Kesultanan Gowa. Benteng ini dibangun oleh Daeng Matanre Karaeng Tumapa ‘risi’ Kallonna, yaitu Raja Gowa ke-9 yang dibangun pada abad ke-16. Benteng Somba Opu berlokasi di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Dahulu kala, Benteng Somba Opu pernah menjadi pusat perdagangan sebelum akhirnya dikuasai oleh penjajah VOC pada tahun 1669 dan ditemukan kembali pada tahun 1980 setelah sebelumnya tenggalam oleh air laut.

10. Benteng Tallo

Benteng Tallo

Peninggalan kerajaan Gowa-Tallo lainnya yang juga cukup menarik adalah benteng Tallo yang berada di muara sungai Tallo. Benteng yang memilliki luas sekitar 2 kilometer diperkirakan memiliki tebal dinding mencapai 260 cm. Benteng Tallo sendiri kemudian dihancurkan setelah perjanjian Bongaya pada tahun 1667.

Meski bangunannya sudah tidak berbentuk, namun masyarakat sendiri masih bisa melihat sisa-sisa reruntuhan batuan yang tersebar di wilayah tersebut. Masyarakat sendiri kerap memanfaatkan batuan tersebut untuk beberapa keperluan. Sementara sisanya masih bisa kita lihat dalam bentuk fondasi yang mengelilingi makam raja-raja Tallo.

Demikianlah 10 Peninggalan kerajaan Gowa Tallo yang menarik untuk diketahui oleh masyarakat tanah air. Melestarikan peninggalan sejarah adalah bagian dari tugas pemerintah dan kita sebagai warga negara. Semoga informasi yang telah kami bahas di atas bisa membuat kita semakin bangga menjadi anak bangsa.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *