10 Peninggalan Kerajaan Islam Mataram yang Masih Bertahan

Ditulis oleh - Diperbaharui 21 Juli 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Islam merupakan salah satu agama dengan pemeluk agama terbesar yang di tanah air. Penyebaran Islam diberbagai wilayah memang tak lepas dari campur tangan Kerajaan Islam yang ada di Nusantara dimana salah satunya adalah karena kehadiran Kerajaan Islam Mataram.

Bila kita berbicara mengenai sejarah kerajaan di tanah air, maka tak seru bila tidak membahas sisa-sisa peninggalan kerajaannya. Selain sebagai bukti otentik bahwa kerajaan tersebut pernah ada, sisa-sisa peninggalan tersebut juga dapat memberikan informasi mengenai asal muasal kehidupan sebuah masyarakat.

Ingin tahu lebih lanjut tentang Kerajaan Islam Mataram? Simak ulasannya dalam 10 peninggalan kerajaan Islam Mataram yang masih bertahan berikut ini.

1. Masjid Agung Gedhe Kauman

Masjid Agung Gedhe Kauman 

Masjid Agung Gedhe Kauman merupakan  sebuah peninggalan bersejarah dari kerajaan Islam Mataram yang dibangun oleh Raja Amangkurat I atau Amangkurat Agung pada abad ke-4. Informasi tersebut berdasarkan catatan yang terdapat dalam Serat Babad Momana dan Babad Ing Sangkala yang menjadi bukti otentik mengenai waktu pembangunan masjid.

Masjid Agung Gedhe Kauman sendiri dahulu merupakan pusat pemerintahan Mataram di Pleret sebelum akhirnya tumbang ketika melawan pasukan Trunajaya. Setelah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Kini mesjid yang berlokasi di Desa Kauman, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut menjadi salah satu situs cagar budaya yang ada di Yogyakarta.

2. Masjid Al Fatih Kepatihan Solo

Masjid Al Fatih Kepatihan Solo

Sekilas bangunan yang berdiri megah tersebut memang seperti bangunan mesjid pada umumnya. Meskipun demikian ketika pengunjung menelusuri lebih jauh mengenai masjid yang berada di Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah ini.

Pengunjung akan mengetahui bahwa bangunan masjid tersebut merupakan peninggalan bersejarah yang dibangun pada tahun 1891 oleh Raden Adipati Sosrodiningrat IV sebagai mahar untuk mempelai wanita yang akan menjadi istri Paku Buwono X.

Meskipun kini masjid tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi, namun unsur sejarah yang ada dalam masjid pun masih kentara dan masih bisa dilihat oleh masyarakat.

3. Situs Kerto

Situs Kerto

Situs Kerto merupakan bagian dari peninggalan kesunanan Surakarta yang merupakan pecahan dari kerajaan Islam Mataram abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Agung. Situs Kerto sendiri merupakan bagian dari keraton Kerto yang berada di Dukuh Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Saat ini yang tertinggal dari Keraton Kerto hanya beberapa bagian penyangga tiang yang masih terlihat berdiri kokoh. Sisa-sisa peninggalan itulah yang dikenal dengan Situs Kerto.

4. Masjid Kotagede

Masjid Kotagede

Masjid Agung Kotagede berlokasi di Jalan Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta. Masjid yang dibangun tahun 1640,  pada masa pemerintahan Sultan Agung ini merupakan masjid tertua yang ada di Indonesia. Mesjid yang satu ini memiliki arsitektur yang cukup unik.

Hal tersebut dapat dilihat dari segi bangunan mesjid yang masih terlihat sentuhan budaya Hindu-Budha seperti pada gapura sebelum memasuki wilayah masjid. Bila diamati sepintas masjid tersebut memang tampak biasa, namun bila pengunjung masuk ke dalam mesjid.

Pengunjung dapat merasakan suasana masa lalu yang sangat kentara. Sampai saat ini Masjid Kotagede sendiri masih digunakan untuk peribadatan umat Islam.

5. Kitab Sastra Gending

Kitab Sastra Gending

Salah satu peninggalan kerajaan Islam Mataram yang sangat terkenal tentu adalah Kitab Sastra Gending yang diketahui ditulis oleh Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo pada masa pemerintahannya, yaitu  pada tahun 1613-1646. Kitab Sastra Gending sendiri ditulis setelah penyerangan Sultan Agung ke Batavia.

Kitab tersebut berisi tentang ajaran filsafat dan kebijakan-kebijakan yang mencakup banyak hal mulai dari sosial, mistis dan juga politik. Sampai saat ini kitab tersebut sering menjadi bahan pembicaraan para pakar filsafat tanah air.

6. Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning 

Mesjid ini terletak di Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid Pathok Negara sendiri terdiri dari empat bangunan mesjid yang berada di empat titik arah mata angin. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang tidak lain putra dari Amangkurat IV.

Masjid Pathok Negara sendiri dahulu kala berfungsi sebagai pusat pendidikan, ritual keagamaan, dan juga sebagai menjaga keamanan. Masjid yang dibangun pada tahun 1775 ini memang cukup menarik dari segi arsitektur, pengunjung dapat merasakan suasana Jawa kuno yang tampak kental baik dari interior maupun eksterior masjid.

7. Pasar Legi Kotagede

Pasar Legi Kotagede

Pasar yang dibangun pada abad ke-16 ini dibangun oleh Ki Gede Pemanahan. Pasar ini merupakan peninggalan kerajaan Islam Mataram yang masih bisa masyarakat lihat sampai saat ini. Dahulu pasar ini merupakan tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang, ras dan etnis.

Kehadirannya sendiri memang cukup berpengaruh pada perkembangan kerajaan. Pasar ini sendiri memiliki beberapa keunikan, dimana diantaranya terdapat beberapa bangunan Pasar Legi yang menjadi cagar budaya.

8. Pertapaan Kembang Lampir

Pertapaan Kembang Lampir

Pertapaan Kembang Lampir merupakan salah satu peninggalan pada masa kerajaan Islam Mataram yang berlokasi di Dusun Blimbing, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Dahulu kala pertapaan Kembang Lampir merupakan  tempat Ki Ageng Pemanahan melakukan pertapaan untuk mencari wangsit Mataram.

Konon, di tempat ini pula Ki Tapa mendapat wangsit untuk membangun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keberadaan petilasan Ki Ageng Pemanahan ini pun menjadi cerita menarik di masyarakat. Sampai saya ini lokasi tersebut pun menjadi lokasi yang cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan untuk tujuan tertentu.

9. Meriam Segara Wana dan Syuh Brata

Meriam Segara Wana dan Syuh Brata

Meriam Segara Wana dan Syuh Brata adalah hadiah yang diberikan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda sebagai bentuk apresiasinya kepada Sultan Agung karena telah menerima kesepakatan pihak Belanda untuk melakukan beberapa perjanjian terkait beberapa kebijakan.

Peninggalan bersejarah berbentuk senjata baja tersebut memang masih bisa kita lihat dalam keadaan utuh meskipun telah berabad-abad berlalu. Kini keberadaan meriam bersejarah itu pun bisa di lihat di depan keraton Surakarta.

10. Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta

Nah, peninggalan kerajaan Islam Mataram yang masih bisa kita lihat selanjutnya adalah Masjid Agung Surakarta. Masjid ini dibangun 1749 pada masa pemerintahan Paku Buwono III. Unsur sejarah memang terlihat di masjid yang terletak di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta ini.

Masjid yang berada di lahan seluas satu hektar tersebut memiliki desain arsitektur yang memadukan budaya Jawa Kuno dan arsitektur kolonial. Sampai hari ini meski agung berusia ratusan tahun tersebut telah mengalami beberapa renovasi. Pihak Keraton sendiri masih menggunakan masjid untuk berbagai kegiatan besar yang melibatkan rakyat.

Demikianlah 10 Peninggalan kerajaan Islam Mataram yang masih ada hingga saat ini yang berhasil Bacaterus rangkum untuk kamu. Keberadaan peninggalan tersebut memang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Oleh karena itu sudah selayaknya kita menjaga apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang tersebut agar masih bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa depan.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *