keluyuran web banner

Selain Tari Saman, Inilah 10 Tarian Adat Aceh yang Populer

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 22 Oktober 2020

Salah satu tarian Aceh yang paling populer di Indonesia juga di dunia adalah Tari Saman. Tarian ini begitu atraktif sehingga membuat orang berdecak kagum ketika melihatnya. Namun tarian adat Aceh tak hanya saman, masih ada beberapa jenis tarian lainnya yang tak kalah populer, seperti tari seudati ataupun ratoh duek.

Ingin tahu lebih banyak lagi mengenai tarian tradisional Aceh? Simak ulasan selengkap berikut ini ya!

1. Tari Saman

Tari Saman

Tarian adat Aceh ini sudah sangat mendunia dan sering dibawakan di ajang-ajang internasional. Tari saman adalah kesenian asli dari suku Gayo yang berada di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tenggara. Tarian ini dikenal kental dengan nuansa Islamnya.

Pada tahun 2011, UNESCO menetapkan tari saman sebagai Daftar Warisan Budaya Takbenda. Tari saman tak hanya ditampilkan dalam perayaan adat, tetapi sering juga dibawakan dalam perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tak ada iringan musik eksternal pada tarian ini.

Yang mengiringi tarian ini adalah suara dan tepuk tangan para penarinya. Saat menari, mereka dipandu oleh syekh yang merupakan pemimpin tari. Tari Saman menurut beberapa literatur dikatakan dikembangkan oleh Syekh Saman, yang merupakan seorang ulama Gayo. Selain beliau aktif berdakwah, Syekh Saman juga mempelajari Tarian Melayu Kuno.

Setelah mempelajari beragam gerakan tari kemudian gerakan-gerakan tersebut diadopsi lalu dikombinasikan dengan syair-syair yang memiliki nuansa Islami. Lalu akhirnya munculah Tari Saman.

2. Tari Seudati

Tari Seudati

Tarian adat Aceh yang satu ini diketahui awalnya dari Kabupaten Pidie dan Aceh Utara. Tari seudati dulunya disebut dengan Ratoh yang artinya penceritaan mengenai apa saja yang berkaitan dengan aspek sosial-kemasyarakatan. Asal nama seudati dari shahadatayn, yaitu dua kalimat syahadat.

Fungsi Tari Seudati adalah sebagai media dakwah yang disampaikan melalui kekompakkan dan keindahan gerak. Ciri khas Tari Seudati adalah heroik, gembira juga mencerminkan kebersamaan. Hal ini tergambar dari gerak tubuh penari saat menari.

Tarian yang agresif ini dibawakan oleh delapan penari dan tiap-tiap penari memiliki jabatan tersendiri. Tari Seudati, seperti halnya Tari Saman, juga populer tidak hanya di Indonesia saja tapi hingga ke mancanegara.

Menurut beberapa sumber dikatakan bahwa sejarah tari seudati asalnya dari komunitas tarekat. Komunitas ini didirikan oleh Syekh Tarekat Saman. Dalam bahasa Aceh, Tari Seudati juga disebut dengan nama “meusamman”.

3. Tari Ratoh Duek

Tari Ratoh Duek yang merupakan tarian adat Aceh ini namanya berasal dari dari bahasa Arab dan bahasa Aceh. Dalam bahasa Arab kata ratoh artinya "Rateb", sedangkan dalam bahasa Aceh kata "duek" artinya duduk. Terkadang Tari Ratoh Duek Aceh disebut juga dengan Ratoh Jaroe.

Penari yang membawakan tarian ini adalah perempuan yang jumlahnya 10 orang atau lebih, ditemani 2 orang syahie atau penyanyi. Makna tarian ini diambil dari kehidupan sehari-hari, yaitu kekompakan, sifat optimis, keselarasan, dan tegas. Ini bisa dilihat dari harmoni tepukan tangan penari yang sesuai irama.

Tarian ini gerakannya hampir mirip dengan Tari Saman. Setelah UNESCO mengakui Tari Saman sebagai Budaya Warisan Manusia, tari saman tidak diperbolehkan dibawakan oleh perempuan. Bagaimana dengan para penari perempuan yang dulu membawakan Tari Saman?

Mereka memisahkan diri jadi Tari Ratoh Duek. Akan tetapi orang-orang mengira Tari Ratoh Duek yang dibawakan oleh para perempuan ini adalah Tari Saman. Tak ingin merusak budaya, suku Gayo membuat tarian sendiri dan namanya pun berbeda tetapi tidak mengubah adat sesepuh, yaitu Tari Saman.

Maka lahirlah Tari Ratoh Duek yang dibawakan oleh penari perempuan yang berjumlah genap yang berbeda dari tari saman yang harus ganjil jumlah penarinya. Dalam Tari Ratoh Duek digunakan tarian adat tradisional Aceh, alat musik rebana, dan bahasa Aceh sedangkan saman memakai bahasa Gayo.

4. Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat

Terinspirasi dari tradisi nelayan, tarian adat Aceh ini bernama Tari Tarek Pukat. Hal ini tak mengherankan karena saat itu umumnya masyarakat Aceh memiliki profesi sebagai nelayan. Secara bergotong-royong mereka membuat jala dan menangkap ikan lalu hasilnya dibagikan pada warga sekitar.

Secara singkat tarian ini memiliki makna kerja sama dan kebersamaan. Alat musik yang digunakan adalah alat musik tradisional. Biasanya tarian ini dibawakan oleh kurang lebih tujuh penari perempuan. Mereka memakai kostum tradisional Aceh dan membawa seuntai jala dipinggangnya.

Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tiap-tiap tali yang dikaitkan pada teman di sebelahnya. Kemudian tali dilepas lalu dililitkan lagi sampai akhrinya tali tersebut membentuk jala. Meskipun gerakannya terlihat tak bervariasi, tarian ini memiliki makna yang dalam.

Tari tarek pukat sekarang dibawakan dalam acara-acara resmi. Kamu akan melihat ini pada acara perayaan tertentu atau penyambutan.

5. Tari Laweut

Tari Laweut

Berasal dari  Kabupaten Pidie, tarian adat Aceh ini bernama Tari Laweut. Kemudian tarian ini menyebar ke seluruh wilayah Aceh dan jadi salah satu jenis tarian yang terkenal seperti halnya Tari Saman juga Tari Seudati.

Tarian ini kemudian menyebar ke seantero Aceh dan seiring berjalannya waktu menjadi salah satu tarian populer bersama Tari Saman dan Tari Seudati. Dahulunya tari laweut dikenal dengan nama seudati inong yang merupakan jenis Tari Seudati yang dibawakan oleh para perempuan.

Antara Tari Seudati dan tari laweut mempunyai banyak kesamaan yaitu pada gerakan, pola tarian, proses juga tekniknya. Kedua tarian ini juga sama-sama dibawakan oleh depalan penari dengan satu syahi atau penyanyi yang juga memimpin tarian.

6. Tari Rateb Meuseukat

Tari Rateb Meuseukat

Tarian adat Aceh yang bernama Rateb Meuseukat merupakan tarian yang sering kali disamakan dengan Tari Ratoh Duek juga Tari Saman. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, awalnya Tari Saman dibawakan oleh remaja puteri di daerah pesisir lalu berubah jadi ratoh duek dan  berubah lagi jadi rateb meuseukat.

Rateb meuseukat tumbuh menjadi tarian yang hanya dibawakan oleh para perempuan saja. Minimal jumlah penari adalah 10 orang hingga tak terbatas dan dipimpin oleh seorang syekh. Ada juga yang menyebutkan kalau penarinya berjumlah 13 orang, tak boleh kurang dari 10 penari dan berjumlah ganjil.

7. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo

Seni tari pesisir yang jadi tarian adat Aceh ini namanya lilok pulo. Ini terlihat dari namanya, “Likok” yang artinya gerakan tari dan “Pulo” artinya pulau. Di sini pulau yang dimaksud adalah Pulo Aceh atau Pulau Breueuh yaitu pulau yang terletak di Aceh Besar, yang berada di ujung pelosok utara Pulau Sumatera.

Jumlah penari yang membawakan tarian ini 10 hingga 12 orang dan mereka membawa bambu seukuran jari telunjuk. Para penari akan menari sambil duduk memanjang. Posisinya saling berselang-seling atas bawah. Biasanya tiap gerakan berisi beberapa nasihat yang disampaikan oleh syekh, penari utama.

8. Tari Rapai Geleng

Tari Rapai Geleng

Tari Papai Geleng merupakan jenis tarian adat Aceh yang digunakan media dakwah. Di dalam Tari Rapai Geleng tiap bagiannya, termasuk gerakan, syair dan busana terdapat muatan nilai-nilai Islam. Tarian ini juga memiliki simbol sikap hidup orang Aceh yang penuh dengan nilai kebersamaan dan kekompakan.

Di kalangan masyarakat Aceh, Tari Rapai Geleng merupakan salah satu tarian yang paling digemari juga populer. Pada tiap pertunjukkan tarian ini selalu dipenuhi oleh penonton. Keindahan gerak dan syair yang pada tari rapai geleng menjadi daya tariknya. Tarian ini juga sangat memanjakan mata dan telinga.

9. Tari Didong

Tari Didong

Tarian adat Aceh yang satu ini bernama Tari Didong. Didong menggabungkan beberapa unsur, di antaranya tari, vokal juga sastra. Kata Didong berarti ‘nyanyian sambil bekerja’. Namun ada juga yang mengatakan kalo Tari Didong asalnya sari suara musik yang seperti mengatakan ‘din’ dan ‘dong'.

Penari yang membawakan tarian ini akan duduk sambil bermain dengan kedua tangan. Kemudian penari menyanyikan sebuah lagu, lalu seperti Tari Kecak mereka menepakkan tangan dengan ketukan yang berbeda.

Tak ada alat musik yang digunakan pada Tari Didong. Musik hanya keluar dari mulut para penarinya. Tari Didong biasanya dipentaskan saat ada acara keagamaan juga ajang hiburan.

10. Tari Bines

Tari Bines

Tari Bines merupakan tarian adat Aceh yang asalnya dari Kabupaten Gayo Lues. Tarian ini tujuannya adalah sebagai hiburan. Jumlah penari untuk tarian ini tak ditentukan, tetapi jumlah penarinya harus genap.

Penari Tari Bines berbeda dengan tari Aceh lainnya. Mereka mengenakan baju lukup, kain sarung juga kain panjang yang sama, tata rambut yang tinggi layaknya sanggul, juga beberapa aksesoris hiasan tangan.

Awal gerakan Tari Bines lambat kemudian berubah jadi semakin cepat dengan posisi penari yang berdiri. Karena Tari Bines memiliki penampilan yang seru, tari ini kemudian dijadikan sebagai tarian untuk  menyambut para tamu ataupun dibawakan dalam acara pesta pernikahan.

Jika selama ini kamu hanya mengenal tari saman sebagai tarian adat Aceh, sekarang kamu tahu lebih banyak mengenai jenis-jenis tarian tradisional dari Aceh. Kamu tertarik untuk mempelajari salah satu tarian Aceh tersebut?

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram