10 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai yang Wajib Dilestarikan

Ditulis oleh - Diperbaharui 28 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Peninggalan sejarah merupakan warisan berharga yang harus dilestarikan oleh masyarakat. Selain dapat menumbuhkan rasa kecintaan pada negara, kehadiran benda-benda peninggalan sejarah pun menjadi identitas penting sebuah bangsa.

Nah, dari sekian banyak kerajaan yang ada di tanah air. Samudera Pasai adalah salah satu kerajaan berpengaruh di tanah air yang meninggalkan banyak jejak sejarah. Apa saja peninggalan kerajaan yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara? Simak ulasannya berikut ini ya!

1. Stempel Kerajaan Samudera Pasai

Stempel Kerajaan Samudera Pasai

Salah satu peninggalan dari kerajaan Islam yang berdiri tahun 1267 ini adalah stempel kerajaan Samudera Pasai. Stempel ini pertama kali ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Menurut para ahli sejarah kerajaan Islam, stempel kerajaan tersebut merupakan peninggalan pada masa kesultanan kedua, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Malikul Zahir.

Stempel yang terbuat dari tanduk hewan berukuran sekitar 2 x 1 cm tersebut diduga digunakan hingga akhir pemerintahan Sultan Zainal Abidin. Stempel kerajaan Samudera Pasai pun menjadi salah satu bukti kejayaan kerajaan Islam yang ada di Indonesia.

2. Dirham

Dirham

Peninggalan Samudera Pasai selanjutnya adalah mata uang Dirham. Mata uang logam Dirham diketahui mulai menyebar hampir keseluruhan wilayah yang ada di Sumatera sejak ditaklukan Aceh pada tahun 1524.

Dirham sendiri merupakan mata uang berbentuk logam yang terbuat dari 70% emas murni sebesar 18 karat. Pada salah satu sisi mata uang tersebut tercatat nama kesultanan kerajaan kedua yang bernama Muhammad Malik Al-Zahir. Sementara di sisi lain tertulis Al-Sultan Al-Adil yang berarti sultan yang membawa Keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Dirham menjadi alat tukar resmi dalam perdagangan di masa lalu seperti yang kita ketahui Samudera Pasai sendiri adalah sebuah kerajaan dagang yang terkenal maju.

3. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Peninggalan kerajaan Samudera Pasai Selanjutnya adalah naskah surat Sultan Zainal Abidin. Sultan Zainal Abidin adalah seorang Raja Ternate ke-18 yang telah memimpin kerajaan tersebut antara tahun 1486-1500. Naskah surat Sultan Zainal Abidin adalah surat yang ditulis olehnya sebelum diketahui wafat pada tahun 1518 Masehi.

Suratnya sendiri ditujukan untuk Kapitan Moran, yang merupakan kepercayaan dari Raja Portugis yang menduduki India. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin menceritakan kondisi Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-16 setelah bangsa Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511 Masehi.

4. Cakra Donya

Cakra Donya

Cina memang dikenal memiliki hubungan diplomatis yang cukup baik dengan Samudera Pasai. Salah satu bukti peninggalan bersejarah yang menjelaskan tentang hal itu adalah Cakra Donya. Cakra Donya adalah sebuah lonceng berbentuk stupa yang terbuat dari besi buatan Cina tahun 1409 Masehi.

Lonceng setinggi 125 sentimeter  dengan lebar 75 sentimeter tersebut merupakan hadiah dari kekaisaran Cina kepada Sultan Samudra Pasai. Dalam lonceng tersebut terdapat aksara yang ditulis dalam bahasa Arab dan Cina. Kedua bangsa tersebut memang dikenal sering melakukan hubungan perdagangan.

5. Makam Sultan Malik As-Shalih

Makam Sultan Malik As-Shalih

Sultan Malik As-Saleh adalah sultan kerajaan Islam pertama Samudera Pasai yang telah berkuasa sejak tahun 1267. Ia sendiri adalah salah satu raja yang bisa membaca Al-Quran. Nisan yang ada pada makam Sultan Malik As-Shalih merupakan peninggalan sejarah yang masih terjaga hingga saat ini.

Di dalam nisan tersebut tertulis kaligrafi Arab yang secara singkat menceritakkan makam seorang pemimpin yang terkenal, dihormati, dan taat beribadah dengan julukan Sultan Malik As-Salih. Dalam nisan tersebut tertulis juga tanggal wafatnya beliau, yaitu pada tahun 1297 Masehi, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan.

6. Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Selain terdapat nisan sultan pertama Samudera Pasai. Tak jauh dari lokasi makam sang Raja terdapat makam penerusnya, yaitu Sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Ia adalah putra sultan Malik Al-Saleh yang diketahui memimpin  kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-14 antara tahun 1287-1326 Masehi.

Pada masa kepemimpinannya, mata uang Dirham sudah mulai dicetak sebagai alat transaksi perdagangan internasional selama dua abad lamanya. Sultan Muhammad Malik Al-Zahir sendiri diketahui wafat pada tahun 1326 Masehi.

7. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Salah satu peninggalan bersejarah dari kerajaan Samudera Pasai yang juga masih bisa ditemukan hingga saat ini adalah makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah. Makam bersejarah tersebut terbuat dari batu marmer bertuliskan kaligrafi Arab.

Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah adalah seorang petinggi kerajaan yang menjabat sebagai Menteri Keuangan di Samudera Pasai. Ia sendiri dikenal sebagai cicit dari khalifah Al-Muntasir yang diketahui berasal dari Dinasti Abbasiyah. Nah, letak makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah sendiri berada di Gampong Kuta Krueng, kecamatan Samudera, kabupaten Aceh Utara.

8. Nisan Sultanah Nahrasiyah

Nisan Sultanah Nahrasiyah

Sultanah Nahrasiyah adalah keturunan dari Sultan Malik as-Saleh. Ia adalah Ratu pertama yang memimpin kerajaan Aceh. Sultanah Nahrasiyah diketahui wafat pada Tahun  1428 Masehi. Sementara makamnya terletak di Desa Meunasah Kuta Krueng, Kecamatan Samudera.

Makam Sultanah Nahrasiyah diketahui terbuat dari pualam yang diimpor langsung dari Gujarat, India. Karena bentuknya yang menawan, makam bersejarah ini terlihat cukup mencolok. Makam Sultanah Nahrasiyah adalah makam Sultanah pertama yang ada di Asia Tenggara.

Selain terdapat keterangan mengenai silsilah kerajaan dan tanda penghormatan untuknya, di makamnya terdapat sentuhan kaligrafi bertuliskan dua surat Al-Quran, yaitu Surat Yasin dan Surat Al Imran ayat 18-19.

9. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Peninggalan lain yang juga tak kalah menarik adalah makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah). Ratu Al-Aqla sendiri adalah putri dari Sultan Muhammad Malikul Dhahir yang wafat pada tahun 1380 Masehi. Makamnya sendiri berbentuk batu nisan yang bertuliskan kaligrafi yang dibuat dalam bahasa Arab dan bahasa Kawi.

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah) sendiri terletak di Gampong Meunje Tujoh kecamatan Matangkuli. Ratu Al-Aqla adalah keturunan dari raja pertama Samudera Pasai. Seperti yang kita ketahui bahwa Sultan Muhammad Malikul Dhahir adalah cucu dari raja pertama Samudera Pasai, yaitu Sultan Malik As-Saleh.

10. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Sisa peninggalan sejarah lainnya dari kerajaan Islam terbesar di tanah air adalah makam Teungku Peuet Ploh Peuet yang terletak di daerah Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera. Teungku Peuet Ploh sendiri merupakan komplek pemakaman para ulama Samudera Pasai yang meninggal akibat menentang pernikahan yang dilakukan oleh raja dan putri kandungnya.

Di dalam komplek pemakaman tersebut tak kurang dari 44 nisan para ulama menjadi korban kebiadaban. Nah, makan para ulama ini menjadi salah satu makam peninggalan sejarah terbesar yang pernah ada di tanah air. Di setiap bagian nisannya terdapat ukiran kaligrafi yang berisikan potongan surat Ali Imran ayat 18.

Nah, itulah 10 peninggalan kerajaan Samudera Pasai yang wajib dilestarikan. Keberadaan jejak sejarah di tanah air memang cukup beragam. Samudera Pasai sendiri merupakan salah satu kerajaan di tanah air yang cukup tersohor. Semoga informasi mengenai peninggalan kerajaan yang telah Bacaterus sampaikan dapat menumbuhkan rasa cinta masyarakat pada sejarah bangsa.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *