Mengenal 3 Rumah Adat Maluku yang Penuh dengan Keunikan

Ditulis oleh Siti Hasanah

Maluku di masa penjajahan merupakan salah satu daerah yang banyak diperebutkan karena provinsi ini memiliki kekayaan rempah-rempah yang berlimpah. Bahkan sebelum masa penjajahan, Maluku sudah merupakan pusat perdagangan rempah dunia. Sampai sekarang bahkan Maluku memiliki julukan sebagai Kepulauan Rempah.

Tak hanya rempah-rempah yang menjadi kekayaannya, Maluku juga memiliki alam yang indah dan budaya yang beraneka ragam dari mulai seni musik, seni tari hingga rumah adat. Terdapat tiga jenis rumah adat Maluku yang ada hingga sekarang. Apa sajakah rumah adat tersebut? Yuk, simak ulasannya di sini.

1. Rumah Baileo

Rumah Baileo

Baileo merupakan sebutan untuk rumah adat Maluku. Kecamatan Saparua yang masuk ke dalam Kabupaten Maluku Tengah adalah salah satu daerah di Maluku tempat bangunan rumah adat ini bisa ditemukan terpelihara dengan baik.

Dari lama situs Kapata Arkeologi Kemdikbud disebutkan bahwa rumah baileo tidak digunakan sebagai rumah tinggal, tetapi hanya dipakai ketika pelaksanaan acara adat ataupun keagamaan. Dilihat dari fungsinya, rumah baileo hampir mirip dengan kata balai di dalam bahasa Indonesia.

Rumah baileo yang bisa dilihat di kebanyakan negeri adat yang berada di Kecamatan Saparua pada umumnya memiliki ukuran yang cukup luas. Baileo hanya memiliki satu ruangan yang tidak disekat. Bentuk rumah ini adalah rumah panggung atau juga rumah berkolong dengan denah persegi.

Pondasi rumah berbahan dasar kayu dan papan. Untuk atapnya digunakan daun sagu. Akan tetapi perkembangannya sekarang ini, beberapa bangunan-bangunan ini sudah memakai material modern contohnya semen dengan atap seng.

Meskipun demikian, hal ini tak memengaruhi nilai rumah baileo itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat setempat tetap menjaga nilai adat yang terefleksi dari pemeliharaan serta pelestarian baileo sehingga rumah adat Maluku ini masih ada hingga sekarang.

Penduduk asli Pulau Seram, Ambon adalah suku Huaulu. Baileo mempunyai arti penting bagi eksistensi suku Huaulu. Ini karena rumah baileo tak hanya berfungsi menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk membahas beragam masalah, juga sebagai tempat untuk membicarakan strategi perang.

Baileo pada masa lalu juga biasa digunakan sebagai rumah raja atau kepala desa serta tempat beribadah. Biasanya sebelum membangun rumah baileo, suku Huaulu akan melaksanakan upacara dengan bermacam-macam ritual di dalamnya.

Kabarnya, ketika membangun rumah baileo dalam ritual tersebut suku Huaulu harus memakai tengkorak manusia. Adapun tengkorak yang dipakai tersebut adalah miliki para musuh suku Huaulu yang sudah mati. Tengkorak tersebut dibuat menjadi pondasi utama bagi tiang-tiang seluruh bangunan. Namun saat ini, ritual tersebut tak lagi diterapkan.  


Masyarakat suku Huaulu sekarang ini memakai tempurung kelapa untuk mengganti tengkorak manusia yang akan digunakan sebagai pondasi bangunan baileo.

Dari segi arsitektur rumah adat ini mempunyai banyak tiang penyangga yang umumnya diberi hiasan ukiran. Untuk masuk ke dalam rumah adat ini menurut tradisi tamu diharuskan menaiki sebuah tangga yang ukurannya sekitar 1,5 meter.

Prosesi ini akan membawa para pengunjung masuk ke ruang utama baileo yang adalah ruang untuk berkumpulnya seluruh warga desa. Ruang utama baileo tampilannya cukup besar serta terbuka tanpa menggunakan penyekat pintu atau jendela.

Di sisi kiri dan kanan rumah terdapat tempat duduk yang panjang sekali. Letak tempat duduk ini mengelilingi bangunan serta bisa dipakai untuk bermacam hal seperti duduk, rapat, bahkan makan besar secara bersama-sama.

Di salah satu sudut rumah baileo, bisa ditemukan satu ruangan yang umumnya digunakan sebagai area privasi yaitu berupa kamar tidur. Kamar ini uniknya tak hanya digunakan untuk tempat istirahat seperti rumah modern, tapi juga digunakan untuk memasak serta kegiatan rumah tangga lainnya.

2. Rumah Sasadu

Rumah SasaduSumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Rumah adat Maluku ini merupakan salah satu dari rumah adat yang dibangun oleh suku Sahu. Mereka sudah ada semenjak zaman Halmahera. Pada rumah ini terkandung nilai filosofi mengenai suatu falsafah kehidupan masyarakat suku Sahu.

Tak berbeda dari rumah baileo, rumah adat sasadu juga berfungsi sebagai balai adat. Fungsinya yaitu sebagai tempat pertemuan adat untuk masyarakat suku Sahu.

Desain rumah ini sangat luas dengan lantainya berupa permukaan tanah. Bangunan rumah adat ini tak memiliki dinding dan yang diberi sekat hanya satu bagian saja. Jadi rumah sasadu merupakan rumah terbuka tanpa dinding yang hanya kelihatan tiang-tiang.

Tiang-tiang tersebut tidak dipakai sebagai penopang lantai bangunan seperti umumnya fungsi tiang pada rumah-rumah lain. Tipe rumah ini bukanlah rumah panggung sehingga tiang hanya digunakan untuk menyangga atap saja.

Kayu yang digunakan untuk tiang yaitu kayu dari pohon sagu yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi saling menyatu meskipun tidak menggunakan paku. Untuk perekatnya dan penguatnya digunakan pasak balok.

Terdapat berapa balok yang tak hanya digunakan sebagai penguat tapi juga difungsikan sebagai tempat memasang bambu yang akhirnya membentuk dipan.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram