Ragam Baju Adat Sulawesi Selatan yang Punya Makna Khusus

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 2 Juni 2021

Sulawesi selatan merupakan daerah di Nusantara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Wilayah ini dihuni oleh beberapa suku yang masih memegang adat tradisi nenek moyangnya. Ritual dan perniknya masih sering dijumpai termasuk pemakaian baju adat. Berbicara mengenai baju adat tidak akan lagi membahas sisi fungsionalnya saja.

Bagi masyarakat di suku-suku di wilayah Indonesia baju adat merupakan identitas kesukuan. Di zaman kiwari baju adat memang hanya dikenakan di saat acara-acara tertentu saja seperti saat ritual kebudayaan dan pesta pernikahan. Yuk, ketahui lebih jauh baju-baju adat dari Sulawesi Selatan berikut ini!

1. Baju Pokko

Baju Pokko

* sumber: www.celebes.co

Baju adat dari Sulawesi selatan yang pertama adalah baju Pokko. Baju ini adalah baju adat suku Tana Toraja. Suku Toraja mendiami sebagian wilayah Sulawesi Selatan. Baju Pokko merupakan baju adat yang biasa dikenakan oleh pawa wanita di Tana Toraja.

Baju Pokko dari Sulawesi selatan mempunyai ciri khas warna cerah yang mencolok. Warna-warna baju Pokko terdiri dari warna putih, kuning, hijau dan merah. Baju adat ini berlengan pendek

Baju Pokko dan aksesorisnya adalah paket yang tidak bisa dilewatkan. Aksesoris berupa manik-manik yang dibuat gelang, ikat kepala, ikat pinggang dan hiasan yang biasa dikenakan di dada. Mengenakan baju Pokko tidak boleh tanpa aksesoris-aksesoris tersebut.

Baju Pokko dikenakan pada saat upacara adat upacara pernikahan, pemakaman dan sebagai pakaian yang dikenakan oleh para penari dalam tarian Ma’gellu dan Pa’gellu.

Di Sulawesi Selatan, baju Pokko wajib dikenakan oleh para pegawai negeri sipil dan baju yang biasa dipakai pada acara-acara resmi mirip baju batik di pulau Jawa. Para pegawai pemerintah ini mengenakan baju Pokko di hari Sabtu.

2. Sepa Tallung

Sepa Tallung

* sumber: www.celebes.co

Selain baju Pokko, masyarakat Tana Toraja memiliki baju adat yang diperuntukan bagi laki-laki. Mereka menamai baju adat laki-laki ini dengan nama Seppa Tallung. Sepa Tallung adalah satu set baju adat dengan ukuran panjang celana sampai menyentuh lutut.

Sama seperti baju Pokko, saat memakai baju Sepa Tallung kita tidak boleh melewatkan aksesorisnya. Aksesoris Sepa Tallung terdiri dari gayang (keris), selempang, Lipa (sarung tenun tradisional berbahan sutra bermotif), sabuk, dan kain penutup kepala.

Terdapat aksesoris khas yang dipakai dalam baju adat ini a yang disebut Kandaure. Kandaure adalah hiasan yang dibuat dari manik-manik. Selain di dada, Kandaure dikenakan sebagai ikat pinggang dan ikat kepala.

Kandaure tidak hanya berfungsi sebagai benda dekoratif yang membuat penampilan baju lebih cantik, ia mmepunyai fungsi khusus yakni sebagai pemanggil hujan dan jimat. Kandaure dikenakan oleh laki-laki dan perempuan yang berasal dari keluarga bangsawan.

Manik-manik yang membelit tubuh ini mempunyai variasi harga yang bermacam-macam, namun memang harganya relatif mahal. Semakin kuno manik-manik yang digunakan, harga Kandaure semakin tinggi.

Di masa kini, Kandaure dapat dikenakan oleh siapapun. Material pembuatan manik-maniknya pun tidak terbatas dari bahan-bahan langka saja. Kini Kandaure ada yang terbuat dari plastik. Harganya relatif murah.

Baju adat berwarna terang ini pernah dikutsertakan pada event Manhunt International di Korea Selatan di tahun 2011. Baju adat Tana Toraja ini mendapat sanjungan dan apresiasi dari dunia internasional di ajang tersebut.

3. Baju Tutu

Baju Tutu

Lelaki dari suku Bugis mengenakan baju Tutu sebagai baju adat pada upacara pernikahan dan ritual adat lainnya. Baju adat ini berupa jas yang dipadukan dengan celana yang disebut paroci dan kain sarung atau selendang khas (Lipa).

Jas baju tutu berlengan panjang dan berkerah. Bagian kerah terdapat kancing besar mencolok berwarna emas atau perak. Kerah ini dipasangkan pada bagian leher baju yang menampilkan kesan gagah bagi pemakainya.

Kaum laki-laki memakai baju Tutu dengan tutup kepala yang disebut songkok sebagai hiasan kepala. Dahulu, baju tutu dikenakan saat upacara-upara penting seperti pernikahan namunkini baju adat ini dikenakan pada acara-acara lain seperti lomba menari, dan upacara penyambutan tamu kehormatan, termasuk pada saat pernikahan.

4. Baju Bodo

Baju Bodo

Kalau kaum laki-laki dari suku Bugis punya baju Tutu sebagai baju adatnya, kaum wanita dari suku Bugis punya baju Bodo sebagai baju adat. Baju bodo dari Sulawesi ini merupakan salah satu baju adat tertua di dunia.

Masyarakat Sulawesi mengenakan baju adat ini sejak abad ke-9. fakta ini diperkuat dengan catatan yang menjelaskan mengenai bahan dasar kain yang dikenakan. Baju Bodo dibuat dengan menggunakan bahan kain muslin.

Kain muslin mempunyai pelafalan yang berbeda di tempat-tempat lain. Misalnya saja orang Yunani menyebut kain ini dengan Maisolos, orang India timur menyebutnya Masalia, sedangkan orang Arab menyebut kain ini dengan sebutan Ruhm.

Berdasarkan catatan pedagang Arab di abad ke-9 yang bernama Sulaiman, kain muslin awalnya dibuat di kota Dhaka. Akan tetapi Marco Polo mencatat bahwa kain muslin dibuat di Mosul, Irak pada tahun 1298. Di Eropa sendiri kain muslin baru dikenal sejak abad ke-17.

Kain muslin popular di Perancis satu abad setelahnya. Sementara itu, Hindia Belanda mengenal kain ini sebab sering digunakan oleh wanita Eropa yang bermukim di Hindia Belanda. Ciri khas dari baju ini adalah warnanya yang beragam dan setiap warnanya mempunyai makna tersendiri. Baju tutu berwarna jingga dipakai oleh anak perempuan berusia 10 tahun.

Untuk anak perempuan yang berusia 10-14 tahun baju Bodo yang dikenakannya berwarna jingga dan merah. Baju Bodo warna merah dipakai oleh gadis berusia 17-25 tahun. Dan warna ungu dipakai oleh janda. Sementara itu, para bangsawan mengenakan warna hijau. Sedangkan, warna putih dikenakan oleh perempuan dari kalangan pembantu dan dukun.

5. Baju Adat Pattuqduq Towaine

Baju Adat Pattuqduq Towaine

Wanita dari Suku Mandar di Sulawesi Selatan mempunyai baju adat yang dinamai baju Pattuqduq Towaine. Sama seperti baju adat pada umumnya, baju Pattuqduq Towaine dikenakan saat acara-acara adat dan ritual pernikahan serta saat menari tarian Pattuqduq.

Baju pattuqduq yang dikenakan untuk pernikahan berbeda dengan baju Pattuqduq yang dikenakan untuk upacara adat lainnya. Bedanya terdapat pada jumlah potongan baju yang dikenakan.

Baju adat untuk menikah terdiri dari 24 potong, sedangkan baju adat lainnya hanya terdiri dari 18 potong. Komponen aksesoris yang dikenakan pada baju adat ini terdiri dari atasan yang disebut rawang boko, bawahan berupa sarung khas Mandar yang disebut Lipaq Saqbe.

Pada Pattuqduq terdapat sarung lain yang dikenakan yang disebut Lipaq Aqdi dirrater duattdong. Aksesoris lain yang dipadukan dengan baju adat ini terdiri dari hiasan kepala, kalung, gelang dan ikat pinggang yang disebut kliki.

Gelang-gelang ini mempunyai beberapa macam di antaranya gallang balleq, yakni gelang yang dikenakan di tangan kanan dan kiri. Ada gelang kecil yang digunakan untuk menahan gallang baleq yang disebut dengan poto.

Ada pula jima saletto yang merupakan gelang lebar yang dipakai pada bahu, teppang dipakai dibawah jima saletto, sementara jima maborong adalah gelang yang dipakai oleh kaum bangsawan. Jima maborong fungsinya sama dengan jima saletto.

Dan terakhir, ada sima simang, yakni gelang dengan bulir manik yang besar. Nah itu dia baju adat dari Sulawesi Selatan yang bisa kamu ketahui. Baju dan aksesoris umumnya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.

Itulah penjelasan mengenai baju adat dari Sulawesi Selatan yang sarat akan makna dan kepercayaan. Jika diperhatikan baju adat dari wilayah ini memiliki warna yang corak unik. Rata-rata baju adat ini memiliki corak khas lokal dengan paduan corak ketimuran yang kental. Dua elemen yang berasal dari tempat berbeda ini membaur dengan cantik.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram