7 Tarian Adat Gorontalo yang Jadi Kekayaan Budaya Indonesia

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Provinsi yang baru berdiri pada tanggal 22 Desember 2000 terletak di Pulau Sulawesi. Walaupun Provinsi Gorontalo termasuk provinsi baru, tetapi bukan berarti mereka tak memiliki seni dan kebudayaan. Suku Gorontalo dikenal memiliki kebudayaan yang maju sejak zaman dulu.

Tarian adat Gorontalo merupakan salah satu bukti kebudayaan masyarakat Gorontalo. Apa saja tariannya? Simak penjelasannya berikut ini ya.

1. Tari Saronde

Tari Saronde

* sumber: porostimur.com

Tarian adat Gorontalo yang pertama adalah Tari Saronde. Tarian ini merupakan sebuah tarian yang diambil dari tradisi pada saat malam pertunangan serta rangkaian upacara perkawinan adat tarian yang masyarakat Gorontalo. Umumnya tarian ini dilakukan oleh para penari perempuan dan penari laki-laki.

Para penari perempuannya menarikan gerakan khas memakai seledang yang menjadi atribut ketika menari. Dulu Saronde difungsikan sebagai sarana dalam Molihe Huali, yaitu tradisi untuk mengintip atau menengok calon mempelai perempuan karena dulu masyarakat Gorontalo tak mengenal pacaran.

Karena itu hubungan keduanya masih diatur sepenuhnya oleh orang tua atau keluarga mereka.  Biasanya mempelai prialah yang melakukan tarian ini dihadapan mempelai wanita bersama dengan orang tua atau wali.

Saat sedang menari, mempelai laki-laki bisa mencuri-curi pandang ke arah mempelai perempuan agar bisa tahu seperti apa calon perempuan yang akan menjadi istrinya. Sedangkan mempelai perempuan yang berdiam di dalam ruangan, secara sedikit demi sedikit akan memperlihatkan dirinya.

Tujuan dia melakukan hal ini agar sang mempelai laki-laki mengetahui bahwa dirinya sedang memperhatikan dirinya. Gerakan dalam tarian ini lebih didominasi oleh gerakan mengayunkan tangan dan kaki ke depan dengan bergantian. Sesekali penari memainkan seledangnya dengan cara berputar.

Formasi tarian pun bisa berganti-ganti bergantung acara yang sedang berlangsung saat itu.  Formasinya juga bisa diubah ubah disesuaikan dengan acara yang sedang berlangsung.  Alat musik yang mengiringi tarian saronde adalah rebana dan nyanyian vokal.

Umumnya lagu yang dipakai dalam tarian tersebut adalah lagu khusus dari tari seronde. Di zaman sekarang, prosesi tari saronde masih tetap dilaksanakan dalam rangkaian adat pernikahan suku Gorontalo karena merupakan bagian dari adat tradisi jadi punya arti sendiri yang tak bisa ditinggalkan.

2. Tari Dana-Dana

Tari Dana-Dana

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=3nPuZ9Lwgc8

Selanjutnya, tarian adat Gorontalo yang lainnya yang juga masih dilestarikan hingga sekarang adalah tari dana-dana. Tari memiliki dua fungsi, yakni sebagai tari penyambutan serta tari perayaaan. Biasa untuk tari penyambutan dibawakan pada acara penyambutan tamu.

Sementara untuk tari perayaan dibawakan ketika perayaan adat atau perayaan-perayaan hari besar. Di bidang pariwisata, tari dana-dana juga mempunyai daya tarik tersendiri. Seringkali tarian ini juga dipertunjukkan dalam rangkaian acara promosi pariwisata dari Provinsi Gorontalo.

Seiring dengan perkembangan sosial yang terjadi, tarian ini pun terus mengalami perkembangan. Tarian dana-dana yang memang merupakan tarian untuk para remaja terus mengalami perubahan mengikuti perubahan pada kehidupan remaja sekarang ini.

Tujuan dari perubahan atau modifikasi tarian ini adalah agar remaja di masa kini masih dapat menerima tarian ini. Tarian dana-dana sekarang ini sudah mengalami beberapa perubahan seperti contohnya digabungkan dengan tari cha-cha.

Tari dana-dana klasik merupakan tarian yang keaslian gerakan, irama musik serta aspek lainnya tetap dipertahankan hingga sekarang. Sementara tari dana-dana modern merupakan tarian yang sudah mengalami perubahan dari segi gerakan, musik juga aspek lainnya.

Karena itulah tari dana-dana dibagi menjadi dua, yaitu tari dana-dana klasik dan modern. Meski mengalami transformasi, tarian dana-dana modern masih berpegang pada nilai moral serta filosofis dari tarian aslinya. Modifikasi tarian ini harus tetap bisa menyampaikan pesan positif kepada penyukanya.

3. Tari Polopalo

Tari Polopalo

* sumber: beritagar.id

Masih ada lagi tarian adat Gorontalo yang juga tak kalan menari, yaitu tari polopapo. Tarian ini merupakan tarian yang asalnya dari Gorontalo. Umumnya, tarian ini adalah tarian pergaulan yang dibawakan oleh para remaja di daerah Provinsi Gorontalo.

Polopalo yang menjadi nama tarian ini sebenarnya merupakan nama alat musik tradisional khas Provinsi Gorontalo. Alat musik polopalo adalah jenis alat musik idiofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari dari badannya sendiri.

Ketika membawakan tarian ini, biasanya para penari memakai alat musik polopalo ini sebagai properti mereka. Sekarang in tari polopalo berkembang banyak menyebabkan tarian ini dibagi menjadi dua, yaitu tari polopalo tradisional dan polopalo modern. Terdapat perbedaan di kedua tarian tersebut.

Salah satu yang menjadi perbedaan di antara kedua tarian ini, yaitu jumlah penarinya. Umumnya pada tari polopalo tradisional jumlah penarinya hanya satu orang dan musik pengiringnya akan dimainkan sendiri. Sementara tari polopalo modern dibawakan secara kelompok dengan iringan aransemen musik.

4. Tari Biteya

Tari Biteya

Tari Biteya adalah tarian adat Gorontalo yang diciptakan oleh  almarhum Bapak Umar Djafar yang juga membuat lagu pengiringnya dengan judul sama seperti nama tarinya. Kemudian, Bapak Wazir Antuli dan Bapak Kum Eraku yang merupakan seniman tari mengembangkan tarian ini

Kata Biteya asalnya dari kata bite yang artinya adalah dayung. Biteya dapat diartikan dayunglah hingga ke tempat tujuan. Nama yang diberikan ini berhubungan dengan apa yang disajikan dalam tarian ini. Tarian ini menceritakan kehidupan nelayan, dari mulai persiapan hingga proses penangkapan ikan.

Pada penampilannya, tarian Biteya dibawakan oleh 5-7 pasang penari putra dan putri yang memakai busana kaum nelayan yang banyak menggunakan warna hitam. Selaini itu, mereka juga memakai ikat kepala, sarung di pinggang serta menggunakan tolu. Musik pengiringnya perpaduan etnis dan modern.

5. Tari Tidi

Tari Tidi

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=K-6dPDelZ04

Tarian klasik dalam budaya Gorontalo bisa dikatakan diwakili oleh Istilah Tidi. Dari mulai gerak, busana, formasi, juga properti tarian ini punya nilai tersendiri, maka tidak boleh diubah. Tari tidi sudah ada dari semenjak zaman pemerintahan Raja Eyato atau saat Islam menguat di Kerajaan Gorontalo.

Sesuai dengan falsafah masyarakat setempat, yaitu adat bersendi syara’, syara’ bersendikan Kitabullah atau Al-Quran sehingga tiap bagian yang membentuk tari tidi haruslah sesuai dengan nilai agama Islam. Tarian ini harus berisi nilai moral dan nilai pendidikan.

Berkaitan dengan nilai-nilai tadi, maka dikenallah lima keterikatan. Keterikatan tersebut di antaranya keterikatan dalam melaksanakan syariat Islam, kekerabatan, yaitu keluarga, tetangga, dan masyarakat, sebagai ratu rumah tangga, pergaulan sehari-hari, dan keterikatan hak serta kewajiban rumah tangga.

Ada tujuh tidi yang berkembang di Gorontalo jika merujuk pada buku karya Farha Daulima dan Reiners  yang berjudul “Mengenal Tarian Daerah Tradisional dan Klasik Gorontalo”. Ketujuhnya yaitu Tidi Lo Polopalo, Tidi Da’a, Tidi Lo O’ayabu, Tidi Lo Tihu’o, Tidi Lo Malu’o, Tidi Lo Tonggalo, dan Tidi Lo Tabongo.

6. Tari Elengge

Tari Elengge

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ZOu7yp9h7Rk

Tarian adat Gorontalo ini namanya diambil dari bunyi alat penumbuk padi atau disebut alu. Ujung alu tersebut diberi sisipan sepotong kayu pada lubang yang berbentuk segi empat. ketika digerakan untuk menumbuk akan timbul bunyi ele-elenggengiyo atay moelengge dalam istilah Gorontalo.

Tarian ini diciptakan oleh Bapak Kum Eraku yang seorang pencipta tari dari Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango. Elengge gerakan tariannya mengutamakan sekali kebersamaan dan persatuan yang berdasarkan kekeluargaan. Jadi ketika mengerjakan sesuatu harus dilakukan secara gotong royong.

Dalam budaya Gorontalo terdapat istilah helumo, hulunga, tiayo, dan lain-lain yang merupakan simbol persatuan. Simbol ini menjadi cerminan dari tari Elengge yang juga merupakan simbol atau gambaran kegotong-royongan para remaja saat mereka menumbuk padi menggunakan alu secara bersamaan.

7. Tari Langga Buwa

Tari Langga Buwa

* sumber: blogkulo.com

Gerakan tari langga buwa yang menjadi tarian adat Gorontalo ini diambil dari seni bela diri tradisional, yakni Langga yang berarti tanpa senjata serta Longgo yang artinya dengan senjata. Tarian tradisional dari Gorontalo ini merupakan penggambaran dari aktivitas beladiri perempuan.

Pencipta tari langga buwa adalah Muraji Bareki. Tarian ini menggambarkan kesetaraan gender yang berarti perempuan dan laki-laki memiliki hak yang setara. Perbedaannya hanya pada jenis kelamin saja, antara perempuan dan laki-laki.

Tarian adat di Indonesia begitu banyak karena Indonesia memiliki jumlah suku yang banyak. Salah satu tarian adat ini berasal dari Gorontalo. Mungkin banyak dari kamu yang belum begitu familiar dengan tarian-tarian di atas. Informasi di atas bisa jadi pengetahuan baru untukmu. Apakah kamu jadi tertarik untuk mempelajari tarian daerah asal Indonesia?

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *