8 Rumah Adat Jawa Barat yang Bisa Jadi Inspirasi untuk Hunian

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 23 Agustus 2021

Indonesia dikenal mempunyai keragaman budaya. Di tiap daerah, dari Sabang sampai Merauke, mempunyai kebudayaan yang unik. Bentuk rumah adat merupakan salah satu dari uniknya budaya Indonesia tersebut. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang juga memiliki beragam rumah adat.

Rumah adat Jawa Barat bentuk, proses pembuatan atau pun warnanya mempunyai filosofi tersendiri. Beberapa arsitektur rumah adat asal Jawa Barat di antaranya adalah Imah Badak Heuay, Imah Parahu Kumureb, Imah Jolopong, Imah Julang Ngapak, Imah Capit Gunting, Imah Togog Anjing, Rumah Adat Kasepuhan, serta Saung Ranggon. Mau tahu lebih detailnya? Simak ulasannya di artikel ini.

1. Imah Badak Heuay

Imah Badak Heuay

Di urutan pertama rumah adat Jawa Barat adalah Imah Badah Heuay. Rumah adat ini unik sekali karena memilik arti badak yang menguap. Nama itu disematkan pada rumah tersebut karena atap rumah bagian belakang sampai tepiannya mirip dengan badak yang sedang menguap. 

Gaya arsitektur dari Imah Badak Heuay sangat mirip dengan Rumah Togog Anjing. Rumah adat ini masih dapat ditemukan sampai saat ini di kota Sukabumi, khususnya di daerah pedesaan. 

Bahkan beberapa Imah Badak Heuay ini masih berdiri dengan kokoh dan terawat dengan  baik sekali. Ini karena banyak rumah adat ini yang difungsikan menjadi tempat tinggal oleh masyarakat Sukabumi.

2. Imah Togog Anjing

 Imah Togog AnjingSumber: courtina.id

Jenis rumah adat Jawa Barat yang kedua adalah Imah Togog Anjing. Arti dari rumah adat ini yaitu anjing duduk. Rumah ini memiliki desain atap 2 lapis. Atap bagian atas bentuknya segitiga, sedangkan atap bagian bawah menyambung atap bagian atas dan bagian depan menjorok sedikit. 

Atap bagian bawah yang menjorok ke depan difungsikan untuk peneduh bagian teras depan. Jenis atap rumah ini disebut juga dengan sorondoy. Rumah Togog Anjing ini desainnya dapat ditemukan di daerah garut. 

Keunikan dari rumah adat Jawa Barat ini juga digunakan dalam desain modern, khususnya di daerah pariwisata. Ini bagus sekali karena sekaligus memperkenalkan dan melestarikan rumah adat Jawa Barat.

Bentuk atap Rumah Togog Anjing sering digunakan oleh masyarakat lokal. Selain itu, desain atap ini digunakan juga untuk tempat peristirahatan, seperti pada hotel, bungalow, villa, serta homestay. Mereka juga mempertahankan desain dari jenis rumah ini.

3. Rumah Adat Jolopong

Rumah Jolopong adalah salah satu rumah adat Jawa Barat. Bentuk rumah adat ini dapat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Ini karena Rumah Jolopong mempunyai bentuk yang sangat sederhana dibandingkan rumah lainnya.

Jolopong sendiri mempunyai arti tergolek lurus atau terkulai. Desain rumah adat Jawa Barat ini juga dikenal dengan istilah suhunan. Rumah adat Jolopong ini paling mudah dijumpai di daerah Priangan Timur. Masyarakat banyak yang memilih desain rumah ini karena lebih hemat bahan bangunan.

Selain itu, desain rumah jolopong juga sederhana, tetapi tetap kokoh. Ciri khas rumah Jolopong yaitu bentuk atapnya yang memanjang serta berbentuk pelana. 

Atap rumah jolopong tersebut tidak mempunyai lekukan juga pernak-pernik lain. Sementara itu untuk ruangan, rumah ini memiliki emper atau teras, pankeh atau kamar, tengah imah atau ruang tengah, juga pawon atau dapur.

4. Imah Julang Ngapak

Imah Julang Ngapak

Rumah adat Jawa Barat lainnya yaitu Imah Julang Ngapak. Jenis rumah ini bisa ditemukan di kota Tasikmalaya. Gaya Julang Ngapak juga dapat ditemui di Bandung. Salah satu yang menggunakan desain rumah ini yaitu gedung Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya pada bentuk atap.

Dalam bahasa Indonesia Imah Julang Ngapak artinya ‘burung yang mengepakkan sayapnya’. Nama itu diberikan karena bentuk atapnya mirip dengan burung sayapnya sedang terkepak. Lebih tepatnya atap dari rumah adat ini berbentuk melebar pada sisi kanan dan kiri. 

Puncak atap memiliki kayu yang berbentuk V. ini membuat rumah ini secara keseluruhan terlihat seperti burung yang sayapnya sedang terkepak. Bagian atap rumah berbahan ijuk tanaman rumbia ataupun alang-alang. Kemudian ijuk diikat menggunakan rangka atap bambu. 

Walaupun dibuat dari ijuk, atap rumah julang ngapak kuat sangat dan tidak mudah bocor. Sedangkan di bagian bubungan, yaitu kerangka rumahnya, terdapat tiang penyangga yang disebut dengan cagak gunting atau dinamakan juga capit hurang.

5. Rumah Adat Kasepuhan

Rumah Adat KasepuhanSumber: batiqa.com

Rumah adat Kasepuhan merupakan rumah adat Jawa Barat yang berada di Cirebon yang lebih dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan. Bentuk rumah adat Jawa Barat ini beda dari yang lain karena berbentuk keraton. Adapun pendirinya adalah Pangeran Cakrabuana dan didirikan pada tahun 1529. 

Pangeran Cakrabuana merupakan putra Prabu Siliwangi  yang asalnya dari Kerajaan Padjajaran. Keraton ini adalah perluasan Keraton Pakungwati yang telah ada sebelumnya. Bagian yang ada di dalam Keraton Kasepuhan, di antaranya:

a. Pintu Gerbang Utama

Pintu gerbang utama mempunyai dua pintu gerbang. Gerbang pertama letaknya di bagian selatan sementara gerbang kedua letaknya di bagian utara kompleks. 

Gerbang pintu di bagian selatan disebut Lawang Sanga atau pintu sembilan. Sementara itu gerbang yang berada di utara disebut dengan Kreteg Pangrawit yang berupa jembatan.

b. Bangunan Pancaratna

Pancaratna ini berdenah persegi panjang yang ukurannya 8 x 8 m. Bangunan ini berlantai tegel, konstruksi atapnya ditunjang empat sokoguru yang terletak di atas lantai yang lebih tinggi serta 12 tiang pendukung yang berada di permukaan lantai yang lebih rendah. 

Bangunan Pancaratna memiliki fungsi utama yaitu sebagai tempat seba, atau tempat menghadap, pembesar desa maupun kampung. Nantinya seorang Demang atau Wedana yang akan menerima paseban ini. Letak bangunan ini terletak di sebelah kiri depan kompleks yang mengarah ke barat.

c. Bangunan Pangrawit

Bangunan Pangrawit terletak di sebelah kiri depan kompleks. Adapun posisi menghadap ke arah utara. Sementara asal nama Pancaniti sendiri terdiri dua kata, panca yang artinya jalan serta niti yang artinya raja atau atasan.

Fungsi utama dari bangunan ini yaitu menjadi tempat istirahat, juga tempat perwira melatih prajurit, serta sebagai tempat pengadilan.

6. Imah Perahu Kumureb

Imah Perahu Kumureb juga dinamakan dengan Imah Perahu Tengkurep. Rumah adat Jawa Barat ini memiliki arti perahu terbalik atau juga perahu yang tengkurap. Sementara itu, desain rumah ini memiliki bentuk bidang trapesium jadi terlihat mirip dengan perahu yang terbalik.

Dari semua jenis rumah adat ini rumah berbentuk perahu tengkurap sangat jarang ditemui. Ini karena rumah ini mempunyai kelemahan, yaitu mudah sekali bocor. Sebagian besar daerah di Jawa Barat mempunyai curah hujan cukup tinggi sehingga desain rumah ini tidak efektif sekali.

Namun, terdapat beberapa yang tetap mempertahankan gaya arsitektur rumah perahu tengkurap ini. Rumah adat ini hanya bisa dijumpai di daerah ciamis. Itu pun hanya beberapa rumah saja.

7. Imah Capit Gunting

Imah Capit Gunting merupakan rumah adat tertua yang berada di Jawa Barat. Nama lain untuk Imah Capit Gunting yaitu susuhunan. Selain itu ada juga sebutan lain untuk gaya rumah ini yang dinamakan undagi atau tata arsitektur. 

Gaya Imah Capit Gunting mempunyai arti gunting atau pisau yang berada dalam posisi menyilang. Di dalam bahasa Sunda, capit memiliki arti mencapit atau menjepit sesuatu. Sementara gunting yaitu  sebuah alat yang dipakai untuk memotong.

Desain atap rumah ini juga mirip dengan gunting atau pisau yang berada dalam posisi menyilang. Pada ujung atap bagian depan maupun belakang memiliki sebuah bambu. Bambu tersebut posisinya membentuk huruf ” x “.

Rumah ini kebedaradaan jarang dijumpai karena rumah adat ini adalah rumah yang paling kuno. Untuk sekarang ini sabagian besar penduduk di Jawa Barat memakai desain rumah minimalis serta rumah adat lainnya. Akan tetapi beberapa tempat wisata memiliki desain rumah adat ini.

8. Saung Ranggon

Saung Ranggon

Jenis rumah adat Jawa Barat yang terakhir terletak di Kampung Cikedokan. Saung Ranggon diperkirakan dibangun oleh Pangeran Rangga, yaitu putra Pangeran Jayakarta di sekitar abad ke-16. Pangeran Rangga datang ke Kampung Cikedokan kemudian memutuskan tinggal di daerah tersebut.

Saung Ranggon adalah jenis bangunan adat yang dijadikan sebagai tempat untuk menunggu padi atau pun palawija lainnya yang akan dipanen. Oleh sebab itu, Saung Ranggon terletak di tengah ladang.

Bangunan saung dibuat dengan tinggi sekitar 3 - 4 meter agar terhindar dari serangan hewan buas seperti harimau, babi hutan, dan hewan lainnya yang saat itu banyak berkeliaran. Luas bangungan kira-kira 500 m2 dan arahnya menghadap ke selatan. Saung Ranggon terbuka tanpa sekat pemisah.

Itulah rumah adat Jawa Barat yang bisa kamu temui di tatar Sunda ini. Rumah adat Jawa Barat mempunyai beberapa bentuk. Dalam masyarakat Sunda juga mempunyai satu rumah adat tertua juga Keraton Kasepuhan yang adalah ikon pariwisata Provinsi Jawa Barat. Desain atap rumah adat Jawa Barat sekarang ini sudah mendapatkan sentuhan modernisasi.

Rumah adat yang sudah dijelaskan di atas dapat dijadikan inspirasi bagimu ketika akan membangun hunianmu. Kamu bisa mengadaptasi model juga bentuk bangunannya. Sedangkan untuk material juga fasilitasnya, contohnya dekorasi, furnitur, serta perabotan dapat disesuaikan dengan seleramu. Tertarik untuk mencoba?

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram