keluyuran web banner

5 Rumah Adat Kalimantan Barat dari Suku Dayak dan Melayu

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 22 April 2021

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai julukan “Provinsi Seribu Sungai”. Provinsi ini juga mempunyai kekayaan adat serta budaya yang beragam. Bukti dari beragamnya budaya adalah jenis tarian yang dimiliki daerah ini seperti tari pedang, tari pingan, tari monong, tari janggon, dan tarian lainnya.

Selain tarian, Provinsi Kalimantan Barat juga mempunyai kekayaan adat dan budaya lainnya, yaitu rumah adat Kalimantan Barat. Salah satu rumah adat yang populer di Kalimantan Barat yaitu rumah panjang. Namun, selain rumah panjang, ada juga beberapa rumah adat lain yang juga menjadi ciri khas Kalimantan Barat. Yuk simak ulasannya di artikel ini!

1. Rumah Betang Radakng

Rumah Betang Radakng

Seperti namanya, rumah adat Kalimantan Barat ini mempunyai bangunan yang lumayan panjang, yakni sekitar 138 meter panjangnya dan lebarnya sekitar 6 sampai 7 meter. Adapun jumlah ruangannya kira-kira 50 ruangan.

Bangunan rumah adat ini konstruksinya terbuat dari kayu dengan tinggi kira-kira 5 sampai 8 meter. Rumah adat ini dilengkapi dengan tiang penyangga yang fungsinya adalah untuk menghindari binatang buas juga bencana banjir.

Rumah Panjang khas Kalimantan Barat yang memiliki bangunan yang cukup luas serta jumlah ruangan yang banyak ini biasanya ditinggali oleh beberapa keluarga. Tak hanya sebagai tempat tinggal, rumah panjang juga difungsikan sebagai tempat untuk pelaksanaan berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Kegiatan yang biasa dilakukan contohnya pertemuan sampai upacara adat. Rumah adat ini memang dibuat khusus untuk agar dapat menampung ratusan orang. Terdapat halaman yang cukup luas di depan bangunan ini sehingga bisa dipakai untuk melaksanakan bermacam upacara adat.

Rumah radakng sendiri adalah sebutan bagi rumah panjang milik suku Dayak Kanayatn yang tinggal di Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan rumah adat ini dapat memecahkan rekor MURI untuk rumah adat terpanjang di nusantara. Konon disebutkan juga sebagai rumah adat yang terbesar di dunia.

Salah satu daya tarik dari rumah adat ini yaitu adanya burung enggang gading yang merupakan simbol kekuatan juga kegagahan di kalangan masyarakat suku Dayak. Sama halnya dengan enam tiang besar yang menjadi ciri khas lainnya dari rumah adat ini.

Hiasan serta ornamen ukiran yang terdapat pada rumah adat ini tak hanya berfungsi untuk memperindah bangunan tapi juga mempunyai makna filosofinya. Sementara tangga atau disebut juga hejot yang dimiliki oleh rumah adat ini jumlahnya harus ganjil.

Biasanya rumah ini memiliki 3 buah anak tangga, yaitu di bagian tengah rumah, di ujung kanan dan ujung kiri. Tangga ini mengarah ke badan bangunan yang berada di bagian atas. Bagian rumah ini dibuat dari kayu ulin.

Kayu ulin merupakan jenis kayu khas Kalimantan yang dikenal sebagai kayu yang kuat dan tak gampang lapuk. Sedangkan bagian atap dibuat dari ijuk atau genting.  Rumah adat ini dibagi menjadi dua, yakni bagian depan serta belakang.

Biasanya di bagian depan terdapat sebuah bale untuk menerima tamu. Sementara di bagian dalam terdapat ruangan dalam jumlah yang banyak yang diberi sekat. Biasanya ruangan ini dihuni oleh beberapa keluarga.

Berbeda dengan situasi sekarang ini, kehidupan suku Dayak di waktu dulu umumnya bersifat komunal sehingga mereka bersama-sama tinggal dalam satu rumah besar. Rumah adat ini juga merupakan simbol dari kerukunan hidup suku Dayak yang kental dengan budaya gotong royongnya.

Selain itu, proses pembuatan rumah adat ini juga tak boleh sembarangan. Dalam pembangunannya harus memenuhi beberapa persyaratan. Misalnya, hulu harus menghadap ke arah matahari terbit, sedangkan hilir harus menghadap ke arah matahari terbenam.

Aturan ini adalah simbol dari usaha serta kerja keras yang dimulai semenjak terbit matahari sampai terbenamnya matahari. Walaupun keberadaan rumah adat ini keberadaannya sudah mulai sulit untuk ditemukan, Rumah betang radakng asli masih bisa dilihat di Dusun Saham, Kabupaten Landak.

2. Rumah Panjang

Rumah Panjang

Rumah adat panjang yang merupakan salah satu rumah adat Kalimantan Barat ini sekarang keberadaannya sudah semakin berkurang. Bisa dikatakan kalau rumah ini sudah hampir punah.  Hal ini dikarenakan pemerintah menghancurkan beberapa rumah pada tahun 1960an.

Alasan penghancurannya karena penduduk rumah adat panjang dicurigai sebagai pengikut komunis. Padahal rumah adat ini adalah pusat dari kehidupan penduduk Dayak Kalimantan Barat. Bila dilihat dari segi bentuk, rumah adat ini hampir sama dengan rumah adat khas Kalimantan Tengah.

Menilik dari namanya yaitu rumah panjang, rumah tradisional ini mempunyai ukuran yang tidak biasa. Panjang rumah adat ini mencapai 180 meter dan lebarnya mulai dari 6 sampai 30 meter. Sementara tinggi rumah ini mencapai 5 sampai 8 meter dan dibuat dari bahan kayu.

Rumah adat ini berupa rumah panggung sehingga untuk bisa mencapai bagian dalam rumah harus menaiki  tangga. Biasanya tangga rumah memiliki jumlah yang ganjil dan disesuaikan dengan luas rumah. Semakin besar ukuran rumah maka akan semakin banyak jumlah tangganya.

Tangga rumah adat Kalimantan Barat ini dibuat dari kayu ulin yang memang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa. Bagian lantai rumah dibuat dari belahan bambu atau bisa juga kayu dan batang pinang yang dibentuk bulat.

Papan digunakan sebagai sekat untuk dinding. Biasanya rumah adat ini memiliki sebuah ruangan yang difungsikan seperti aula dan digunakan sebagai ruangan untuk pertemuan dan beragam aktivitas lainnya misalnya berkumpul, menyulam, menganyam, dan lain-lain.

Sementara itu bagian belakang rumah biasanya terdapat ruangan yang difungsikan untuk menyimpan alat pertanian. Untuk kandang hewan ternak didesain menyatu dengan rumah. Hal itu karena penduduk Dayak beranggapan hewan ternak sebagai harta kekayaan mereka.

Rumah Panjang di Kalimantan Barat secara garis besar dibagi menjadi 4 bagian utama, yakni:

  • Pante terletak di bagian depan dan fungsinya sebagai teras rumah. Biasanya ruangan ini digunakan oleh para penghuni rumah pada pagi atau sore hari untuk bersantai.
  • Bilik adalah kamar tidur untuk penghuni rumah. Tempat ini mempunyai ukuran kurang lebih 6×6 meter dan jumlah ruangannya bergantung dari banyaknya anggota keluarga yang menghuni di rumah tersebut. Umumnya dalam satu bangunan rumah ada sekitar 24 bilik.
  • Samik adalah ruang tamu sekaligus ruang untuk berkumpul para penghuni rumah saat harus melakukan musyawarah untuk perkara adat. Ruangan ini mempunyai meja atau pane yang dipakai untuk duduk juga sebagai tempat tidur untuk tamu yang menginap.
  • Uakng Mik terletak di belakang rumah. Tempat ini merupakan dapur yang dipakai oleh penghuni rumah untuk kegiatan memasak makanan. Umumnya kaum wanita memasak secara bersama-sama dan juga dimakan oleh seluruh anggota keluarga secara bersama-sama pula.

3. Rumah Betang

Rumah Betang

Rumah betang bentuknya mirip dengan rumah panjang yang berbentuk persegi panjang serta memanjang ke arah samping. Ukuran rumah ini pun sama luasnya. Panjang yang dimiliki rumah ini sekitar 150 meter, sedangkan lebarnya sampai 30 meter. Bahkan ada juga yang lebih besar dari ini.

Yang membedakan rumah ini dengan rumah panjang yaitu ukuran tangganya yang lebih besar. Sementara itu tangga rumah betang dibuat dengan ukuran yang lebih proporsional. Rumah betang strukturnya berupa rumah panggung yang ketinggiannya sekitar 3 - 5 meter dari permukaan tanah.

Seperti rumah panjang, rumah adat Kalimantan Barat ini juga ditinggali oleh beberapa kepala keluarga beserta anggota keluarganya masing-masing. Secara turun-temurun keluarga ini tinggal bersama di rumah yang sama. Tiap keluarga menempati bilik masing-masing. 

Sebenarnya masyarakat Dayak selain hidup bersama di rumah betang, mereka juga mempunyai rumah tunggal. Rumah tersebut dibangun sementara dan dikhususkan untuk kegiatan aktivitas bertani atau berladang karena jarak ladang dari rumah betang biasanya cukup jauh dari ladang.

4. Rumah Baluk

Rumah Baluk

Rumah baluk adalah rumah adat Kalimantan Barat lainya yang asalnya dari suku Dayak Bidayuh. Bentuk rumah ini cenderung berbeda sekali dengan rumah tradisional lainnya dan ini menjadi ciri khasnya.

Rumah adat baluk mempunyai bentuk bangunan yang bundar serta diameter sekitar 10 meter dengan tinggi yang mencapai 12 meter. Pondasi rumah baluk ditopang menggunakan beberapa kayu penopang serta 20 tiang kayu utama.

Terdapat filosofi pada tingginya bangunan rumah adat ini yaitu penggambaran dari kedudukan ataupun tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.

Rumah adat milik suku Dayak Bidayuh ini mempunyai fungsi sebagai tempat untuk diselenggarakannya ritual untuk suku tersebut. Biasanya acara ritual ini diadakan secara tahunan pada tanggal 15 Juni setelah menuai padi juga untuk menghadapi musim tanam tahun selanjutnya.

5. Rumah Adat Melayu

Rumah Adat Melayu

Selain suku Dayak, Pulau Kalimantan yang juga dihuni oleh suku Melayu. Suku ini pun mempunyai rumah adatnya sendiri sehingga rumah adat Kalimantan Barat menjadi sangat beragam. Suku Melayu mempunyai rumah adat yang berbentuk rumah panggung dan bisa ditemukan di Pontianak.

Salah satu rumah adat Melayu ini difungsikan menjadi balai kerja yang berfungsi untuk sekretariat Pertemuan Bali Rakyak. Selain itu digunakan juga sebagai kios penjualan dan taman bermain. Tiap-tiap ruangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda, mulai dari penginapan sampai acara adat.

Rumah adat suku Melayu ini juga difungsikan sebagai pusat kebudayaan Melayu. Tak hanya itu, rumah ini juga telah diresmikan sebagai destinasi wisata. Rumah adat ini, dari segi bangunan, di bagian atapnya mendapat pengaruh dari bangunan Jawa.

Atapnya yang berbentuk segitiga memiliki tinggi 30 derajat dan berfungsi sebagai aliran udara jadi di dalam rumah tidak akan terasa panas. Di bagian bawah rumah terdapat kolong yang berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan.

Rumah adat merupakan warisan budaya yang menjadi kekayaan negeri ini. Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang didiami oleh beragam suku. Adapun  dua suku terbesar tersebut adalah Melayu dan Dayak. Maka tak mengherankan bila kedua budaya ini memiliki pengaruh yang besar untuk rumah adat Kalimantan Barat.

Setiap rumah adat mempunyai ciri khas juga keunikan tersendiri. Namun sekarang beberapa rumah sudah sulit untuk ditemukan karena hampir mengalami kepunahan. Sangat disayangkan jika rumah adat ini punah, bukan?

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram