Lamin, Rumah Adat Kalimantan Timur yang Penuh Makna

Ditulis oleh Rizky Maisyarah - Diperbaharui 29 Mei 2021

Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi yang menawarkan ragam wisata alam dan kebudayaan yang memukau. Tak heran jika provinsi yang beribukota Samarinda ini kerap dijadikan tujuan untuk berwisata alam maupun pendidikan. Salah satu kebudayaan yang menarik dari Kaltim adalah rumah adatnya, Lamin.

Meski tak banyak yang tahu, Lamin telah lama menjadi salah satu ikon provinsi dengan julukan Benua Etam ini, lho. Bedanya Lamin dengan rumah adat yang lain terletak dari arsitekturnya yang megah dan tata ruang di dalamnya. Terlebih dengan hiasan berupa ukiran dinding khas suku Dayak yang membuatnya semakin autentik.

Nah, untuk mengenal lebih jauh mengenal Lamin selaku rumah adat Kalimantan Timur, Keluyuran akan membagi info lengkapnya mulai dari karakteristik, arsitektur, tata ruang hingga makna filosofisnya. Simak lengkap artikelnya berikut ini, ya.

Suku Dayak di Kalimantan Timur dan Karakteristik Rumah Adatnya

Suku Dayak di Kalimantan Timur dan Karakteristik Rumah Adatnya

Kalimantan Timur yang didiami suku Dayak memiliki arsitektur rumah adatnya yang sangat unik dan khas sebagai cerminan budayanya. Rumah adat tersebut biasa disebut rumah Panjang atau Lamin.

Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Kutai Barat, terdapat suku Dayak. Suku Dayak sebagian besar bermata pencaharian berburu binatang di hutan, menangkap ikan di sungai, mencari madu, sarang burung walet, dan berladang.

Sejarah tertua yang tercatat pada suku Dayak di Kutai Barat dimulai ketika pada masa raja Aji Tulur Jejangkat sekitar abad ke-14 Masehi, sedangkan rumah Lamin pertama kali dirancang oleh Mok Manor Bulatn yaitu istri raja Aji Tulur Jejangkat.

Jika dilihat dari segi kebudayaannya, suku Dayak kurang mengenal budaya baca tulis dan lebih mengutamakan cerita tutur secara lisan yang diwariskan secara turun temurun. Adapun kepercayaan suku asli Kalimantan ini adalah animisme, yaitu percaya adanya roh-roh leluhur yang baik maupun yang jahat.

Kepercayaan suku Dayak itu membuat mereka melakukan upacara adat atau ritual secara rutin. Mulai dari melaksanakan pengorbanan seekor kerbau pada saat ada bayi yang lahir maupun ketika menjalankan upacara pernikahan. Selain itu, suku Dayak juga percaya bahwa beberapa penyakit dapat disembuhkan melalui ritual adat tersebut.

Nah, di Kabupaten Kutai Barat sendiri terdapat beberapa kelompok suku Dayak yang menempatinya. Kelompok tersebut meliputi Dayak Tonyooi, Benuaq, Bahau, Punan, Kenyah dan Aoheng.

Keenam kelompok suku Dayak itulah yang membuat rumah Lamin berperan sebagai rumah tinggal bersama secara berkelompok atas dasar asas kebersamaan dan berfungsi sebagai tempat kegiatan upacara ritual ataupun persembahan. Lewat alasan tersebutlah, rumah Lamin dibangun dengan kapasitas yang cukup besar bahkan dikatakan dapat menampung kurang lebih 100 orang dalam satu bangunan.

Tak hanya digunakan sebagai tempat tinggal semata, rumah Lamin juga digadang-gadang dapat dijadikan tempat berlindung bagi masyarakat Kalimantan Timur dari mara bahaya ilmu hitam dan sejenisnya. Perlindungan ini diwujudkan dengan ragam corak ukiran yang terpatri di luar dinding rumah ada tersebut.

Kemudian pada tahun 1967 silam, pemerintah akhirnya meresmikan Lamin sebagai rumah adat tradisional dari Kalimantan Timur.

Arsitektur Lamin sebagai Rumah Adat Kalimantan Timur

Arsitektur Lamin sebagai Rumah Adat Kalimantan Timur

Arsitektur rumah adat Lamin pada dasarnya dipengaruhi oleh kebudayaan suku Dayak dan kondisi geografis di Kalimantan Timur.

Rumah Lamin dirancang sangat baik dalam mengantisipasi gangguan sebagai implikasi dari kondisi iklim dan lingkungan di Kalimantan Timur yang berjenis tropis lembab. Penggunaan bahan-bahannya pun dapat dikatakan sangat ramah lingkungan karena sepenuhnya dari hasil hutan sebagai bentuk pemanfaatan Sumber Daya Alam sekitar.

Rumah adat Lamin itu sendiri berjenis rumah panggung yang terdapat tiang-tiang penyangga di bawahnya. Sama seperti rumah panggung pada umumnya, rumah Lamin dibuat secara keseluruhan dari kayu. Hal yang berbeda dari bahan pembangunan rumah Lamin adalah bahan dasarnya yang merupakan kayu ulin.

Kayu ulin ini terkenal sebagai bahan kayu yang tidak mudah lapuk dan tahan lama. Apabila terkena air, maka kayu khas Kalimantan tersebut justru akan menjadi lebih kuat lagi. Tak heran jika komposisi utama rumah Lamin sepenuhnya terbuat dari jenis kayu yang satu ini.

Sesuai dengan fungsinya, rumah adat Lamin bisa menampung 12 sampai 30 keluarga atau jika dihitung dalam satuan bisa mencapai 100 orang dalam satu rumah. Itulah kenapa bangunan adat yang satu ini dibangun dengan cukup megah dan luas. Rumah Lamin biasanya memiliki panjang 200 hingga 400 meter dengan lebar antara 15 hingga 25 meter.

Sama seperti rumah panggung pada umumnya pula, rumah Lamin memiliki tiang-tiang penyangga di bawahnya dengan ketinggian dapat mencapai tiga meter, sehingga space berupa kolong di bawah rumah yang begitu besar.

Jumlah tiang-tiang penyangga yang digunakan juga sangat banyak mengingat ukuran rumah Lamin yang begitu besar dan penghuninya yang sangat banyak. Tiang penyangga tersebut memiliki bentuk silinder di bawah rumah.

Hal yang menjadikan rumah Lamin ini unik adalah ukiran etnik yang terdapat pada setiap bangunannya. Ragam ukiran tersebutlah yang membuat rumah Lamin lebih menawan dan terlihat mewah. Motif ukiran yang tertera pada rumah adat Kalimantan Timur yang satu ini biasanya dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan dan objek lainnya.

Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa ukiran etnik pada rumah Lamin memiliki makna tersendiri, dimana ukiran ini dipercaya untuk menjaga seluruh penghuni rumah dari ancaman ilmu hitam yang bisa menyerang mereka kapan saja.

Tradisi Ngayau dalam Pembangunan Rumah Adat Lamin

Tradisi Ngayau dalam Pembangunan Rumah Adat Lamin

Dahulu kala terdapat tradisi khusus yang digelar oleh suku Dayak ketika berhasil menyelesaikan pembangunan rumah Lamin. Tradisi tersebut biasa dikenal dengan sebutan Ngayau yang merupakan sebuah tradisi ekstrem dengan memotong kepala manusia dari suku lain untuk ditanam pada bawah tiang rumah Lamin yang selesai dibangun.

Tradisi inilah yang kemudian sering memantik api konflik antara suku Dayak dengan suku lain, hingga akhirnya tradisi ini mulai dilarang sejak zaman penjajahan Belanda yang saat itu menguasai Nusantara termasuk provinsi Kalimantan Timur.

Tata Ruang Rumah Adat Kalimantan Timur

Tata Ruang Rumah Adat Kalimantan Timur

Secara umum, rumah adat Lamin ini terdiri dari setidaknya 3 ruang dasar yang utama meliputi ruang tamu, dapur dan bilik. Tata ruang tersebut tidak dibuat secara asal-asalan, melainkan dibangun sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya yang akan dihuni oleh kelompok individu dengan jumlah mulai dari 12 hingga 30 keluarga.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, rumah Lamin memang dibangun secara khusus agar dapat menampung banyak orang sekaligus. Hal inilah yang menyebabkan tata ruang rumah adat Lamin dirancang supaya tiap keluarga memiliki satu ruang dapur, satu bilik khusus bagi yang sudah menikah, dan satu ruang tamu yang sebenarnya berfungsi sebagai ruang publik karena memanjang menjadi satu ruang di sepanjang depan bilik-bilik keluarga.

Selain sebagai ruang pertemuan, ruang tamu maupun ruang keluarga juga berfungsi sebagai tempat tidur bagi anak-anak yang belum berkeluarga.

Makna Ukiran atau Lukisan pada Rumah Adat Lamin

Makna Ukiran atau Lukisan pada Rumah Adat Lamin

Rumah Lamin biasanya memiliki ukiran ataupun lukisan yang bermotif manusia, hewan, maupun raksasa dengan warna-warna tertentu.

Adapun makna dari warna-warna yang dimaksud, misalnya warna kuning yang melambangkan kekayaan, keluhuran, dan keagungan; warna merah melambangkan keabadian; warna putih melambangkan kesucian dan kesederhanaan; serta warna hitam yang melambangkan penolak bala atau penolak bencana.

Itulah tadi informasi singkat mengenai rumah Lamin, yang telah sejak lama menjadi salah satu ikon serta rumah adat provinsi Kalimantan Timur. Selain kental dengan budaya yang terus dilanjutkan secara turun temurun, rumah Lamin juga termasuk ke dalam rumah adat yang pembangunannya ramah lingkungan dan mengandung unsur-unsur preventif menghadapi gangguan sebagai akibat dari iklim di Kalimantan Timur.

Adapun nilai sosial-budaya yang terkandung dalam rumah adat Lamin yakni pentingnya bersosialisasi dan saling berbagi serta melindungi sesama manusia dalam ikatan kebersamaan atau kekeluargaan.

Nilai-nilai kebudayaan suku Dayak di Kalimantan Timur juga tidak bisa dilepaskan dari eksistensi rumah adat Lamin hari ini. Maka dengan melestarikan rumah adat tersebut berarti melestarikan warisan kebudayaan suku Dayak pula sebagai kekayaan budaya Republik Indonesia.

Bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk berkunjung ke Kalimantan Timur dan mengunjungi rumah adatnya? Tak hanya menawarkan ragam budayanya yang ciamik, provinsi ini juga memiliki segudang destinasi wisata alam yang tak akan kamu dapatkan di kota-kota metropolitan.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram