7 Jenis Pakaian Adat dari Sulawesi Utara dan Gorontalo

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 14 April 2020

Siapa yang tak kenal keindahan Taman Laut Bunaken yang ada di Sulawesi? Destinasi populer itu berada di Provinsi Sulawesi Utara. Selain terkenal dengan taman lautnya, Sulawesi Utara juga terkenal dengan kulinernya tinutuan alias bubur Manado.

Kelezatan bubur ini sudah termasyur di Indonesia. Tak hanya itu, Sulawesi Utara juga terkenal dengan makanan uniknya, seperti kawok (tikus) dan paniki (kelelawar).

Tak hanya destinasi wisata dan kuliner, provinsi ini juga terkenal dengan budayanya. Salah satunya, selain Tari Maengket atau Tari Piso, adalah pakaian adatnya.

Seperti provinsi lain, Sulawesi Utara juga memiliki beragam pakaian adat. Pakaian adat ini juga berbeda dari provinsi lain karena memiliki ciri khasnya masing-masing. Apa saja pakaian adat Sulawesi Utara? Baca terus ulasannya di sini.

1. Pakaian Adat Bolaang Mangondow

Pakaian Adat Bolaang Mangondow

* sumber: infosoalpelajaran.com

Salah satu suku yang mendiami daerah Sulawesi Utara adalah suku Bolaang Mongondow. Dahulu suku ini pernah membentuk sebuah kerajaan. Pakaian adat dari suku ini berhubungan erat dengan latar belakang kehidupan penduduknya di masa lalu. Salah satunya adalah strata sosial.

Pakaian adat akan memperlihatkan status sosial yang tegas. Dengan pakaian adat ini akan terlihat siapa yang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Jika zaman dulu pakaian ini hanya dipakai pada acara tertentu, sekarang ini pakaian adat Bolaang Mongondow bisa digunakan kapan saja.

Model pakaian adat Bolaang Mangondow memperlihatkan pengaruh dari budaya lain, yaitu budaya Melayu. Pakaian wanita terdiri dari kebaya (salu) dan kain, sedangkan pakaian para pria terdiri dari baju atau baniang, ikat kepala, celana juga sarung.

Mereka yang berasal dari keluarga bangsawan, aksesoris yang mereka kenakan pada pakaian mereka akan terlihat berbeda. Biasanya terlihat mewah dengan warna merah mencolok atau warna emas. Bahan untuk pakaiannya sendiri diambil dari pelepah nenas atau kulit kayu.

Kemudian bahan tersebut diolah seratnya untuk selanjutnya diproses menjadi sebuah kain. Serat kayu yang digunakan tersebut disebut lanut. Setelah diolah, kemudian kain tersebut dijahit dan menjadi busana yang digunakan oleh penduduk suku Bolaang Mangondow.

2. Pakaian Adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko

Pakaian Adat Tonaas Wangko

* sumber: www.jurnalsulut.com

Kedua pakaian adat ini pada dasarnya adalah pakaian para pemuka adat. Pakaian adat Tonaas Wangko merupakan pakaian yang berupa kemeja yang memiliki lengan panjang dan kerah yang tinggi. Di bagian sakunya terdapat kancing. Warna dominannya adalah hitam.

Pakaian ini memiliki hiasan berupa motif bunga padi pada leher baju, di sepanjang ujung bahu di bagian depan yang terbelah serta di ujung lengan. Baju adat ini semua motifnya memiliki warna kuning keemasan. Topi merah dengan hiasan motif bunga padi berwarna keemasan adalah pelengkapnya.

Adapun pakaian adat Walian Wangko untuk pria adalah modifikasi dari pakaian Tonaas Wangko, hanya saja bentuknya lebih panjang mirip seperti jubah. Baju yang berwarna putih berhiaskan corak bunga padi lengkap dengan topi porong nimiles yang berasal dari lilitan dua kain, merah hitam dan kuning.

Untuk wanita, pakaiannya berbentuk kebaya panjang berwarna putih atau ungu ditambah dengan kain sarong batik berwarna gelap serta topi mahkota. Selain itu, ditambahkan juga selempang berwarna merah atau kuning, selop, kalung juga sanggul.

3. Pakaian Adat Sangihe Talaud

Pakaian Adat Sangihe Talaud

* sumber: wadaya.rey1024.com

Pakaian adat asal Sulawesi Utara ini dibuat dari bahan serat kofo atau fami manila. Umumnya, serat kofo diambil dari serat pohon pisang. Sebelum menjadi pakaian, serat terlebih dulu ditenun kemudian dibuat agak sempit di bagian lehernya. Pakaian adat ini bernama Laku Tepu.

Untuk memakai pakaian adat ini akan dipadukan dengan aksesoris lain yang menjadi pelengkap, yaitu berupa penutup kepala yang disebut Pa Porong, rok rumbai-rumbai yang bernama Kawihu, juga selendang dan tusuk konde.

Baju adat dari suku Sangihe Talaud ini sering dipakai ketika upacara Tulude. Laku Tepu merupakan pakaian adat yang berupa baju dengan lengan panjang dan memiliki untaian yang menjuntai sampai ke tumit. Pakaian ini dikenakan lengkap dengan aksesoris.

Adapun aksesoris yang digunakan adalah selendang yang diletakkan di bahu (bandang), ikat pinggang (popehe), penutup kepala (paporong), serta rok rumbai (kahiwu). Aksesoris tersebut bisa digunakan oleh pria maupun wanita.

4. Pakaian Adat Minahasa

Pakaian Adat Minahasa

* sumber: blog.sr28jambinews.com

Suku Minahasa yang hidup di daerah semenanjung Sulawesi Utara juga memiliki pakaian adat khusus suku mereka. Bila dibandingkan dengan suku lain, suku ini memiliki peradaban yang lebih maju pada zamannya. Umumnya pakaian adat Minahasa digunakan saat pernikahan atau menyambut tamu.

Pakaian adat suku Minahasa terdiri dari dua macam, yaitu pakaian adat untuk pernikahan Minahasa dan pakaian adat Tonaas Wangko dan Walian Wangko. Pengantin menggunakan kebaya berwarna putih yang disebut baju model ikan duyung. Bawahannya mengenakan kain sarung bersulam motif sisik ikan.

Selain motif ikan, ada juga motif kaki seribu, motif burung, salimburung, dan motif bunga yang disebut Laborci-labirci. Busana pria berupa setelan jas tertutup dipadu dengan celana panjang yang disebut dengan busanan Tatutu. Sebagai tambahan digunakan selendang dan topi yang disebut porong.

5. Pakaian Adat Simpal

Pakaian Adat Simpal

* sumber: mikiroo.com

Jenis pakaian adat lain dari Sulawesi Utara adalah pakaian adat yang bernama Simpal. Pakaian adat ini dikatakan mirip dengan pakaian adat Kohongian yang dipakai tidak oleh sembarang orang, melainkan orang yang kedudukannya sebagai pendamping pemerintah dalam kerajaan.

Tak jauh beda dari pakaian tradisional dan pakaian adat dari suku di Sulawesi Utara lainnya, pakaian adat Simpal juga dikenakan pada acara tertentu. Salah satu acara tesebut adalah pernikahan. Pakaian adat ini akan dikenakan oleh masyarakat saat upacara pernikahan.

6. Pakaian Adat Kohongian

Pakaian Adat Kohongian

* sumber: mikiroo.com

Sulawesi Utara kaya akan budaya dan suku sehingga berdampak pada jenis pakaian adat yang dimiliki oleh provinsi ini. Menurut kabar, pakaian adat ini dikenakan saat upacara pernikahan penduduk yang memiliki status sosial tinggi, yaitu mereka yang memiliki status satu tingkat di bawah bangsawan.

Jadi, pakaian adat Kohongian ini tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kekuatan ekonomi yang mengenakannya, karena sepertinya mahal sekali. Namun itu cerita dulu. Sekarang ini pakaian adat Kohongian bisa dikenakan oleh orang dengan status sosial manapun.

7. Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo

* sumber: www.idntimes.com

Sebelum menjadi sebuah provinsi, Gorontalo adalah bagian dari Provinsi Sulawesi Utara. Pada tanggal 22 Desember 2000, Gorontalo resmi berdiri menjadi provinsi ke-32. Karena letaknya sama di utara Pulau Sulawesi, maka pakaian adat Gorontalo juga kami masukkan ke daftar ini.

Pakaian adat Gorontalo, baik untuk pria maupun wanita memiliki ciri khasnya tersendiri. Untuk wanita, pakaian adatnya disebut biliu dan payungga, sedangkan pakaian untuk pria dinamakan mukuta dan walimono. Yang unik adalah warna dari pakaian adat ini mengandung filosifi yang mendalam.

Adapun warna yang digunakan memiliki filosofi tersendiri. Warna ungu, misalnya, memiliki arti kesuburan, kesejahteraan, kedamaian dan kerukunan. Warna emas artinya, kejujuran, kemuliaan, kebesaran dan kesetiaan. Merah artinya tanggung jawab dan keberanian.

Warna cokelat mengandung arti tanah, kuburan atau kematian. Hitam mengandung arti ketakwaan pada Tuhan juga keteguhan. Yang terakhir, yaitu warna putih, artinya merupakan kedukaan atau kesucian.

Aksesoris yang digunakan oleh para pria yaitu tudung makuta, pasimeni dan kalung bakso. Sementara itu, aksesoris para wanita yaitu ikat pinggang, gelang pateda, dan masih ada lagi. Pakaian adat Gorontalo ini biasanya dikenakan saat upacara perkawinan.

Nah, itulah tujuh pakaian adat yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Utara yang sudah terkenal karena keindahan Bunaken dan kelezatan bubur Manadonya. Pakaian adat tersebut memiliki kekhasan tersendiri sehingga membuatnya tampak unik.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram