2 Pakaian Adat Gorontalo yang Menarik untuk Diketahui

Ditulis oleh - Diperbaharui 12 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Gorontalo adalah salah satu provinsi baru yang berada di Pulau Sulawesi. Pembentukan provinsi ini terjadi pada era kepemerintahan Presiden Indonesia yang keempat, yaitu Abdurahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gusdur. Meskipun provinsi ini terbilang provinsi baru, tapi Gorontalo sudah mempunyai pakaian adat sendiri. Pakaian adat Gorontalo memiliki nama yang berbeda-beda.

Pakaian adat Gorontalo terdiri dari pakaian adat untuk perempuan dan pakaian adat untuk laki-laki. Untuk perempuan, pakaian adat tersebut dinamakan Biliu dan Payungga. Sementara itu pakaian adat untuk laki-laki disebut Mukuta dan Walimono. Namun untuk pakaian pengantin Gorontalo disebut dengan Biliu dan Makuta.

Untuk lebih mengenal tentang pakaian adat Gorontalo, simak penjelasan mengenai pakaian adat Gorontalo di artikel berikut ini.

1. Biliu: Pakaian Adat Perempuan

Biliu: Pakaian Adat Perempuan

* sumber: sulsel.idntimes.com

Penggunaan pakaian adat Gorontalo sering kali dikenakan saat acara upacara pernikahan. Baju adat yang dikenakan oleh perempuan terlihat memiliki hiasan yang rumit dan mencolok membuatnya nampak megah dan anggun ketika dikenakan.

Pakaian adat Gorontalo untuk perempuan disebut dengan nama biliu yang memiliki arti diangkat. Biliu dikenakan saat mempelai perempuan bersanding dengan mempelai laki-laki di puade, yaitu tempat pelaminan untuk pengantin.

Aksesoris yang Dikenakan pada Pakaian Adat Perempuan

Baju adat Gorontalo untuk perempuan ini terlihat sangat menarik karena ditambah dengan penggunaan aksesoris yang terlihat sangat mewah. Pakaian adat perempuan memiliki 8 aksesoris, yaitu baya lo boute, tuhi-tuhi, layi-layi, buohu walu wawu dehu, kecubu atau lotidu, etango, pateda, dan loubu.

  • Baya Lo Boute

Baya Lo Boute

Aksesoris yang dikenakan bersamaan dengan pakaian adat Gorontalo untuk perempuan yang sangat terlihat adalah baya lo boute. Apa itu baya lo boute? Ini merupakan aksesoris yang dikenakan oleh perempuan yang berupa ikat kepala.

Ikat kepala ini memiliki makna bahwa seorang perempuan mempunyai ikatan pernikahan dengan laki-laki. Selain itu, ikat kepala ini mempunyai simbol bahwa sang perempuan harus memenuhi kewajiban dia sebagai seorang istri ke depannya.

  • Tuhi-Tuhi

Tuhi-Tuhi

Aksesoris lain yang juga dikenakan oleh perempuan pada pakaian adat Gorontalo adalah tuhi-tuhi. Tak berbeda dari baya lo boute, aksesoris ini juga dikenakan di bagian kepala yang berupa gafah yang jumlahnya 7 buah. Ternyata tuhi-tuhi ini bermakna persaudaraan antara 7 kerajaan Gorontalo.

Adapun kerajaan tersebut meliputi kerajaan Gorontalo, Tuwawa, Bulango, Hulotalo, Limboyo, Limitu dan Atingola. Hubungan kekerabatan yang terjalin di antara 7 kerajaan ini sangat baik sehingga tidak pernah ada perselisihan yang terjadi di antara kerajaan-kerajaan tersebut.

  • Layi-Layi

Layi-Layi

Layi-layi adalah aksesoris wajib lainnya yang harus dikenakan bersama dengan pakaian adat Gorontalo. Aksesoris ini biasanya dipakai di ubun-ubun. Baik pakaian adat tradisional atau modern, tak boleh meninggalkan aksesoris yang satu ini.

Hal ini karena layi-layi memang mempunyai makna yang sangat dalam yakni budi luhur, kesucian dan keberanian. Maka dari itu layi-layi tak boleh sampai tidak dikenakan ketika perempuan mengenakan pakaian adat khas Gorontalo.

  • Buohu Walu Wawu Dehu

Buohu Walu Wawu Dehu

Aksesoris selanjutnya adalah buohu walu wawu dehu yang berupa kalung. Aksesoris berbentuk kalung emas atau perak ini dikenakan di leher. Buohu walu wawu dewu merupakan aksesoris yang dikenakan oleh orang dewasa saja, tidak untuk dikenakan oleh anak-anak.

Hal ini karena buohu walu wawu dewu mempunyai filosofi sebagai ikatan keluarga yang terjadi pada keluarga pengantin perempuan serta pengantin laki laki. Aksesoris perempuan Gorontalo lainnya yaitu Kecubu atau Lotidu yang dikenakan di dada pengantin perempuan.

  • Kecubu

Kecubu

Arti dari kecubu itu sendiri adalah kekuatan yang harus dimiliki oleh seorang istri. Seorang perempuan dalam adat Gorontalo harus tangguh dan kuat saat menghadapi beragam rintangan serta kerasnya kehidupan.

  • Etango

Etango

Aksesosis yang dikenakan pada pakaian pengantin adat Gorontalo lainnya yaitu etango. Etango merupakan aksesoris berupa ikat pinggang yang memiliki motif mirip dengan kecumbu. Aksesoris ini adalah simbol kewajiban seorang istri.

Kewajiban seorang istri salah satunya adalah tidak membuat masakan yang bertentangan dengan syariat Islam serta bukan makanan yang diharamkan. Selain itu, seorang istri juga harus menerima untuk hidup secara sederhana.

  • Pateda

Pateda

Selanjutnya aksesoris yang disebut pateda atau gelang dengan warna keemasan. Aksesoris ini memiliki arti agar perempuan bisa membenteng dan mengendalikan diri dari sifat-sifat yang tidak baik serta melanggar hukum adat.

  • Loubu

Loubu

Aksesoris terakhir adalah loubu yang dikenakan pada jari manis dan jari kelingking kanan dan kiri. Laoubu melambangkan ketelitian yang harus dipunyai oleh perempuan. Dalam mengerjakan kegiatan apapun perempuan juga tidak boleh buru-buru sehingga mengakibatkan kecerobohan yang merugikan.

2. Makuta: Pakaian Adat Laki-Laki

Makuta: Pakaian Adat Laki-Laki

Pakaian adat Gorontalo tidak hanya dikenakan oleh mempelai perempuan, tapi juga mempelai laki-laki. Seperti halnya perempuan, laki-laki pun memiliki aksesoris khas yang harus dikenakan saat memakai pakaian adat tersebut. Hanya saja aksesorisnya lebih sederhana dan sedikit dibanding perempuan.

Namun meskipun sederhana, aksesoris tersebut wajib dikenakan oleh para laki-laki. Sama seperti aksesoris perempuan, aksesoris yang dikenakan laki-laki pun memiliki filosofi yang mendalam. Aksesoris yang dikenakan oleh laki-laki umumnya hanya terdiri dari tiga jenis saja.

Aksesoris yang dikenakan pada Pakaian Adat Laki-Laki

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, aksesoris laki-laki terdiri dari tiga jenis, yaitu tudung makuta, bako dan pasime. Berikut ini adalah penjelasannya.

  • Tudung makuta

Tudung makuta

Yang pertama adalah tudung makuta. Tudung makuta merupakan hiasan kepala yang mirip hiasan semacam bulu unggas. Aksesoris ini berbentuk tutup kepala yang menjulai tinggi dan melengkung ke belakang.

Tutup kepala ini mempunyai nama lain, yaitu laapia bantali sibi. Aksesoris ini mempunyai memiliki filosofi bahwa seorang suami harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan berwibawa, juga punya sifat yang lembut.

  • Bako

Bako

Bako adalah aksesoris laki-laki yang berbentuk kalung berwarna keemasan yang dipakai oleh laki-laki tentunya. Kalung ini mempunyai warna kuning keemasan. Makna dari bako sendiri adalah simbol suatu ikatan. Artinya seorang laki-laki mempunyai ikatan pernikahan dengan seorang perempuan.

  • Pasime

Pasime

Aksesoris pakaian laki-laki yang terakhir adalah Pasime. Pasime merupakan sebuah hiasan yang dikenakan pada pakaian baju adat laki-laki yang melambangkan situasi rumah tangga yang damai, harmonis, dan tidak ada pergolakan di dalam rumah tangga yang bisa mengakibatkan keretakan.

Biasanya, pakaian adat Gorontalo ini digunakan tak hanya pada acara pernikahan saja, tetapi juga dikenakan pada ritual keagamaan sampai upacara adat. Pakaian ini terkadang dikenakan juga pada acara kesenian contohnya pentas seni atau parade kesenian yang biasa dikenakan oleh anak-anak.

Warna dalam Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian adat Gorontalo umumnya memiliki 7 warna khas. Warna yang biasa dijumpai pada pakaian adat tersebut, di antaranya merah, kuning, hijau, cokelat, ungu, putih, dan hitam. Tiap-tiap warna tersebut mempunyai arti filosofi yang mendalam.

Warna merah berarti keberanian serta tanggung jawab. Harapannya agar masyarakat Gorontalo mempunyai semangat juga tanggung jawab terhadap daerahnya. Sementara warna kuning emas mempunyai arti kemuliaan, kesetiaan, kejujuran juga kebesaran.

Selain itu, warna kuning juga memiliki arti bahwa seorang pemimpin daerah harus bersifat bijaksana dalam memimpin daerahnya. Untuk warna hijau berarti kesuburan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan. Artinya warga Gorontalo harus memegang teguh persatuan dan persaudaraan.

Cokelat berarti tanah yang artinya tiap manusia pasti akan kembali ke tanah, meninggal dan dikubur. Arti warna ungu adalah kewibawaan dan keangungan, karakter yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin.

Arti warna putih adalah kesucian dan kedukaan. Sementara warna hitam berarti keteguhan serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan daerah Gorontalo yang dikenal sebagai Serambi Madinah yang tradisi masyarakatnya mengacu pada ajaran Islam.

Ternyata pakaian adat Gorontalo itu tak kalah indahnya dari pakaian-pakaian daerah lainnya di Indonesia. Tak hanya itu, tiap aksesoris dan warna yang dikenakan memiliki filosofi serta makna yang sangat mendalam yang berkaitan dengan budaya daerah tersebut. Apakah kamu pernah mengenal pakaian adat dari Gorontalo sebelumnya?

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *