Fakta Kampung Adat Cireundeu yang Mengonsumsi Singkong

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 5 November 2021

Indonesia memiliki kampung-kampung adat yang masih menjaga nilai-nilai tradisinya secara konsisten. Mereka masih menjalankan kepercayaannya. Sebagian dari kampung adat ini ada yang sudah mengalami akulturasi ada juga yang tetap menjaga keaslian ajaran leluhurnya. Mungkin kebanyakan kita sudah mengenal kampung adat Ciptagelar atau Baduy, ternyata masih ada kampung adat lainnya.

Kampung Adat Cireundeu adalah desa adat yang berada di Cimahi. Sampai sekarang penduduk kampung ini masih menjaga toleransi serta nilai adat istiadat mereka secara turun-temurun. Penduduk di kampung adat ini terkenal karena mereka tidak mengkonsumsi nasi, melainkan singkong. Seperti apa Kampung Adat Cireundeu? Berikut ini fakta Kampung Adat Cireundeu.

Baca juga: Fakta Kampung Adat Cikondang yang Kaya Akan Nilai Luhur

Namanya Diambil dari Nama Pohon

Namanya Diambil dari Nama Pohon

Kampung Adat Cireundeu berada di Kelurahan Leuwigajah, Kec. Cimahi Selatan, Cimahi. Tempat ini sekelilingnya tertutup oleh gunung, lokasi tepatnya berada di lembah Gunung Cimenteng, Gunung Gajahlangu, dan Gunung Kunci.

Nama Kampung Cireundeu ternyata berasal dari nama pohon, yaitu “pohon reundeu”. Pohon ini banyak ditemui tumbuh di sekitar daerah tersebut dan diyakini tanaman tersebut mempunyai khasiat jadi tanaman herbal yang dapat digunakan untuk penyembuhan banyak penyakit.

Jumlah penduduk Kampung Cireundeu sekitar 800 jiwa lebih. Kampung ini dihuni oleh 65 kepala keluarga yang sebagian besar bermata mata pencahariannya sebagai petani singkong. Luas Kampung Adat tersebut sekitar 64 ha, yang sekitar 60 ha diperuntukan bagi pertanian dan sekitar 4 ha dijadikan tempat pemukiman.

Mata pencaharian mereka sebagian besar jadi petani singkong atau bercocok tanam. Mereka memegang tradisi warisan tetua terdahulu yang mengakar kuat. Sebagian besar penduduk Cirendeu tak suka merantau serta berpisah dengan sanak saudaranya.

Masih Memegang Teguh Kepercayaan Leluhur

Masih Memegang Teguh Kepercayaan Leluhur

Penduduk adat Cireundeu memegang kepercayaannya dengan sangat teguh, yaitu kebudayaan juga adat istiadat mereka. Prinsip penduduk Kampung Cireundeu yaitu “Ngindung Ka Waktu” serta “Mibapa Ka Jaman”. Kata “Ngindung Ka Waktu” berarti masyarakat kampung adat memiliki cara, ciri serta keyakinan masing-masing.

Sementara “Mibapa Ka Jaman” artinya yaitu arti penduduk Kampung Adat Cireundeu tak melawan perubahan zaman, tapi mengikutinya misalnya teknologi, alat komunikasi seperti handphone, televisi, juga penerangan. Konsep masyarakat kampung adat yang sejak zaman dulu selalu diingat adalah suatu daerah itu dibagi jadi tiga bagian, yaitu:

  • Leuweung Larangan atau hutan terlarang yakni hutan yang pepohonannya tak boleh ditebang karena pohon-pohon tersebut berfungsi sebagai penyimpanan air khususnya bagi penduduk Kampung Adat Cireundeu.
  • Leuweung Tutupan atau hutan reboisasi yakni hutan yang dipakai untuk reboisasi. Pepohonan di hutan ini bisa dipergunakan, tapi penduduk harus mengganti pohon lama dengan menananm pohon yang baru. Luasnya kampung adat ini sekitar 2 sampai 3 hektar.
  • Leuweung Baladahan atau hutan pertanian, yakni hutan yang bisa digunakan oleh masyarakat setempat untuk berkebun. Biasanya lahan tersebut ditanami dengan jagung, singkong atau ketela, kacang tanah, dan umbi-umbian.

Beralih dari Beras ke Singkong

Beralih dari Beras ke Singkong

Awalnya di tahun 1918, penduduk Kampung Adat Cirendeu sudah mulai berpindah dari beras ke singkong sesudah penjajah menyita lahan padi mereka melalui pemberlakuan tanam paksa atau Cultuurstelsel.

Sesudah itu, mereka terus melanjutkan peralihan tersebut mengikuti arahan dari Haji Ali atau Mama Ali yang menjadi tokoh setempat sampai terjadi bencana alam pada tahun 1920-an. Pada tahun itu terjadi bencana kekeringan yang berdampak pada kebun dan sawah masyarakat Cireundeu. Keluarga Haji Ali pun mulai mengenalkan pemanfaatan singkong yang diolah jadi beras.

Seluruh warganya diminta oleh Haji Ali untuk menanam singkong. Hal itu karena singkong dapat bertahan dalam bermacam kondisi. Semenjak itu masyarakat kampung adat tersebut mulai berpindah dan mengganti nasi dengan rasi, yaitu beras singkong untuk makanan utama mereka.

Sampai sekarang, secara turun temurun penduduk adat mengonsumsi singkong yang dinamakan dengan rasi untuk jadi pengganti makanan pokok. Cara pengolahan singkong dilakukan dengan cara digiling, kemudian diendapkan lalu disaring sehingga menghasilkan aci atau sagu.

Ampas dari olahan tersebut kemudian dikeringkan serta dibuat jadi rasi atau beras singkong. Selain itu, singkong juga diolah jadi bermacam camilan seperti egg roll, opak, cireng, bolu, simping, bahkan jadi dendeng kulit singkong yang dijual sebagai oleh-oleh sesudah dikemas. Rasa kenyang karena mengkonsumsi singkong lebih lama daripada padi. Karenanya penduduk adat makan dua kali sehari.

Dua Mata Air Sakral

Dua Mata Air SakralSumber: youtube.com

Masyarakat adat di Kampung Cireundeu kebutuhan airnya didapatkan dari mata air yang berada di lereng Gunung Gajahlangu. Mata airnya bernama Caringin. Tak hanya Caringin, kampung ini juga mengandalkan mata air yang bernama Nyimas Ende.

Bagi perempuan yang sedang haid dilarang untuk mendekat ke area mata air ini agar lokasi mata air terjaga kesuciannya. Menurut kepercayaan penduduk setempat itu adalah kabuyutan atau hal yang dihormati sekali.

Kedua mata air ini, yaitu Caringin dan Nyimas Ende lokasinya terletak di wilayah kabuyutan, yaitu wilayah larangan. Karenanya kedua mata air tersebut tak boleh diganggu walaupun mata air tersebut digunakan sebagian untuk keperluan sehari-hari.

Nyimas Ende tak hanya dipakai oleh warga adat saja. Umat Hindu yang berdiam di daerah Cimahi ataupun di Bandung, mata air ini sendiri adalah mata air yang diyakini suci. Tiap perayaan Melasti maupun ritual membersihkan diri, umat Hindu akan memilih pancuran air ini sebagai tempat mereka melaksanakan penyucian diri. Yang istimewa, kedua mata air tersebut dapat diminum langsung.

Menjaga Kesakralan Hutan

Menjaga Kesakralan HutanSumber: correcto.id

Kampung Adat Cireundeu tidak seperti kampung adat lainnya yang terlihat suasana tradisionalnya. Ruas jalannya sudah disemen. Selain itu, hampir semua bangunan di kampung ini juga merupakan bangunan permanen.

Penduduk kampung ini juga tidak menutup diri mereka terhadap perkembangan zaman. Hal itu nampak dari penggunaan teknologi di antara penduduknya. Hampir sama seperti masyarakat perkotaan, mereka menggunakan beragam peralatan elektronik.

Masyarakat adat Cireundeu jika dilihat dari segi kehidupan sosialnya, mereka dalam kehidupan sehari-hari sangat patuh menjaga hutan sakral. Hingga saat ini penduduk adat Cireundeu tak pernah mengganggu juga merusak hutan larangan yang luasnya sekitar 30 hektar. Oleh karena itu kelestarian dan keutuhan hutan tersebut tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.

Untuk penduduk kampung adat, leuweung atau hutan merupakan kawasan yang penting, kawasan sakral yang perlu dijaga. Para orang tua dahulu mewariskan kepada mereka tata wilayah mengenai hutan larangan, babadahan, dan tutupan. Itu merupakan konsep para leluhur agar bisa menjaga keseimbangan alam.

Campur tangan manusia tidak diperbolehkan ada di Hutan larangan. Apa saja yang tumbuh di dalamnya harus dibiarkan tumbuh, yang disebut sebagai gentong bumi oleh orang Sunda, yang berarti tempat menyimpan air. Tujuannya agar ketika musim hujan, airnya tak berlebihan serta ketika musim kemarau tidak kekurangan air.

Sampai sekarang di kampung yang ditinggali oleh kira-kira 70 kepala keluarga tersebut budaya pamali selalu jadi sesuatu yang wajib diperhatikan. Itu karena, kunci keseimbangan hidup adalah kelestarian hutan. Saat kondisi habitat di dalam hutan mengalami kerusakan, barulah hutan larangan bisa dimasuki. Upacara netepkeun kawilayahan akan digelar oleh sesepuh atau mereka yang dituakan.

Apabila terjadi kerusakan, mereka harus masuk ke dalamnya tapi dengan syarat puasa mutih. Mereka masuk ke dalam untuk melihat tanaman apa yang dapat ditanam untuk mengganti tanaman yang rusak. Sebelum upacara diadakan, terlebih dahulu bibit kayu dikarantina selama 40 hari. Penduduk yang menanam bibit diharuskan juga memantau kondisi perkembangan bibit sampai siap ditanam.

Upacara netepkeun kawilayahan dulu pernah dilakukan di tahun 2008. Upacara tersebut diadakan sesudah terjadi pembalakan liar yang mengakibatkan kondisi hutan tersebut jadi rusak. Waktu pelaksanaan upacara tidak pasti, bergantung pada kondisi, misalnya kalau terjadi kebakaran. Wilayah hutan larangan jadi terbakar, barulah nanti diadakan upacara netepkeun sesudah disepakati.

Ketika Keluar Kampung Membawa Bekal Singkong

Keunikan dari Cireundeu salah satu yaitu masyarakatnya yang tak dapat lepas dari singkong. Disebutkan kalau warga Cireundeu saat bepergian keluar kota, mereka selalu membawa bekal berupa beras singkong untuk jadi teman makan saat dalam perjalanan.

Ketika mereka sedang berkunjung ke suatu tempat yang tak menyediakan singkong, mereka akan bertanya terlebih dulu apakah singkong tersedia atau tidak. Jika yang tersedia hanya camilan, biasanya mereka akan lebih memilih makan camilan yang berbahan singkong.

Itulah fakta Kampung Adat Cireundeu yang unik karena penduduknya sudah tidak lagi mengkonsumsi beras tapi menggantinya dengan rasi, yakni beras yang terbuat dari singkong. Peralihan ini terjadi karena dahulu ada Cultuurstelsel.

Meskipun masih menjaga adat istiadatnya, mereka menerima perubahan zaman. Terbukti dengan penggunaan barang elektronik. Apakah kamu tertarik untuk berkunjung ke kampung adat ini?

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram