6 Peninggalan Kerajaan Pajang yang Masih Ada Hingga Sekarang

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 18 Februari 2021

Kerajaan Pajang ini adalah salah satu kerajaan Islam yang berhasil membuat para raja penting di Jawa Timur tunduk. Kerjaan Pajang di bangun oleh Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya sebagai raja pertama yang memerintah di tahun 1549-1582. Kerajaan Pajang mulai runtuh setelah kalah melawan Mataram dan Jipang, sepeninggal Sultan Hadiwija.

Kini peninggalan Kerajaan Pajang masih bisa kalian lihat di beberapa tempat di Solo dan Surakarta. Nama Jaka Tingkir mungkin sudah tidak asing lagi, terutama untuk masyarakat yang tinggal di pulau Jawa. Kisah kehebatan Jaka Tingkir sering kita lihat dalam sinetron kolosal yang pernah ditayangkan di beberapa stasiun TV.

Kali ini kita akan membahas mengenai peninggalan-peninggalan Kerajaan Pajang yang masih ada hingga sekarang. Informasi lebih lengkapnya bisa kamu baca di artikel di bawah ini.

1. Masjid Laweyan

Masjid Laweyan

Jika kamu berkunjung ke Kota Solo, jangan lupa untuk datang ke Jalan Liris No.1, Dusun Belukan, Kelurahan Pajang, Surakarta. Kamu akan menemukan Masjid Laweyan yang menjadi bukti sejarah dari penyebaran Islam di tanah Jawa. Masjid Laweyan dibangun sejak tahun 1546 oleh Jaka Tingkir dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Bagi masyarakat Solo, Masjid Laweyan ini sebenarnya lebih dikenal dengan nama Masjid Ki Ageng Henis. Masjid Laweyan ini ternyata memiliki unsur tradisional Jawa, Eropa, Cina dan Islam. Masjid ini memiliki ciri khas yaitu bentuknya yang seperti Kelenteng Jawa dengan arsitektur khas Jawa yang sangat kental. Dinding Masjid ini tersusun dari kayu dan batu bata.

Masjid Laweyan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ruang induk sebagai ruangan utama juga ada serambi bagian kanan dan serambi bagian kiri. Di bagian samping Mesjid juga terdapat makam-makam para kerabat kesultanan, salah satunya makam Ki Ageng Henis. Selain itu pada bagian sudut Masjid juga terdapat Pura yang menjadi tempat ibadah para umat Hindu di sana.

2. Seni Batik Laweyan

Seni Batik Laweyan

Selain masjid, Peninggalan dari Kerajaan Pajang yang masih sangat eksis hingga hari ini adalah kampung Batik Laweyan. Kampung ini kini sudah menjadi pusat batik yang ada di Kota Solo dengan luas tanah sekitar 24 hektar. Kampung ini sudah ada sejak pemerintahan Kerajaan Pajang di tahun 1546, yang kini dibuat dengan konsep terintegrasi.

Di Kampung Batik ini, ada ratusan pengrajin batik yang karyanya sudah tidak diragukan lagi. Salah satu motif batik yang terkenal dari kampung ini adalah motif Truntum dan Tirto Tejo. Kampung ini kini menjadi salah satu produsen batik berkualitas tinggi, karena masih diolah secara tradisional. Sesuai dengan nama dari kampung ini yaitu Laweyan, yang artinya utas dalam bahasa jawa.

Di kampung ini kamu tidak hanya bisa membeli berbagai jenis dan motif batik yang dijual disana. Tetapi kamu juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batiknya, baik yang masih tradisional hingga modern.

3. Pasar Laweyan

Pasar Laweyan

* sumber: wonderfulsolo.com

Pasar Laweyan adalah pasar yang menjadi pusat kegiatan perdagangan pada jaman Kerajaan Pajang. Hingga kini Pasar Laweyan masih eksis sebagai sentra utama perdagangan batik yang berada di wilayah Bandar Kabanaran, Kota Surakarta. Pasar ini menjadi pusatnya perdagangan dan ekonomi bagi masyarakat saat Kerajaan Pajang masih Berjaya.

Daerah Laweyan ditempati oleh para penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai para pedagang kain Batik. Bahkan Laweyan dikenal sebagai sebagai sebutan untuk kelompok tertentu yang dikenal sebagai kamu kaya atau wong Nglawiyan. Alasannya karena di Laweyan, kita akan menemukan banyak sekali pengrajin batik tulis jawa.

Menurut cerita, dulunya Laweyan berasal dari kata Lawiyan yang artinya berpindah-pindah. Karena dahulu kala banyak orang berpindah-pindah demi melindungi diri dari bencana banjir dari Bengawan Solo. Akhirnya daerah Laweyan digunakan oleh orang-orang dari Desa Nusupan sebagai tempat aman banjir.

4. Makam Pejabat Pajang

Makam Pejabat Pajang

* sumber: kekunaan.blogspot.com

Peninggalan Kerajaan Pajang yang tidak boleh terlewatkan yaitu kompleks pemakaman para bangsawannya. Di makam ini setidaknya ada 20 makam dari para pejabat dan kerabat dari Kerajaan Pajang. Salah satu makam yang paling dikenal yaitu makam dari Kyai Ageng Henis yang juga perintis dari berdirinya kerajaan Pajang.

Makam Kyai Ageng Henis ini menjadi salah satu makam yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Banyak wisatawan yang sengaja datang, hanya untuk berziarah dan berdoa di makam beliau. Biasanya para wisatawan akan menunaikan ibadah terlebih dahulu di Masjid Laweyan, setelah itu baru mengunjungi makam Kyai Ageng Henis.

Kyai Ageng Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo yang yang mengabdi kepada Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang. Menurut legenda, Ki Ageng Selo dikenal akan kesaktiannya dimana ia mampu menangkap petir.

5. Makam Sultan Hadiwijaya

Makam Sultan Hadiwijaya

* sumber: tumpi.id

Sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir adalah pendiri sekaligus raja dari Kerajaan Pajang. Jaka Tingkir meninggal dunia di tahun 1582 dan dimakamkan di kampung halaman sang ibunda. Sayangnya, lokasi dari makan Jaka tingkir ini ternyata tidak banyak diketahui oleh banyak orang.

Makam Jaka Tingkir berada di pelosok perkampungan masyarakat, tepatnya di Desa Butuh, Dusun II, Sragen. Berbeda dengan makam-makam raja-raja Solo dan Yogyakarta yang megah dan banyak dikunjungi wisatawan. Makam Jaka Tingkir ini sangatlah sederhana yang berada di kompleks pemakaman Butuh.

Dalam kompleks pemakaman itu terdapat satu masjid yang juga diberi nama Masjid Butuh. Makan dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya ini terbilang cukup sepi dari wisatawan karena lokasinya yang cukup sulit untuk ditempuh dan juga agak jauh dari perkotaan.

6. Bandar Kabanaran

Bandar Kabanaran

Bandar Kabanaran adalah sebuah situs yang bisa kita temukan di jalan Nitik, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Bandar Kabanaran ini berlokasi di tepi sungai Jenes yang merupakan anak sungai dari Sungai Bengawan Solo. Badar Kabanaran dulunya adalah Pelabuhan yang menghubungkan Kerajaan Pajang, Kampung Laweyan dan Badar Besar Nusupan di tepi Bengawan Solo.

Bandar Kabanaran digunakan sebagai jalur utama pedangangan dan juga transportasi masyarakat di sekitar sana. Bahkan ketika Laweyan di Kelola oleh Kyai Ageng Henis, daerah Badar Kabanaran mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tiap hari Bandar Kabanaran selalu ramai dilewati perahu-perahu yang membawa berbagai jenis barang menuju ke Bandar Nusupan.

Karena semakin berkurangnya debit air di Sungai Jenes, Bandar Kabanaran tidak digunakan lagi dan transportasi pun digantikan dengan yang lebih modern. Kini Bandar Kabanaran hanya menjadi sebuah alur sungai yang tidak terpakai dan terurus.

Sekian ulasan mengenai peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Pajang yang masih ada hingga sekarang. Sayang meski merupakan bukti sejarah, peninggalan-peninggalan Kerajaan Pajang ini tidak semuanya dikelola dengan baik. Hanya beberapa tempat saja yang kini bisa kalian kunjungi sebagai destinasi wisata saat berada di Kota Solo.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram