keluyuran web banner

Menarik! 9 Upacara Adat Papua dengan Segala Keunikannya

Ditulis oleh Syarip Ahmad D - Diperbaharui 22 April 2021

Papua adalah salah satu provinsi terbesar tanah air yang berada di bagian timur wilayah Indonesia. Selain kekayaan alamnya yang melimpah, Papua juga memiliki tradisi dan budaya unik yang menarik untuk dibahas. Upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Papua memiliki bentuk, budaya dan nilai filosofi tersemdiri dan berbeda dari daerah lain.

Hal inilah yang harus diketahui oleh masyarakat tanah air, khususnya oleh generasi muda sebagai pewaris budaya bangsa. Nah, agar kamu semakin mengenal tentang upacara adat yang biasa dilakukan di Papua. Yuk, simak ulasan menarik yang akan Keluyuran bahas dalam artikel di bawah. Seperti apa itu? Berikut adalah penjelasannya:

1. Upacara Bakar Batu

Upacara Bakar Batu

Upacara adat pertama yang ada di Papua adalah upacara Bakar Batu. Bakar Batu sendiri merupakan ritual memasak bersama yang dilakukan masyarakat Papua dengan cara yang unik. Upacara tradisional yang diwariskan secara turun temurun ini merupakan bagian ritual penting yang biasa dilakukan oleh suku Dani yang berada di Lembah Baliem, Papua.

Upacara Bakar batu merupakan simbol dari solidaritas masyarakat Papua dan sebagai ungkapan rasa syukur mereka pada sang pecipta. Proses memasak yang dilakukaan, yaitu dengan membuat lubang di dalam tanah. Lubang ini kemudian dilapisi rumput dan diisi dengan batu merah yang telah dipanaskan.

Setelah itu diatasnya diletakkan berbagai jenis umbi-umbian, sayur-sayuran, dan daging. Proses memasak sendiri biasa memerlukan waktu sekitar 1-2 jam. Setelah proses memasak selesai, makanan tersebut akan dibagikan pada seluruh warga setempat.

2. Upacara Tanam Sasi

Upacara Tanam Sasi

Upacara adat selanjutnya yang ada di Papua adalah upacara Tanam Sasi, yaitu upacara adat kematian yang biasa dilakukan oleh suku Marind atau Marind-Anim yang berada di wilayah Papua Barat atau lebih tepatnya di Kabupaten Merauke. Upacara Taman Sasi menggunakan kayu Sasi sebagai media utama saat proses upacara berlangsung.

Masyarakat Papua sendiri percaya bahwa ukiran pada kayu Sasi memiliki beberapa makna mulai dari simbol kehadiran roh para leluhur, simbol perasaan sedih dan bahagia, simbol kepercayaan terhadap makhluk hidup serta sebagai simbol keindahan dan karya seni.

Dalam prosesnya, Sasi tersebut ditanam selama empat puluh hari setelah kematian anggota keluarga. Nah, setelah 1.000 hari ditanam, Sasi tersebut akan dicabut. Upacara Tanam Sasi biasanya diiringi dengan tarian tradisional Gatsi dan alat musik Tifa.

3. Upacara Wor

Upacara Wor

Upacara Wor adalah upacara adat yang biasa dilakukan oleh suku Biak, suku yang dikenal sebagai kelompok etnis terbesar yang berada di wilayah tanah Papua. Upacara Wor berisi nyanyian dan tarian yang dilakukan oleh masyarakat Biak ketika terdapat kejadian penting seperti kelahiran, pernikahan dan kematian, atau saat sedang melakukan suatu pekerjaan seperti berlayar, bertani, atau berburu.

Wor sendiri merupakan upacara sakral yang memiliki nilai-nilai budaya serta simbol kepercayaan masyarakat Biak terkait hubungan mereka dengan sang pencipta, makhluk hidup dan alam yang menjadi tempat tinggal mereka. Dalam prosesnya, ritual ini akan dipimpin oleh kepala adat dengan iringan alat musik Tifa sepanjang ritual.

Mereka mengenakan pakaian adat dari kulit kayu serta menghiasi tubuh mereka dengan lukisan. Saat ritual berlangsung para penari pria menggunakan hiasan kepala dari bulu burung Cenderawasih. Sementara penari wanita biasanya menggunakan aksesori yang terbuat dari kulit kerang.

4. Tradisi Iki Palek

Tradisi Iki Palek

Upacara adat lainnya yang cukup terkenal dari Papua adalah tradisi Iki Palek. Ritual yang satu menjadi hal yang biasa dilakukan oleh suku Dani sebagai bentuk kesedihan mereka karena kehilangan anggota keluarga. Bagi mereka menangis bukanlah satu satunya cara untuk menunjukkan kesedihan yang dirasakan.

Setiap ada anggota keluarga yang meninggal. Mereka akan menunjukkan kesedihan dengan tindakkan yang cukup esktrem, yaitu memotong jari. Bagi mereka rasa sakit memotong jari dianggap dapat mewakili perasaan sedih yang mereka rasakan karena kehilangan tersebut.

Kehilangan anggota keluarga sama dengan kehilangan sebagian kekuatan. Hal itulah yang menjadi filosofi dari ritual Iki Palek. Nah, dalam prosesnya masyarakat suku Dani akan menggunakan pisau atau kapak saat melakukan potong jari. 

5. Perkawinan Suku Biak

Perkawinan Suku Biak

Masyarakat suku Biak dikenal suka menjodohkan anak-anak mereka sejak kecil. Nah, sebelum akhirnya melaksanakan upacara pernikahan. Masyarakat suku Biak biasanya menjalani serangkaian prosesi mulai dari pinangan yang dilakukan oleh orang tua (senepen), prosesi lamaran (fakfuhen), hingga akhirnya melangsungkan pernikahan.

Upacara pernikahan masyarakat Biak sendiri terbilang cukup sederhana. Biasanya persiapan pernikahan sendiri biasanya dilakukan satu Minggu sebelum hari H. Sama seperti pengantin pada umumnya. Kedua calon pengantin akan dihias dengan pakaian adat. Sementara resepsi sendiri biasanya dilakukan di rumah pihak pengantin pria.

Prosesi pernikahan dimulai dengan penyerahan benda pusaka seperti panah, parang, dan tombak antara kedia belah pihak. Setelah itu pengantin akan diberi sebatang rokok yang harus dihisap keduanya secara bergantian dan diawali oleh pengantin pria yang disusul oleh pengantin wanita dengan iringan doa dan mantera dari tetua suku. Setelah selesai, kedua keluarga makan bersama.

6. Tradisi Nasu Palek

Tradisi Nasu Palek

Kematian merupakan sesuatu yang tidak diharapkan oleh setiap orang. Meskipun setiap manusia pada akhirnya harus berpulang, namun tetap saja hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada keluarga atau orang-orang yang disayangi.

Nah, selain tradisi Iki Palek, masyarakat suku Dani juga menjalani tradisi Nasuk Palek, yaitu tradisi iris daun telinga. Hal itu dilakukan oleh masyarakat suku Dani untuk mengungkapkan rasa berduka atas anggot keluarga yang meninggal dunia.

Masyarakat suku Dani sendiri menganggap bahwa setiap irisan telinga yang berkurang adalah bentuk penghormatan mereka pada ayah, ibu, anak, maupun saudara yang telah meninggal. 

7. Upacara Kematian Suku Asmat

Upacara Kematian Suku Asmat

Kebudayaan yang ada di Papua memang unik dan menarik untuk diketahui. Suku Asmat adalah salah satu suku dengan populasi terbesar di Papua. Sama seperti suku lainnya yang ada di Papua, suku Asmat juga memiliki beberapa ritual atau upacara penting yang biasa dilakukan. Salah satu yang masih dijalankan hingga saat ini adalah upacara kematian suku Asmat.

Masyarakat suku Asmat diketahui tidak mengubur mayat anggota suku yang meninggal. Mereka biasa meletakkan mayat di atas perahu lesung dengan dibekali sagu dan dibiarkan mengalir ke laut atau membiarkan mayatnya di atas anyaman bambu hingga membusuk.

Setelah mayat tersebut menyisakan tulang belulang, mereka akan menyimpannya di atas pokok-pokok kayu. Sementara tengkoraknya akan dijadikan sebagai bantal oleh anggota keluarga yang lain. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang mereka pada orang yang telah meninggal.

8. Snap Mor

Snap Mor

Nah, tradisi adat yang ada di Papua selanjutnya adalah snap mor, yaitu tradisi menangkap ikan di air laut surut yang dilakukan oleh masyarakat Suku Biak secara bersama-sama. Tradisi tahunan ini diketahui masih bisa kita lihat hingga saat ini. Snap mor sendiri merupakan budaya asli masyarakat Biak yang menjadi bagian dari pesta adat munara.

Snap mor dilakukan pada saat air laut dalam keadaan surut, yaitu pada bulan Juli hingga Agustus. Tradisi snap mor sendiri menjadi pertanda bahwa suku Biak memiliki pengetahuan megenai waktu yang tepat untuk mendapatkan ikan. Selain mengandung nilai-nilai kebersamaan, Snap Mor sendiri sebagai bentuk rasa syukur masyarakat suku Biak atas berkat yang diberikan sang pencipta.

9. Upacara Kiuturu Nandauw

Upacara Kiuturu Nandauw

Hampir mirip dengan yang biasa dilakukan oleh daerah lain. Di Papua juga terdapat sebuah upacara khusus penting yang biasa dilakukan oleh orang tua untuk anak-anak mereka. Anak-anak di Papua sendiri biasanya melaksanakan serangkaian ritual yang menjadi tradisi turun-temurun.

Beberapa diantaranya, yairu k'bor atau khitan yang di lakukan pada anak laki-laki, tradisi aro era tu ura, yaitu melubangi daun telinga dan cuping hidung anak perempuan, dan juga upacara Kiuturu Nandauw, atau biasa disebut dengan Kakarukrorbun, yaitu upacara adat potong rambut pertama kali ketika anak menginjak usia 5 tahun.

Demikian 9 upacara adat Papua yang berhasil Keluyuran rangkum untuk kamu. Sama seperti darah lain, wilayah yang berada di ujung timur Indonesia ini juga memiliki tradisi budaya yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya. Meski beberapa terlihat cukup ekstrim, namun hal itulah yang menjadi kebiasaan unik Papua. Semoga informasi di atas bermanfaat.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram