7 Hal Menarik Tentang Kampung Adat Wae Rebo di Flores

Ditulis oleh - Diperbaharui 26 Desember 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Flores merupakan salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kini sedang banyak dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan. Biasanya, wisatawan lebih banyak mengenal Pulau Komodo yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, atau lebih dikenal dengan sebutan Labuan Bajo. Padahal selain itu, masih banyak destinasi lain di Flores yang menarik untuk dikunjungi.

Salah satunya ada Kampung Adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai. Wae Rebo berada di ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Memiliki suhu yang dingin, dan udara yang sangat asri karena tidak adanya polusi. Wae Rebo sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO karena kampung adat ini masih terus melestarikan budayanya meski sudah ada di zaman modern.

Wae Rebo dengan segala keunikannya, wajib masuk ke dalam bucketlist liburanmu. Jika kamu sudah merasa penasaran dan tertarik ke sana, yuk ketahui 7 hal tentang Kampung Adat Wae Rebo. Simak ulasannya berikut ini!

1. Lokasi Kampung Adat Wae Rebo

Lokasi Kampung Adat Wae Rebo

* sumber: astriacis.wordpress.com

Kampung Adat Wae Rebo terletak di Satar Lenda, Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai. Tepatnya berada di tengah-tengah antara Ruteng dan Labuan Bajo. Desa terakhir sebelum ke Wae Rebo adalah Desa Denge yang jaraknya 143 km dari Pelabuhan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Desa Denge dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari Labuan Bajo selama 5 – 6 jam perjalanan. Rute yang dilalui adalah Trans Flores dengan jalur yang menikung, kemudian masuk melewati jalur pedesaan yang sempit. Sehingga kamu perlu berhati-hati apabila berpapasan dengan kendaraan lain.

2. Mbaru Niang

Mbaru Niang

* sumber: astriacis.wordpress.com

Daya tarik dari Kampung Adat Wae Rebo adalah bangunan berbentuk kerucut yang membentuk letter-U. Bangunan ini dinamakan Mbaru Niang. Terdapat 7 Mbaru Niang yang sudah ada sejak dulu. Mbaru Niang paling besar yang ada di tengah merupakan Mbaru Niang Utama, tempat dimana tetua adat Wae Rebo tinggal.

Dalam Mbaru Niang terdapat lima lantai dengan fungsi yang berbeda-beda. Lutur merupakan lantai dasar yang dijadikan sebagai tempat tidur penghuni dan pengunjung, Lobo sebagai tempat penyimpanan bahan makanan, Lentar sebagai tempat menyimpan benih tanaman, Lempa Rae sebagai tempat menyimpat stok cadangan makanan, dan Hekang Kode sebagai tempat sesajen.

3. Upacara Adat

Upacara Adat

* sumber: astriacis.wordpress.com

Masyarakat Wae Rebo tetap memegang teguh adat dan budaya yang sudah diturunkan sejak dulu. Salah satu upacara adat yang bisa diikuti setiap wisatawan adalah upacara penyambutan tamu. Setiap pengunjung yang baru datang, akan dipersilakan masuk ke Mbaru Niang utama, tempat tinggal tetua adat Wae Rebo.

Pada saat upacara adat berlangsung, pengunjung tidak diizinkan mengambil gambar, baik itu foto maupun video untuk menjaga privasi. Upacara penyambutan dilakukan oleh tetua adat Wae Rebo menggunakan bahasa daerah. Tetua adat tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi selanjutnya akan diterjemahkan oleh penduduk lokal yang mendampingi.

4. Suku Asli Wae Rebo

Suku Asli Wae Rebo

* sumber: astriacis.wordpress.com

Kampung adat Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun siapa sangka, jika masyarakat asli Wae Rebo merupakan suku Minang? Masyarakat Minang sejak lama dikenal sebagai perantau ulung. Salah satunya, mereka merantau ke Flores. Kemudian tumbuh dan menetap di Wae Rebo.

Sesepuh Wae Rebo membangun sendiri Mbaru Niang dengan bentuk yang sampai saat ini masih sama. Namun bangunan sebelumnya pernah mengalami beberapa kerusakan, kemudian pada akhirnya dibangun kembali dengan fondasi yang sama, seperti yang bisa dilihat saat ini.

Kebiasaan masyarakat Minang untuk merantau, juga dilakukan oleh mereka yang sudah menetap di Wae Rebo. Sejak sekolah dasar, mereka bersekolah di Desa Denge, kemudian naik ke tingkat mengengah pertama mereka sekolah lebih jauh di desa lain. Saat memasuki sekolah menengah atas, mereka merantau lebih jauh yaitu ke Kota Ruteng, ataupun Labuan Bajo.

Jangan mengira masyarakat Wae Rebo terbelakang. Sepengalaman saya saat berkunjung ke sana, mayoritas anak-anak muda mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Bahkan, ada yang berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Meski tinggal di desa yang sangat tradisional, tetap mengedepankan pendidikan untuk masa depan mereka.

5. Penghasil Kopi dan Tenun

Penghasil Kopi dan Tenun

* sumber: backpackstory.me

Selain dari sektor pariwisata, masyarakat Wae Rebo menggantungkan hidupnya pada kopi dan tenun. Wae Rebo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menjadi penghasil kopi terbaik dan kenikmatannya sudah diakui di Indonesia. Bagi pecinta kopi pasti akan suka dengan kopi asli Wae Rebo karena rasanya yang berbeda dengan biji kopi lainnya.

Tak jauh dari pemukiman masyarakat Wae Rebo, terdapat perkebunan kopi yang akan kamu lewati ketika sedang berjalan kaki menuju kampung adat. Biji kopi yang sudah dipetik kemudian ditumbuk secara tradisiomal oleh para Mama. Sedangkan pria biasanya pergi ke ladang untuk mengurus kebun.

Tak hanya kopi, perempuan di Wae Rebo juga beraktivitas sebagai penenun dan hasil dari tenun yang dibuat, dijual sebagai souvenir untuk pengunjung, dan ada juga yang dijual di toko oleh-oleh Labuan Bajo. Harga tenun bervariasi, mulai Rp150.000 hingga jutaan bisa kamu beli sebagai buah tangan.

6. Pendakian ke Wae Rebo

Pendakian ke Wae Rebo

Sudah membahas hal inti tentang Wae Rebo, kini saatnya membahas bagaimana caranya bisa menuju ke kampung adat ini. Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa desa terakhir sebelum ke Wae Rebo adalah Desa Denge. Wisatawan yang sudah sampai di Desa Denge, dapat menggunakan jasa ojek lokal sampai ke Pos 1 dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Jika ingin berjalan kaki dari Desa Denge ke Pos 1, dapat ditempuh dalam waktu 1 – 2 jam perjalanan. Jadi untuk menghemat waktu, disarankan menggunakan jasa ojek. Kemudian dari Pos 1, dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalurnya di awal sedikit terjal dan menanjak. Namun jalur terjal tidak terlalu panjang, sisanya landai dan sedikit menanjak.

Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, tibalah di Pos 2. Pemandangan dari Pos 2, terlihat perbukitan di sekeliling Wae Rebo yang rimbun dan menyejukkan. Jalur ini cukup terbuka. Kemudian dilanjutkan kembali, berjalan kaki selama kurang lebih 1 – 1,5 jam tergantung kecepatan.

Setibanya di Wae Rebo, wisatawan harus membunyikan kentungan, sebagai penanda bahwa ada tamu yang akan datang. Lalu dilanjutkan turun ke kawasan rumah adat dan akan dipersilakan untuk masuk ke dalam Mbaru Niang Utama untuk upacara penyambutan, dan disuguhkan kopi khas Wae Rebo sebagai pembuka.

7. Tips Mengunjungi Wae Rebo

Tips Mengunjungi Wae Rebo

* sumber: astriacis.wordpress.com

Jarak dari Labuan Bajo ke Wae Rebo terbilang jauh, dan jalurnya cukup berat. Jadi tips yang pertama, sangat disarankan sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat, dan jika memiliki kebiasaan mabuk darat, wajib mempersiapkan obat anti mabuk karena jalur yang meliuk sangat banyak dengan tikungan tajam.

Wajib membawa baju hangat, kaus kaki, dan barang lainnya yang dapat menghangatkan tubuh. Suhu di Wae Rebo sangat dingin, terutama pada waktu malam. Namun saat tidur, tidak perlu khawatir karena pengunjung disediakan matras empuk, bantal, dan selimut yang sangat tebal. Jadi saat tidur tidak akan merasa kedinginan.

Gunakan sandal atau sepatu gunung. Jika tidak memiliki sepatu gunung, bisa memakai sandal gunung atau sepatu olah raga. Jika musim hujan, sangat disarankan pakai sepatu karena dikhawatirkan ada pacet di sepanjang jalur pendakian. Jangan lupa membawa obat-obatan pribadi, terutama bagi yang tidak kuat dengan suhu dingin.

Siapkan uang tunai. Meskipun jauh dari keramaian wisata, Wae Rebo juga menjual souvenir dan oleh-oleh khas. Sayang kan, sudah jauh-jauh ke Wae Rebo kalau tidak membawa buah tangan? Selain itu, perlu mempersiapkan biaya Rp325.000 untuk menginap satu malam di Wae Rebo. Jika tidak menginap biayanya Rp200.000.

Siapkan fisik sebelum berangkat ke Wae Rebo dan jika berkenan bisa membawa buku untuk dibagikan ke anak-anak di sana. Terakhir, tetap menjaga kelestarian dan keindahan dari Wae Rebo dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga sikap selama kunjungan.

Flores memang tidak pernah ada habisnya untuk dieksplor. Selain Kepulauan Komodo di Manggarai Barat dan Danau Kelimutu di Ende, ada satu kampung adat yang wajib untuk kamu kunjungi. Bagaimana, tertarik berkunjung ke Wae Rebo? Yuk, ajak sahabatmu mengunjungi salah satu Warisan Budaya Dunia!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *