10 Pakaian Adat Yogyakarta yang Unik dan Menarik

Ditulis oleh Syarip Ahmad D - Diperbaharui 7 Juni 2021

Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang terkenal memiliki beragam budaya unik. Salah satunya adalah keberadaan pakaian adat yang biasa digunakan oleh masyarakat Yogyakarta. Selain digunakan sehari-hari, masyarakat juga kerap menggunakan pakaian adat untuk sejumlah keperluan seperti pertemuan negara, pesta pernikahan, menyambut hari besar, dan acara-acara penting lainnya.

Nah, pakaian adat apa saya yang ada di kota berjulukan sebagai kota pelajar tersebut. Yuk, simak ulasan mengenai pakaian adat Yogyakarta yang telah Keluyuran rangkum berikut ini!

1. Baju Kesatriaan Ageng

Baju Kesatriaan Ageng

Pakaian adat Kesatriaan Ageng merupakan pakaian adat yang biasa digunakan di lingkungan keraton. Pakaian ini biasanya digunakan oleh tumenggung dan adipati untuk pertemuan penting keraton. Salah satu ciri khas pakaian adat yang satu ini adalah Kuluk Kanigara atau yang dikenal juga dengan Kuluk Jangan Menir, yaitu penutup kepala berwarna hitam yang berbentuk kaku dengan ukuran yang tinggi.

Sementara untuk pakaian sendiri biasanya berbahan dasar kain Beludru berwarna hitam dengan ornamen keemasan. Untuk pakaian wanitanya sendiri hampir sama seperti pakaian yang digunakan oleh pria, yaitu berbahan dasar beludru.

2. Surjan

Surjan

Salah satu pakaian adat yang juga biasa ditemukan di Yogyakarta adalah Surjan. Masyarakat Yogyakarta sendiri kerap menyebut pakaian yang biasa digunakan oleh laki-laki ini dengan nama pakaian Takwa. Pakaian ini biasa digunakan dalam rangkaian upacara Grebeg, yaitu perayaan rutin yang biasa diadakan masyarakat Jawa untuk memperingati hari besar.

Surjan diketahui memiliki beragam motif. Meski demikian, motif yang cukup sering digunakan biasanya memiliki garis berwarna coklat dan hitam. Salah satu ciri khas yang ada pakaian ini adalah 6 buah kancing yang terdapat pada bagian leher dan 2 buah kancing pada bagian dada.

Pakaian ini biasanya dipadukan dengan kain Jarik khas Yogyakarta dan juga aksesoris berupa penutup kepala yang dikenal dengan Blangkon.

3. Jarik

Jarik

Jarit atau Jarik merupakan salah satu jenis kain yang cukup terkenal di tanah air, khususnya di daerah pulau Jawa. Setiap daerah biasanya memiliki beragam jenis motif yang cukup menarik dan berbeda satu sama lain. Kain Jarik sendiri menjadi salah kain yang biasa digunakan untuk berbagai keperluan atau acara.

Jenis kain ini biasanya digunakan oleh wanita atau pria sebagai bawahan. Beberapa motif yang cukup dikenal dan banyak digunakan biasanya motif Sidomukti, Sidomulyo, dan Sekar Jagad. Keunikan motif dari kain tersebut membuatnya cukup digemari, bahkan kerap dikoleksi oleh masyarakat tanah air.

4. Sikep Alit

Sikep Alit

Pakaian adat Yogyakarta berikutnya yang juga cukup menarik adalah Sikep Alit. Pakaian adat yang satu ini biasa digunakan oleh abdi dalem, yaitu para pekerja yang ada di keraton. Pakaian ini biasanya digunakan untuk sebuah acara penting seperti pertemuan atau jamuan makan malam yang diadakan keraton.

Bagian atas pakaian biasanya berwarna biru gelap dengan kancing terbuat dari logam seperti kuningan atau tembaga. Untuk bagian bawah sendiri biasanya menggunakan Jarik dengan motif Sawita. Selain Blangkon, pakaian adat yang satu ini juga dilengkapi dengan aksesoris berupa keris yang diselipkan di bagian belakang sebelah kanan.

5. Kebaya Beludru

Kebaya Beludru

Salah satu pakaian yang juga biasa digunakan oleh masyarakat Yogyakarta adalah kebaya Beludru. Pakaian ini biasanya digunakan oleh wanita Yogyakarta. Kebaya ini berbahan dasar kain Beludru yang cukup tebal. Pakaian ini biasanya berwarna hitam dengan dihiasi dengan ornamen berwarna emas. Kebaya Beludru biasanya dipadukan dengan kain Jarik sebagai bawahan.

Motif yang digunakan biasanya motif yang khas dimiliki oleh Yogyakarta seperti Sidomukti atau Sidomulyo. Sebagai pelengkap penampilan, wanita Yogyakarta biasanya menata rambutnya dengan cara disanggul dengan menambahkan tusuk konde berbentuk gunung. Selain itu, kalung tiga susun dan gelang tanpa ujung menjadi aksesoris tambahan yang biasa digunakan untuk pakaian adat ini.

6. Keprabon

Keprabon

Keprabon merupakan pakaian adat yang biasa digunakan oleh Sultan untuk sejumlah  upacara penting seperti penobatan raja, Grebeg, Jumengeng, atau untuk acara pernikahan bagi anggota kerajaan. Pakaian ini berbahan dasar beludru dengan motif binatang dan dihiasi prada emas.

Pakaian Keprabon sendiri diketahui memiliki tiga jenis, yaitu pakaian Dodotan, pakaian Kanigaran, dan pakaian Keprajuritan. Pakaian ini biasanya dihiasi dengan berbagai aksesoris tambahan seperti Kuluk Kanigara, Kampuh Konco setunggal, Timang, Rante, Keris Branggah, dan juga aksesoris lain yang membuat pakaian ini terlibat lebih menarik.

7. Sabukwala Padintenan

Sabukwala Padintenan

Selain untuk dewasa, anak-anak di Yogyakarta juga memiliki pakaian adat yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Sabukwala Padintenan. Pakaian ini diketahui memiliki 3 jenis pakaian yang terdiri dari Sabukwala nyamping batik, Sabukwala nyamping praos, dan Sabukwala nyamping cindhe.

Jenis pakaian adat ini biasa digunakan oleh anak perempuan yang ada di Yogyakarta untuk berbagai acara penting seperti pernikahan, perayaan agustusan, atau acara lainnya. Pada umumnya pakaian adat ini memadukan antara kebaya untuk bagian atas dan Kain Jarik untuk bagian bawahan.

Untuk melengkapi penampilan biasanya ditambahkan dengan berbagai aksesoris seperti selendang, sabuk, dan aksesoris lain seperti kalung, dan gelang emas.

8. Langeran

Langeran

Selain Sikep Alit, pakaian yang juga biasa digunakan oleh abdi dalem adalah Langeran. Pakaian ini biasa digunakan untuk upacara pertemuan penting atau saat jamuan makan malam di keraton. Pakaian ini pada umumnya berbahan dasar laken berwarna putih dengan kerah berdiri. Beberapa diantaranya bahkan melengkapinya dengan dasi kupu-kupu.

Langeran sendiri biasanya dipadukan dengan kain Jarik dengan motif khas Jogja dan berbagai aksesoris penunjang seperti dasi kupu-kupu, dan keris. Untuk alas kaki biasanya menggunakan selop berwarna hitam. Sementara untuk bagian kepala biasanya menggunakan penutup kepala Blangkon. 

9. Kencongan

Kencongan

Pakaian adat lainnya yang juga biasa digunakan oleh masyarakat Yogyakarta adalah pakaian adat Kencongan. Pakaian adat ini biasanya digunakan oleh anak laki-laki. Pakaian khusus anak ini pada umumnya terdiri dari baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang kamus songketan dengan cathok atau timang dari emas kadar rendah (suwasa).

Pada bagian kepala biasanya menggunakan Blangkon Jogja Sliwir. Pakaian adat ini biasa digunakan untuk acara seperti perayaan negara, pernikahan, atau acara-acara lain yang bersifat resmi. Jarik yang digunakan untuk bagian bawahan sendiri biasanya Jarik bermotif Parang, Sidomukti, atau motif Cuwiri.

10. Peranakan Atela

Peranakan Atela

Pakaian terakhir yang juga cukup menarik diketahui adalah Peranakan Atela. Pakaian ini biasa digunakan pula oleh abdi dalem. Pakaian ini memiliki makna yang cukup menarik, dimana pakaian ini diharapkan dapat membuat ikatan persaudaraan antara abdi dalem layaknya seperti saudara kandung.

Peranakan Atela sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu pakaian berwarna putih yang digunakan pada untuk acara besar dan pakaian berwarna hitam yang digunakan untuk acara tertentu. Sama seperti Sikep Alit, pakaian ini juga memiliki ciri khas, yaitu 6 kancing di bagian leher dan 5 kancing di bagian ujung lengan. Keduanya melambang rukun iman dan Islam.

Demikianlah 10 Pakaian adat Yogyakarta yang berhasil Keluyuran bahas untuk kamu. Yogyakarta adalah salah satu kota besar yang memiliki kebudayaan unik. Sama seperti daerah lain, pakaian adat yang ada di Yogyakarta juga memiliki nilai filosofis yang cukup menarik untuk diketahui. Nah, kira-kira pakaian mana yang ingin kamu coba? Tulis komentar kamu di bawah, ya!

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram