keluyuran web banner

5 Peninggalan Kerajaan Perlak Aceh yang Menarik Diketahui

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 18 Februari 2021

Kerajaan Perlak atau Peureulak adalah kerajaan Islam yang berdiri tahun 840 hingga 1992 di daerah Peureulak, Aceh. Kerajaan Perlak ini disebut-sebut sebagai Kerajaan Islam pertama yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara. Nama Perlak sendiri di ambil dari nama pohon kayu yang digunakan untuk pembuatan kapal yang banyak tumbuh di daerah ini.

Kerjaan Perlak menjadi salah satu kerajaan yang maju di bidang perdagangan karena letaknya yang sangat strategis sebagai Pelabuhan niaga. Bandar Khalifah di Kerajaan Perlak ini bahkan sangat tenar di kalangan pedagang Arab dan non-Arab. Sayangnya Kerjaan Perlak justru hancur karena pertarungan kekuasaan dari para penguasanya.

Kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Perlak. Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya kamu bisa membacanya di bawah ini.

1. Mata Uang Tertua

Mata Uang Tertua

* sumber: www.selasar.com

Sebagai kerajaan yang bidang perdagangannya cukup maju, tentu Kerajaan Perlak memiliki alat transaksi yang digunakan. Sesuai dengan penemuan yang ada, Kerajaan Perlak ternyata memiliki mata uangnya sendiri. Ada tiga jenis mata uang yang dibagi kedalam tiga jenis, yaitu uang dirham, uang kupang, dan kuningan.

Mata uang dirham atau emas adalah mata uang peninggalan Kerajaan Perlak yang juga sebagai mata uang tertua yang ada di Indonesia. Mata uang dirham ini memiliki keunikannya tersendiri, dimana pada satu sisinya terdapat tulisan “al A’la”. Di sisi lainnya pun terdapat tulisan “Sulthan”, tulisan tersebut dikatakan sebagai Putri Nurul A’al yang menjabat sebagai perdana Menteri saat itu.

Mata uang kedua adalah kupang, mata uang ini masih berbentuk koin yang hampir mirip dengan dirham. Mata uang kupang juga memiliki tulisan “Dhuribat Mursyid Am” dan “Syam Alam Barisyah” yang terdapat di kedua sisinya. Maksud dari tulisan tersebut mungkin namai Putri Mahkota Sultan Makhdum yang mengambil alih pemerintahan di bantu sang adik Abdul Aziz Syah.

Mata uang terakhir adalah kuningan, mata uang satu ini memang terbuat dari bahan-bahan tembaga. Di mata uang kuningan ini juga terdapat tulisan arab, sayangnya hingga sekarang belum bisa terbaca apa. Dari penemuan tiga jenis mata uang yang menjadi peninggalan Kerajaan Perlak ini membuktikan satu hal. Kerajaan Perlak adalah sebuah kesultanan yang pada masanya sudah berkembang dengan sangat pesat.

2. Stempel Kerajaan

Stempel Kerajaan

* sumber: www.selasar.com

Selain tiga jenis mata uang, temuan peninggalan Kerajaan Perlak lainnya yaitu sebuah stempel kerajaan. Namun hal yang cukup menarik perhatian justru bukan karena penemuan dari stempel kerajaan ini. Melainkan di dalam stempel peninggalan Kerajaan Perlak ini ternyata terdapat pola-pola dan tulisan arab.

Tepatnya di bagian bawah stempel ditemukan sebuah tulisan tertulis “Al Watsiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512”. Mungkin kita akan merasa aneh, kenapa tertulis Kerajaan Negeri Bendahara dan bukan tulisan Kerajaan Perlak. Padahal stempel ini di klaim sebagai salah satu peninggalan dari Kerajaan Perlak di Aceh.

Perlu kalian tahu, Kerajaan Bendahara ini dulunya termasuk dalam kerajaan-kerjaan di bawah Kesultanan Perlak. Jaman dahulu stampel kerajaan ini biasanya digunakan sebagai penanda dari sebuah kerajaan. Biasanya Stempel akan bubuhi pada berbagai macam dokumen penting kerajaan seperti surat-surat berharga, perjanjian, dokumen lahan kekuasaan, surat perintah dan lainnya.

3. Makam Raja Benoa

Makam Raja Benoa

* sumber: sultansinindonesieblog.wordpress.com

Selain kedua peninggalan di atas, di temukan juga sebuah makam salah satu raja yang terletak di pinggir Sungai Trenggulon. Makam ini bukan makam sembarangan karena makam ini diketahui adalah makam dari salah satu Raja Benoa. Keberadaan makam ini makin memperkuat keberadaan dan eksistensi dari Kerajaan Perlak di Aceh.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hassan Ambari, makam ini di perkirakan sudah ada pada abad ke 4 atau abad ke 11 Masehi. Hal ini di ketahui setelah mereka meneliti batu nisan yang berada di pemakaman ini. Di batu nisan ini juga terdapat beberapa tulisan, dimana semuanya menggunakan huruf-huruf arab.

Sedikit informasi, Benoa adalah salah satu Kawasan yang dimiliki oleh Kerajaan Perlak kala itu. Berdasarkan dari buku catatan Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi, Benoa dulunya adalah negara bagian dari Kerajaan Perlak.

Makam Raja Benoa mungkin tidak semegah makam-makam dari para raja yang ada di Indonesia. Tapi makam ini masih sering dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang datang ke Aceh. Makam Raja Benoa ini juga terlihat sederhana, hanya diberikan atap dan pinggirnya diberikan pagar. Namun suasana di pemakaman ini terlihat sangat bersih dan sangat terjaga.

4. Buku Zhufan Zi

Buku Zhufan Zi

* sumber: ganaislamika.com

Buku Zhufan Zi adalah sebuah buku dari seorang pemeriksa pabean asal negeri ginseng Cina, yaitu Zhao Rugua tahun 1225. Di dalam buku ini ternyata mengutip dari catatan seorang ahli Geografi Cina yang bernama Chou Ku-Fei. Buku ini menjelaskan adanya sebuah negeri Islam yang jaraknya sekitar 5 hari pelayaran dari pulau Jawa di tahun 1178.

Negeri Islam yang di ceritakan dalam buku Zhufan Zi ini, di percaya adalah Kerajaan Perlak di Aceh. Pasalnya Kerajaan Perlak ini juga di ketahui sering menjadi tempat singgah dari para kapal Arab, Cina dan lainnya. Pernyataan yang lebih spesifik dalam buku ini juga menyebutkan bahwasanya jarak dari Pulau Jawa ke Brunei memakan waktu hingga 15 hari.

Bukan hanya itu, pendapat mengenai hal ini juga di perkuat oleh catatan-catatan dari Marco Polo. Dalam catatannya Marco Polo mengatakan, sepulannya ia dari negeri Cina di tahun 1291 ia sempat singgah di sebuah negeri. Negeri itu di kenal dengan nama Ferlac, Marco Polo juga mengatakn bahwa di negeri itu banyak sekali penduduknya yang sudah memeluk agama Islam.

5. Naskah Hikayat Aceh

Naskah Hikayat Aceh  

Satu lagi yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Perlak di Aceh ini memang benar adanya yaitu isi dari naskah hikayat Aceh. Dalam naskah hikayat Aceh ini di jelaskan bahwa Kesultanan Perlak berdiri di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Syah. Dimana Sultan Alauddin Syah ini adalah raja pertama dari Kesultanan Perlak di Aceh.

Dalam hikayat ini juga mengungkapkan bagaimana penyebaran Islan di bagian utara Pulau Sumatera ini oleh seorang ulama asal Arab. Ulama tersebut Adalah Syaikh Abdullah Arif yang memulai dakwahnya di sana sejak tahun 506 hijriah atau 1112 masehi. Dari sinilah awal mula lahirnya Kerajaan Perlak yang di pimpin leh Sultan pertamanya yaitu Alauddin Syah.

Jika kalian belum tahu apa sih Hikayat itu. Hikayat adalah sebuah bentuk sastra prosa bahasa Melayu. Biasanya Hikayat ini berisikan cerita, dongeng atau kisah-kisah mengenai kepahlawanan yang memiliki kesaktian. Hikayat biasanya dijadikan sebagai hiburan bagi anak-anak untuk membangkitkan semangat juang dan memberikan contoh kebaikan.

Berikut adalah peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Perlak yang juga menjadi bukti bahwa kerajaan ini benar adanya di Indonesia. Jika dilihat-lihat Kerajaan Perlak ini seperti menjadi salah satu Kerajaan yang cukup di segani oleh para pedagang dan musafir.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram