Inilah 10 Peninggalan Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Wajo adalah satu dari sekian banyak kerajaan yang ada di Indonesia. Kerajaan yang terletak di bagian Timur semenanjung Sulawesi Selatan ini berdiri pada abad ke-15. Wajo sendiri sempat berada di puncak kejayaan pada abad ke-18 melalui bidang perniagaan.

Wajo sendiri memang dikenal sebagai salah satu kerajaan yang cukup maju dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, kepemimpinan, demokrasi dan menunjung tinggi hak-hak rakyatnya.

Apa saja peninggalan yang diwariskan oleh Kerajaan Wajo Sulawesi Selatan? Untuk informasi selengkapnya, simak ulasannya berikut ini yuk!

1. Masjid Tello

Masjid Tello

* sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Mesjid Tello atau dikenal juga dengan nama mesjid Tosora, adalah masjid yang didirikan oleh Syekh Jamaluddin Akbar Husain sekitar tahun 1621. Mesjid Tello atau Tosora merupakan satu dari sekian banyak peninggalan bersejarah yang ada di Kabupaten Wajo.

Tosora sendiri adalah sebuah wilayah yang dahulu menjadi ibu kota Kabupaten Wajo. Struktur bangunan pada masjid ini memiliki kemiripan dengan struktur bangunan masjid yang ditemukan dibeberapa wilayah kerajaan Islam dimana bangunannya berbentuk bujur sangkar tanpa serambi.

Karena nilai sejarah yang dimiliki oleh masjid ini. Masjid Tosora pun menjadi salah satu bangunan yang masuk ke dalam daftar cagar budaya yang ada di Sulawesi Selatan.

2. Makam Assyiekh Al-Habib Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein

Makam Assyiekh Al-Habib Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein

Peninggalan Kerajaan Wajo yang masih dapat dilihat oleh masyarakat Wajo selanjutnya adalah Makam Assyiekh Al-Habib Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein. Beliau adalah orang yang berjasa dalam pembangunan masjid Tello atau Tosora yang ada di desa Tosora Kecamatan Majauleng.

Masyarakat Wajo sendiri mempercayai bahwa Assyiekh Al-Habib Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein merupakan salah satu keturunan dari nabi Muhammad SAW. Beliau cukup berjasa dalam penyebaran agama Islam pada masyarakat Wajo. Nah, makam ini sendiri kerap dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari segala penjuru Nusantara.

3. Mushola Tua Menge

Mushola Tua Menge

Peninggalan Kerajaan Wajo yang tidak kalah menarik adalah Mushola Tua Menge yang berada di Dusun Menge, Desa Tellulimpoe, Kecamatan Majauleng, Sulawesi Selatan. Mushola berukuran 9×10 meter ini telah berdiri sekitar tahun 1621 Masehi, yaitu sejak Islam masuk pertama kali pada tahun 1610. Mushola Tua Menge adalah salah satu tempat peribadatan kuno yang berusia cukup tua.

Islam sendiri menjadi agama yang mengalami perkembangan cukup pesat di wilayah tersebut. Sama seperti bangunan masjid yang ada di Tosora, hampir keseluruhan bangunan mushola terbuat dari campuran bahan yang sama, yaitu batu gunung, pasir dan telur.

4. Geddongnge (Gedung Mesiu)

Geddongnge (Gedung Mesiu)

Selain tempat ibadah, peninggalan kerajaan Wajo lainnya adalah gudang tempat menyimpan persenjataan yang lebih dikenal dengan sebutan Geddongnge atau Gedung Mesiu. Gedung mesiu dibangun untuk menyimpan sekaligus menyuplai persenjataan atau bahan peluru seperti meriam atau senapan di benteng pertahanan.

Gedung mesiu sendiri pada umumnya berbentuk segi empat dengan dinding setebal 20 sentimeter. Bangunannya sendiri bergaya Eropa. Di masa lalu, Gedung Mesiu menjadi tempat yang cukup penting dalam pertahanan kerajaan dari serangan musuh.

5. Makam Lataddampare’ Puang RI Maggalatung

Makam Lataddampare’ Puang RI Maggalatung

Peninggalan menarik selanjutnya adalah  Makam Lataddampare’ Puang RI Maggalatung. Lataddampare’ Puang RI Maggalatung adalah seseorang cukup berpengaruh di masa lalu. Ia kenal sebagai seorang cendekiawan, ahli strategi perang, ahli dibidang pertanian, sejarawan dan ahli hukum.

La Taddampare memiliki reputasi yang cukup baik. Bakat kepemimpinan sendiri telah diperlihatkan sejak usianya masih belia. Ia sendiri tercatat dua kalo menjabat sebagai Arung Matowa Wajo, yaitu pada 1482-1487 dan 1491-1521.

Meksipun tidak disebutkan secara persis kapan salah satu cendekiawan asal Wajo tersebut wafat, namun berdasarkan catatan sejarah, usia La Taddampare sendiri diperkirakan mencapai 80 tahun

6. Makam Lasalewangeng Tenriruwa

Makam Lasalewangeng Tenriruwa

Makam Lasalewangeng Tenri Ruwa adalah nama komplek pemakaman peninggalan kerajaan Wajo yang berada di Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Lasalewangeng Tenri Ruwa sendiri adalah nama Raja Bone yang pertama memeluk agama Islam dan berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Masyarakat yang ada di sana memang memiliki kebiasaan untuk tidak menuliskan nama dan waktu wafat sang raja di atas nisan. Namun, di makam itu sendiri terdapat 174 nisan dengan 5 tipe jirat makam dimana salah satunya nisan Arung Matowa beserta kerabatnya.

7. Makam Besse Idalatikka

Makam Besse Idalatikka

Nah, sisa peninggalan sejarah dari Kerajaan Wajo yang menarik adalah makam Besse Idalatikka. Besse Idalatikka diketahui sebagai wanita paling cantik yang ada di Tosora. Meski demikian, informasi tersebut memang belum bisa dipastikan kebenarannya.

Makam Besse Idalatikka terbuat dari kayu yang di datangkan langsung dari negara Malaysia. Sementara untuk ukiran yang terdapat pada makamnya dibuat di Kalimantan. Konon, nisan wanita yang terkenal ramah dan sopan tersebut dibuat dua bulan sebelum dirinya wafat.

Keberadaan nisan setinggi 2 meter pun menjadi saksi dimakamkan seorang putri bangsawan yang berani berjuang melawan Bone dan penjajah Belanda.

8. Makam LaTenrilai’Tosengngeng

Makam LaTenrilai’Tosengngeng

Makan lain yang menjadi saksi kejayaan kerajaan Wajo adalah makam salah seorang pemimpinnya yang bernama LaTenrilai’Tosengngeng. La Tenrilai’ Tosengngeng merupakan Arung Matowa ke-23. Ia sendiri adalah pengganti Arung Matowa sebelumnya, yaitu La Paremma Torewa Matinroe ri Passiringna.

La Tenrilai’ Tosengngeng sempat memimpin pemerintahan dari tahun 1658-1670. Ia adalah orang yang mendirikan Tosora sebagai Ibukota Kerajaan Wajo. La Tenrilai’ Tossengngeng diketahui meninggal ketika berperang melawan Bone dan Belanda.

Kematiannya sendiri memang memiliki banyak versi cerita dimana salah satunya meninggal karena ledakan meriamnya sendiri ketika hendak menyerang Belanda.

9. Makam La Maddukkelleng

Makam La Maddukkelleng

Selanjutnya ada Makam La Maddukkelleng. Ia adalah putra dari arung peneki La Mataesso To’ Ma’dettia dan We Tenriangka Arung Singkang. Melalui tulisan yang tertera pada nisan, Lamaddukelleng diketahui wafat pada tahun 1765.

Bentuk nisannya sendiri berupa bongkahan batu cukup besar yang diletakkan tepat di atas makam. Lamaddukelleng merupakan salah satu tokoh yang sukses menjadikan pasukan armada lautnya menjadi pasukan yang sangat ditakuti oleh pihak Belanda pada abad ke-17 saat berada di perairan Indonesia Timur.

Karena jasanya, ia sendiri kemudian dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No.109/TK/1998 tanggal 6 November 1998.

10. Saoraja Mallangga

Saoraja Mallangga

Peninggalan berikutnya adalah Saoraja Mallangga, yaitu rumah bagi kediaman raja. Saoraja Mallangga sendiri adalah rumah tempat tinggal Arung Battempola. Saoraja Mallangga menjadi salah satu peninggalan yang cukup menarik karena di dalamnya sendiri terdapat benda-benda bersejarah milik sang raja.

Saoraja diketahui telah mengalami perubahan untuk menjaga benda-benda bersejarah yang terdapat di dalamnya. Saoraja Mallangga kini menjadi museum keluarga. Berbagai peninggalan bersejarah dari para leluhur tampak tersimpan apik di tempat tersebut.

Nah, itulah 10 Peninggalan Kerajaan Wajo, kerajaan di sisi Timur Sulawesi Selatan. Keberadaan peninggalan kerajaan menjadi saksi sejarah yang dapat memberi pengetahuan bagi generasi setelahnya. Semoga informasi yang telah kami sampaikan di atas bisa bermanfaat.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *