4 Rumah Adat Asal Sulawesi Selatan yang Sangat Unik

Ditulis oleh Syarip Ahmad D - Diperbaharui 2 Juni 2021

Indonesia adalah negara yang kaya budaya. Tiap provinsi di negara ini punya budaya termasuk rumah adatnya masing-masing, tidak terkecuali Sulawesi Selatan. Provinsi ini mempunyai empat jenis rumah adat yang dibedakan berdasarkan sukunya. Beberapa rumah adat Sulawesi Selatan diantaranya rumah adat Bugis, rumah adat Luwu, rumah adat Makassar, juga rumah adat Toraja.

Umumnya rumah adat dari Sulawesi Selatan berupa rumah panggung yang tingginya bisa mencapai sampai tiga meter. Tak hanya bentuknya yang terletak jauh dari permukaan tanah, rumah adat ini juga memiliki bentuk atap yang unik. Untuk kamu yang tertarik dengan gaya arsitektur rumah adat di Sulawesi Selatan, yuk simak informasinya berikut ini.

1. Rumah adat Suku Toraja

Rumah adat Suku Toraja

Tongkonan adalah rumah adat Sulawesi Selatan yang berasal dari suku Toraja. Nama rumah adat ini asalnya dari bahasa Toraja, yaitu “tongkon” yang artinya duduk. Rumah tongkonan bentuknya mirip seperti bentuk perahu yang berasal dari Kerajaan Cina. 

Adapun makna di balik bentuk atap rumahnya adalah menjadi pengingat bagi mereka bahwa nenek moyang orang Toraja dahulu datang ke Sulawesi menggunakan perahu.  Fungsi dari rumah tongkonan di antaranya sebagai To Ma’ Parenta, yaitu pusat pemerintahan. 

Fungsi yang kedua yaitu sebagai rumah tinggal. Dikarenakan kemegahan dari rumah adat ini, dahulu hanya kalangan bangsawan dan hartawan yang memiliki rumah tongkonan.  Rumah adat ini juga merupakan penanda status sosial dari pemiliknya. 

Buktinya adalah keberadaan kepala kerbau yang terpasang di depan rumah. Status pemilik rumah akan terlihat semakin tinggi jika jumlah kepala kerbau yang terpasang semakin banyak.  

Pembangunan rumah tongkonan tidak bisa sembarangan. Rumah harus dibangun sesuai dengan aturan-aturan tertentu yang dipercaya oleh para nenek moyang suku Toraja. Masyarakat suku ini mempunyai kepercayaan tentang hubungan erat antara mereka dengan leluhurnya.

Rumah tongkonan memiliki tiga lapisan dengan bentuk segi empat yang merupakan simbol kehidupan manusia. Simbol itu terbagi atas kelahiran, kehidupan, pemujaan, serta kematian. Bentuk segi empat ini juga adalah simbol empat arah mata angin, yaitu barat, timur, utara, serta selatan.

Arah untuk rumah tongkonan adalah menghadap ke utara. Ini adalah lambang dari awal kehidupan. Bagian belakang rumah menghadap ke arah selatan yang melambangkan akhir kehidupan. Rumah Tongkonan terbagi jadi tiga bagian, yaitu rattiangbanua, kale banua, dan suluk banua

Rattiangbanua adalah bagian atas. Bagian ini fungsinya untuk menyimpan benda pusaka. Beragam benda pusaka yang disimpan ini tentunya mempunyai nilai kesakralan juga merupakan harta berharga untuk suku Toraja. 

Untuk atapnya dibuat dari susunan bambu pilihan. Bambu tersebut diikat memakai ijuk dan rotan. Atap bambu ini kuat sekali sehingga dapat bertahan sampai ratusan tahun.

Kale banua adalah bagian tengah. Ruangan ini adalah bagian utama rumah yang dibagi jadi tiga bagian. Tengalok yang terletak di sebelah utara memiliki fungsi sebagai ruang tamu juga ruang tidur untuk anak-anak. Ruangan ini juga terkadang dipakai sebagai tempat untuk meletakkan sesajen. 

Ada juga ruang sali yang berada di bagian tengah. Ruang ini merupakan tempat pertemuan keluarga, ruang makan, dapur, juga tempat bersemayam para anggota keluarga yang sudah meninggal. 

Adanya jasad di ruangan tersebut dianggap hal yang biasa, bahkan mereka justru semakin dekat  dengan ruh leluhur. Yang terakhir yaitu ruang sambung. Ini adalah ruang khusus bagi kepala keluarga. Suluk banua adalah bagian bawah. Tempat  ini dipakai untuk hewan peliharaan juga menjadi tempat untuk penyimpanan alat pertanian.

Ciri khas rumah tongkonan yang lain yaitu adanya ukiran di dinding yang merupakan kekhasan suku Toraja. Warna pada ukiran jumlahnya hanya empat, yaitu hitam, putih, kuning, dan merah. Ada alasan dibalik pemilihan warna-warna itu. Tiap warna memiliki makna tersendiri.

Putih artinya kesucian juga melambangkan tulang. Merah lambang dari kehidupan manusia. Kuning lambar dari anugerah Sang Maha Kuasa yang dalam bahasa Toraja dinamakan Puang Matua. Sementara warna hitam lambang dari kegelapan dan kematian.

2. Rumah Adat Suku Makassar

Rumah Adat Suku MakassarSumber: indonesiakaya.com

Rumah adat suku Makassar disebut dengan balla. Bentuk rumahnya menyerupai rumah panggung. Jenis rumah adat ini tingginya kurang lebih 3 m di atas tanah yang disangga menggunakan kayu yang memiliki jumlah lima penyangga ke arah belakang serta lima penyangga ke arah samping. 

Dahulu, rumah adat ini memakai atap yang berbahan dasar material alami seperti nipah, rumbia, atau bambu. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, atap yang dipakai ini berupa seng atau genteng dibuat dari tanah liat.

Rumah adat Sulawesi Selatan ini dulu identik dengan rumah para bangsawan. Bentuk atap yang seperti pelana kuda dan runcing di ujungnya ini disebut timaksela. Ini menjadi keunikan dari rumah adat suku Makassar. 

Timbaksela adalah simbol penanda derajat kebangsawanan dari masyarakat suku Makassar. Selain itu, rumah ini juga memiliki dua jenis tangga yang disebut dengan sapana dan tukak. Perbedaan di antara keduanya terletak pada jenis bahan yang dipakai serta jumlah anak tangganya. 

Sapana dibuat dari bambu dan jumlah anak tangganya tiga atau lebih yang dianyam, sementara tukak adalah jenis anak tangga yang bahannya dari kayu. Sapana hanya digunakan khusus untuk bangsawan, sementara tukak dipakai oleh rakyat biasa.

3. Rumah Adat Suku Bugis

Rumah Adat Suku BugisSumber: buzz-mizzle.blogspot.com

Suku Bugis terkenal sangat menjunjung tinggi adat daerahnya serta dipadukan dengan adat agama yang dianut, yaitu Islam. Perpaduan tersebut menghasilkan sebuah rumah adat dengan desain yang cukup unik. 

Rumah adat suku arah rumahnya dibangun mengarah ke kiblat. Bagian rumah adat ini terbagi menjadi tiga bagian yakni rakkaeng, bola, serta awasao. Rakkaeng merupakan bagian rumah yang difungsikan untuk menyimpan barang berharga, seperti emas, perak, perhiasan, ataupun keris. 

Selain itu, rakkaeng juga bisa dipakai sebagai tempat penyimpanan persediaan makanan. Sementara bola atau kalle bala adalah ruangan khusus yang terdapat di rumah adat yang dipakai untuk kebutuhan pemilik. Artinya bagian ini merupakan ruang pribadi, seperti kamar tidur, ruang tamu, sampai dapur. 

Bagian terakhir yaitu awasao atau passiringan. Tempat ini adalah sebuah ruang yang dipakai untuk menyimpan hewan ternak, seperti sapi, kambing, sampai ayam. Fungsi dari ruang ini juga sebagai tempat penyimpanan alat pertanian ataupun berbagai alat untuk bekerja.

4. Rumah Adat Suku Luwu

Rumah Adat Suku LuwuSumber: menitisejarahistanakedatuanluwu11.blogspot.com

Dulunya rumah adat suku Luwu adalah rumah milik Raja Luwu. Rumah adat Sulawesi Selatan ini sangat unik serta mempunyai 88 tiang yang bahan utamanya adalah kayu. Sebutan untuk rumah adat ini adalah rumah langkanae. 

Ukuran atap rumahnya lebih besar daripada badan rumah. Ketika zaman penjajahan Belanda, rumah ini adalah sasaran Belanda untuk dihancurkan. Terdapat ornamen berupa ukiran pada rumah ini. Arti dari ukiran ini yaitu hidup yang tak pernah putus, boleh dikatakan simbol untuk umur panjang. 

Rumah adat Luwu cukup luas sehingga bisa menampung beberapa ruangan. Ada tiga ruangan di sini dan tiap-tiap ruangan memiliki fungsi yang berbeda. 

Ruangan pertama namanya tudang sipulung yang memiliki ukuran yang luas hingga bisa menampung tamu. Sementara ruangan kedua adalah ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang privasi keluarga serta beristirahat. Ketiga yaitu ruang belakang yang mempunyai dua kamar dengan ukuran kecil.

Sepertinya tidak akan pernah ada habisnya saat kita membahas mengenai adat budaya Indonesia. Tiap adat di Indonesia mempunyai pesona sendiri. Rumah adat Sulawesi Selatan adalah salah satu dari keunikan budaya Indonesia. Meskipun hampir semua rumah adatnya berbentuk panggung, tetap ada perbedaan khusus di antara rumah-rumah adat tersebut.

Selain itu rumah adat Sulawesi Selatan juga mempunyai filosofinya sendiri yang bisa berakar dari budaya maupun agama. Menarik bukan untuk mempelajari keberagaman budaya Indonesia?

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram