10 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang Masih Ada Saat Ini

Ditulis oleh Albar Fahrul Roji - Diperbaharui 21 Juli 2020

Mataram kuno atau Kerajaan Medang merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu Budha di Indonesia khususnya di tanah Jawa. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-8 di Jawa Tengah dan kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Nama “Mataram” sendiri diambil dari salah satu ibu kota Kerajaannya yaitu “Bhumi Mataram” atau nama lain dari Yogyakarta.

Untuk membedakan antara Mataram Hindu dengan Mataram Islam, maka Mataram Hindu ini lebih dikenal sebagai Mataram Kuno karena berdiri lebih awal dibandingkan dengan Mataram Islam. Terdapat setidaknya 3 Dinasti yang berkuasa di bawah pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang antara lain Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana.

Pendiri sekaligus raja pertamanya bernama Ratu Sanjaya. Kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Agraris karena sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Agama resmi yang dianut oleh Kerajaan Mataran Kuno pada awalnya adalah Hindu aliran Syiwa yaitu pada masa Dinasti Sanjaya dan berubah menjadi Budha Mahayana pada Dinasti Syailendra.

Kerajaan Mataram Kuno ini runtuh pada abad ke-11 dengan terbunuhnya Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram Kuno saat itu oleh sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kematiannya ini menjadi awal runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno dan berganti menjadi Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Pangeran Airlangga.

Runtuhnya Mataram Kuno banyak meninggalkan kisah sejarah dan beberapa peninggalan berharganya. Penasaran apa saja sih peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno? Simak pemaparannya di bawah ini!

1. Candi Borobudur

Candi Borobudur (Copy)

* sumber: blog.reservasi.com

Siapa sih yang tak kenal dengan Candi yang spektakuler ini? Ya, apalagi kalau bukan Candi Borobudur yang berdiri di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini merupakan candi bercorak Budha Mahayana yang dibangun pada tahun 800-an yaitu pada masa Dinasti Syailendra.

Candi Borobudur menjadi Candi atau Kuil Budha terbesar di dunia dan ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Candi Borobudur memiliki 504 arca Budha dan 2.672 relief yang menghiasi sepanjang dindingnya. Terdapat satu stupa besar di tengahnya sebagai mahkota dari bangunan suci ini.

Candi ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat ibadah dan tempat ziarah bagi pemeluk agama Budha. Hingga saat ini, Candi Borobudur tak pernah sepi pengunjung baik bagi para pemeluk agama Budha untuk berziarah dan beribadah, maupun para wisatawan lokal dan asing untuk berwisata.

2. Candi Prambanan

Candi Prambanan (Copy)

* sumber: momokiro.com

Tak kalah populer dari Candi Borobudur, masih di tanah Jawa juga berdiri sebuah candi megah bercorak Hindu yang juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno bernama “Candi Prambanan”.  Candi Prambanan ini memiliki nama lain Candi Roro Jonggrang karena kerap dikaitkan dengan cerita rakyat.

Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 dan menjadi Candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi Prambanan dibangun sebagai persembahan kepada Trimurti yaitu 3 dewa dalam agama Hindu diantaranya adalah Dewa Brahma, Dewa Wishnu dan Dewa Shiwa.

Candi ini terletak di Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dengan bentuk bangunan menjulang tinggi dan ramping yang di dalamnya terdapat satu candi utama berupa candi Dewa Shiwa setinggi 47 meter.

Candi Prambanan juga ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO dan menjadi salah satu situs sejarah sekaligus objek wisata yang selalu dipenuhi para wisatawan lokal maupun asing.

3. Candi Kalasan

Candi Kalasan (Copy)

* sumber: www.alodiatour.com

Terletak kurang lebih 2 km dari Candi Prambanan, terdapat sebuah candi lainnya yang berdiri tepat di Desa Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebagaimana ia berdiri yaitu di Desa Kalasan, candi ini bernama Candi Kalasan yang dikategorikan sebagai Candi Budha.

Candi Kalasan ini memiliki 52 stupa dengan detail yang indah. Candi ini dibangun sebagai persembahan bagi para Bodhisattva wanita di bawah pimpinan Maharaja Tejapurnapana Panangkaran yang merupakan bagian dari wangsa Syailendra.

Candi Kalasan memiliki detail serta pahatan batu yang indah dan sangat halus. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak zaman dulu teknik pahat di Indonesia sudah sangat maju dan banyak pemahat handal.

4. Candi Sewu

Candi Sewu (Copy)

* sumber: borobudurpark.com

Candi Sewu atau yang memiliki nama asli “Prasada Vajrasana Manjusrigrha” merupakan salah satu candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada abad ke-8 saat Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Rakai Panangkaran. Candi ini merupakan Candi Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur.

Konon usia candi Sewu ini lebih tua jika dibandingkan dengan candi lainnya seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Nama “Sewu” atau yang artinya “Seribu” ini diambil dari legenda rakyat yang sudah dipercaya secara turun temurun yaitu legenda mengenai Roro Jonggrang.

Di dalamnya terdapat 249 candi yang megah dengan satu candi utama yang terbuat dari batu andesit dengan denah menyerupai salib atau menyilang. Terdapat 4 pintu masuk di kompleks candi ini yang masing-masingnya terdapat 2 arca Dwarapala sebagai penyambut para pengunjung atau wisatawan.

5. Candi Mendut

Candi Mendut (Copy)

Candi Mendut merupakan candi aliran Budha yang didirikan pada masa pemerintahan raja Indra dari Dinasti Syailendara yang berlokasi di Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini memiliki bentuk arsitektur meninggi di atas basement dengan dikelilingi 48 buah stupa kecil.

Candi Mendut ini dihiasi relief indah yang menceritakan kisah Pancatantra dan Jataka. Selain itu, tetdapat beberapa ukiran makhluk khayangan yang turut serta menghiasi Candi Mendut ini. Ukiran-ukiran tersebut diantaranya adalah Dewata Gandarwa dan Apsara.

6. Candi Arjuna

Candi Arjuna (Copy)

* sumber: www.pegipegi.com

Candi Arjuna merupakan candi yang dibangun oleh dinasti Sanjaya pada abad ke-8 Masehi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Selain Candi Arjuna, terdapat candi-candi lainnya di Kompleks Percandian Arjuna ini yang diberi nama tokoh perwayangan seperti Candi Semar dan Candi Srikandi.

Candi Arjuna menghadap ke arah barat dengan atap yang tinggi mengerucut. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan bernama yoni yaitu sebuah tempat untuk menyimpan sesajen.

Candi Arjuna ini berdiri di lingkungan pertanian yang dikelilingi oleh perkebunan seperti kebun kentang, sayuran, dan bunga. Pada tahun 2010 Kompleks Percandian Arjuna ini diberdayakan sebagai potensi wisata oleh pihak-pihak terkait.

7. Candi Pawon

Candi Pawon (Copy)

Terletak di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, terdapat sebuah candi bernama “Candi Pawon” yang berdiri di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Seorang ahli epigrafi bernama J.G de Casparis mengatakan bahwa nama pawon ini berasal dari kata “awu” yang berarti abu atau perabuan.

Candi Pawon memiliki relief indah menggambarkan pohon hayati yang diapit oleh makhluk berkepala manusia berbadan burung. Menurut Casparis, Candi Pawon merupakan tempat penyimpanan abu dari Raja Indra dari Dinasti Syailendra.

8. Prasasti Kalasan

Candi Kalasan (Copy)

Tak hanya berupa candi, Kerajaan Mataram Kuno juga memiliki peninggalan sejarah dalam bentuk yang lain yaitu berupa prasasti seperti Prasasti Kalasan. Bernama “Prasasi Kalasan” karena prasasti ini ditemukan di Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Prasasti yang ditulis dengan huruf Pranagari (India Utara) ini mengisahkan tentang Guru Sang Raja yang berhasil membujuk Maharaja Tejahpura Panangkarana untuk membuatkan sebuah bangunan suci untuk Dewi Tara, membuatkan sebuah biara untuk para pendeta, dan menghadiahkan desa Kalasan untuk para Sangha.

Bangunan suci untuk Dewi Tara tersebut hingga saat ini masih berdiri dengan kokoh berupa candi yang dikenal sebagai Candi Kalasan.

9. Prasasti Tembaga Kedu

Prasasti Tembaga Kedu (Copy)

* sumber: oombe.blogspot.com

Selanjutnya ada Prasasti Tembaga Kedu atau yang memiliki nama lain Prasasti Mantyasih dan Prasasti Balitung. Prasasti Tembaga Kedu ini memiliki angka tahun 907 M yang mana prasasti ini merupakan peninggalan dari Dinasti Sanjaya yang pertama kali ditemukan di kampung Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah.

Di dalamnya memuat silsilah raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno mulai dari Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya hingga Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu.

10. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto (Copy)

* sumber: kerisku.id

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terakhir adalah Prasasti Sojomerto yang diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditemukan pertama kali di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Prasasti Sojomerto ditulis menggunakan huruf kawi dan berbahasa melayu. Di dalamnya menceritakan tentang keluarga Dapunta Salendra, yang merupakan cikal-bakal raja Mataram Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditulis di atas batu andesit dengan panjang 43 cm dan tinggi 78 cm.

Itu dia beberapa peninggalan bersejarah dari Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang dari berbagai dinasti dan periode. Yang jelas, peninggalan-peninggalan tersebut menjadi bukti sejarah bahwa Mataran Kuno merupakan salah satu Kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara khususnya di Pulau Jawa yang hidup bertoleransi dengan 2 agama yang berdampingan.

Semoga informasi mengenai “Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno” sebagaimana yang telah kami paparkan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai penambah wawasan tentang sejarah Kerajaan yang ada di Indonesia khususnya Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang dan menjadikan kita pribadi yang lebih mencintai sejarah.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram