10 Peninggalan Kerajaan Kalingga yang Menarik Diketahui

Ditulis oleh - Diperbaharui 10 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kerajaan Kalingga adalah salah satu kerajaan tertua yang ada di Indonesia. Kerajaan Kalingga atau disebut juga dengan Kerajaan Haling diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-5 Masehi. Kerajaan yang pada awal pemerintahan berpusat di sekitar Pekalongan dan Jepara ini dikenal memiliki Ratu legendaris bernama Shima atau Dewi Parwati.

Ratu Shima sendiri merupakan pemimpin Kerajaan Kalingga dari tahun 674-695 Masehi. Sikapnya yang kejam terhadap para pelaku pencurian telah membuat penduduk Kalingga dikenal dengan kejujurannya.

Kali ini Keluyuran akan mengulas sisa peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kalingga. Simak daftarnya berikut ini!

1. Candi Bubrah

Candi Bubrah

Peninggalan Kerajaan Kalingga yang masih bisa masyarakat temukan di Jawa Tengah adalah Candi Bubrah. Candi Bubrah adalah salah satu candi Hindu-Budha yang terletak di dalam kompleks  Candi wisata Prambanan. Letak Candinya sendiri berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Bubrah sendiri diambil dari bahasa Jawa, yang berarti rusak. Nama tersebut diambil karena candi tersebut memang sudah dalam keadaan rusak saat pertama kali ditemukan. Candi Bubrah terbuat dari batuan Andesit yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9.

2. Candi Angin
Candi Angin

Candi Angin adalah candi Hindu-Budha peninggalan kerajaan Kalingga selanjutnya yang masih bisa ditemukan hingga hari ini. Candi Angin terletak di puncak gunung Muria di atas ketinggian mencapai ± 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Keberadaan candi ini memang cukup menarik perhatian masyarakat yang ada di Jepara.

Struktur batuan yang membentuk candi angin memiliki kemiripan dengan beberapa candi peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Hal itu menguatkan dugaan bahwa candi tersebut masih satu periode dengan Kerajaan Majapahit dan juga Tarumanagara.

3. Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Peninggalan lain yang tak kalah menarik adalah Prasasti Tuk Mas atau dikenal juga dengan sebutan Prasasti Dakawu. Prasasti peninggalan kerajaan Kalingga ini berada Kelurahan Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Prasasti yang dipahatkan pada batu alam ini pertama kali ditemukan di dekat sebuah mata air yang berada di lereng barat Gunung Merapi.

Prasasti Tuk Mas ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti peninggalan kerajaan Kalingga ini diperkirakan berasal dari abad ke-6 hingga abad ke-7 M. Selain terdapat sebuah tulisan, dalam pasti tersebut juga terdapat beberapa gambar seperti perkakas, bunga Tanjung, Kendi, Cakra, dan masih banyak lagi.

4. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto

Prasasti yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi ini terletak di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis di atas batu Andesit dengan menggunakan aksara Kawi dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti Sojomerto memiliki ukuran panjang sekitar 43 sentimeter dengan tinggi 78 sentimeter dan tebal batu mencapai 7 sentimeter.

Parasasti ini menceritakan mengenai asal usul Dapunta Sailendra, yang merupakan cikal-bakal dari raja-raja keturunan Wangsa Sailendra sebagai pasrah penguasa.

5. Arca Batara Guru

Arca Batara Guru

Peninggalan selanjutnya adalah Arca Batara Guru yang ditemukan di Puncak Gunung Muria, yaitu Rahtawun, di Kecamatan Keling, Jawa Tengah. Bathara Guru adalah Dewa yang dikenal oleh masyarakat Hindu sebagai menguasai tiga dunia, yaitu dunia para dewa atau surga (Mayapada), dunia manusia atau bumi (Madyapada), dan dunia bawah atau neraka (Arcapada).

Batara guru sendiri adalah perwujudan dari dewa Siwa yang dikenal dengan banyak nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Jagadnata, Hyang Caturbuja, Trinetra, Nilakanta, Girinata dan Sang Hyang Otipati.

6. Arca Togog

Arca Togog

Selanjutnya ada Arca Togog yang ditemukan di puncak Sanga Likur. Togog sendiri adalah salah satu karakter pewayangan yang cukup terkenal. Togog diutus sebagai pamong atau penasihat untuk para satria berwatak buruk. Pamong sendiri bertugas untuk membisikan makna kehidupan yang bijak pada manusia.

Bila semar bertugas menjadi penasihat bagi satria berwatak baik, maka Togog sebaliknya. Namun, antara Semar dan Togog sendiri merupakan putra dari Sanghyang Wenang. Keduanya diketahui terlahir dari sebutir telur.

7. Arca Wisnu

Arca Wisnu

Wisnu adalah salah satu Dewa utama dari ajaran Hindu. Wisnu sendiri merupakan Dewa yang dipercaya sebagai pemelihara dari ciptaan Brahman. Wisnu merupakan tokoh yang dianggap suci dan memiliki kedudukan tinggi. Dewa Wisnu sendiri disebutkan dalam kitab Weda.

Ia digambarkan sebagai dewa yang memiliki kulit kebiruan atau gelap serta memiliki empat tangan, yang masing-masing tangan menggenggam sebuah gada, sangkakala, lotus dan Chakra. Keberadaan Arca yang ditemukan di puncak Sanga Likur bersama arca lainnya menjadi bukti lain dari sisa-sisa peninggalan kerajaan Kalingga.

8. Arca Narada

Arca Narada

Nah, arca terakhir yang juga ditemukan di Sanga Likur, tak jauh dari lokasi penemuan ketiga arca lain adalah arca Narada. Narada Muni merupakan sosok yang bijaksana dalam ajaran Hindu. Narada dilukiskan sebagai seorang pendeta yang memiliki kemampuan mengembara ke planet-planet yang ada di semesta.

Narada sendiri memiliki ciri khas dengan membawa alat musik bernama Tambura. Alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi segala pujian dan doa yang ditujukan untuk Dewa Wisnu dan Krisna.

9. Prasasti Upit

Prasasti Upit

Nah, prasasti lain yang juga menjadi bukti keberadaan kerajaan yang terkenal cukup maju di Jawa Tengah adalah Prasasti Upit. Prasasti Upit pertama kali ditemukan di Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Prasasti Upit bersisi cerita tentang sebuah desa yang bernama desa Upit, dimana desa tersebut dibebaskan dari tuntutan membayar pajak berkat kebaikan Ratu Shima.

Prasasti Upit sendiri kini berada di Museum peninggalan sejarah yang berlokasi di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

10. Prasasti Rahtawun

Prasasti Rahtawun

Sisa-sisa peninggalan kerajaan Kalingga yang ditemukan di puncak gunung Muria memang menarik perhatian para pakar sejarah maupun arkeolog tanah air. Selain penemuan beberapa candi dan juga arca di kawasan tersebut. Para arkeolog pun menemukan prasasti bersejarah lainnya, yaitu Prasasti Rahtawun pada tahun 1990.

Meski belum ada penjelasan tentang isi prasasti tersebut, namun setidaknya hal tersebut menjadi temuan yang sangat menarik. Selain Prasasti Rahtawun dan beberapa arca kuno yang ditemukan di tempat tersebut.

Di sana juga ditemukan beberapa tempat pemujaan yang digunakan masyarakat Kalingga di masa lalu, dimana masing-masing tempat kemudian diberi nama dengan nama pewayangan.

Nah, itulah 10 Peninggalan Kerajaan Kalingga, Kerajaan yang menjunjung kejujuran. Sisa-sisa peninggalan yang ditemukan di Jawa Tengah tersebut merupakan bukti sejarah bahwa kerajaan Kalingga benar-benar pernah menginjakkan kakinya di tanah air tercinta. Semoga informasi yang telah kami sampaikan di atas bisa membuat kita semakin mengenal sejarah bangsa.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *