Tak Hanya Keris, Ini Senjata Tradisional Yogyakarta Lainnya

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 1 April 2021

Daerah istimewa Yogyakarta adalah sebuah daerah yang dikenal masih memegang teguh budaya dan adat istiadat. Selain itu, dalam kesehariannya masyarakat masih berpegang pada pamali, tabu dan pantangan. Hal lain yang menarik dari Yogyakarta adalah senjata tradisionalnya. Senjata ini tidak asal dibuat. Ada ritual dan prosesi khusus lainnya sehingga senjata ini mempunyai konon mempunyai kekuatan luar biasa.

Yogyakarta mempunya banyak senjata tradisional. Salah satu yang paling popular adalah keris. Namun, kamu perlu mengetahui bahwa senjata lainnya pun tak kalah menarik untuk ditelusuri. Nah, dalam artikel ini kami akan memberikan gambaran mengenai senjata tradisional dari daerah Yogyakarta secara keseluruhan.

Pengertian Senjata Tradisional dan Jenisnya

Pengertian Senjata Tradisional dan Jenisnya

Senjata adalah sebuah perkakas yang digunakan untuk membunuh, menghancurkan atau melukai sesuatu atau makhluk hidup. Alat ini digunakan untuk mempertahankan diri atau untuk melindung diri dari ancaman lawan atau musuh yang menyerang.

Sedangkan istilah tradisional berarti tradisi. Sebuah perilaku yang didasarkan pada aturan atau norma tertentu yang dianut suatu kelompok atau masyarakat. Aturan atau norma tersebut tidak tertulis tetapi diwariskan turun temurun pada generasi berikutnya.

Jadi, kesimpulan dari senjata tradisional adalah sebuah produk budaya yang menjadi bagian dari masyarakat yang digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh dan bahaya yang mengancam.

Senjata dapat digunakan untuk berburu atau berladang. Namun, senjata tradisional sudah menjadi bagian dari identitas yang berasal dari kebudayaan suatu bangsa. Oleh sebab itu penting sekali untuk diketahui oleh setiap warga Indonesia.

Senjata tradisional dari Yogyakarta sangat beragam. Dulu, senjata tradisional digunakan untuk melindungi diri dan menyerang lawan. Kini, senjata tersebut dijadikan sebagai pusaka dan pelengkap pakaian adat sehingga jarang digunakan.

Senjata tradisional umumnya terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah:

  • Senjata tikam seperti keris, tombak, patrem dan wedhung.
  • Ada pula senjata untuk membela diri seperti tameng atau perisai.
  • Senjata tradisional ada pula yang digunakan untuk berburu, yaitu tulup dan plintheng.
  • Senjata lempar seperti badhil, plintheng, tulup dan bandring.

Macam-Macam Senjata Tradisional Yogyakarta

Macam-Macam Senjata Tradisional Yogyakarta

Berbicara tentang senjata tradisional Yogyakarta, keris adalah alat yang identik dengan kota yang pernah menjadi ibukota Indonesia ini. Yogyakarta punya keris yang tidak hanya berfungsi sebagai senjata pelindung diri, namun ia punya nilai filosofis luhur.

Dalam pembuatannya, seorang empu tidak asal membentuk besi menjadi keris. Ia menuangkan harapan dan doa kepada sebilah besi yang akan ditempanya menjadi keris itu. Nah, kita kenalan yuk jenis-jenis senjata tradisional dari Yogyakarta dari mulai keris sampai senjata lainnya.

1. Keris

Keris

Keris dan Yogyakarta adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum keris Yogyakarta banyak mengalami perubahan, senjata tradisional ini dulu dijemur dan dijadikan sebagai senjata sakti.

Keris diperkirakan muncul pada tahun 1200-an pada masa kerajaan Majapahit. Sebarannya bermulai dari daerah Jawa Timur sampai ke kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga sampai wilayah di Pulau Jawa lainnya.

Keris dibuat oleh seorang yang disebut empu. Seorang empu pembuat keris biasanya seorang pelayan keratin atau abdi dalem. Setelah Majapahit jatuh, dan Islam berkembang di Mataram Surakarta-Yogyakarta, keris tidak lagi dimonopoli oleh kesultanan.

Pada saat itu pembuatan keris sudah mulai menjadi pekerjaan bagi masyarakat umum. Siapa pun diperbolehkan membuat keris dan mempelajari properti keramatnya.

Pada masa Sultan Agung pembuat keris semakin dihargai dan dikeramatkan. Ini disebabkan karena Sultan Agung mewariskan keris miliknya kepada keturunannya.

Pewarisan ini dianggap sebagai benda peninggalan sakit yang harus dirawat. Jika tidak keris dapat mendatangkan musibah. Akhirnya tradisi mewariskan keris ke generasi berikutnya menjadi hal yang sakral bagi masyarakat jawa khususnya.

2. Patrem

Patrem

Senjata tradisional berikutnya disebut dengan Patrem. Dari bentuknya patrem mirip dengan keris hanya saja ukurannya lebih kecil dan bentuknya lurus. Dalam bahasa Jawa baku, patrem tidak hanya digunakan untuk menyebut alat yang menyerupai keris ini. Namun, ada pula yang menyebutnya Gendhik Naga.

Bahkan sebagian ada pula yang menyebutnya Gendhik Singa dan Kikik. Mengenali Patrem cukup mudah. kamu bisa mengukur panjang ukuran bilah senjata tersebut dengan menggunakan jari.

Jika bilah senjata tersebut panjangnya selebar rentangan ibu jari dan ujung kelingking, maka bisa dipastikan itu adalah patrem. Keris dan patrem sama-sama difungsikan dengan untuk melindungi diri dan menyerang musuh dari jarak dekat.

3. Tombak atau Waos

Tombak atau Waos

Selain keris, tombak atau disebut juga waos merupakan senjata yang cukup dikenal dengan baik di kalangan masyarakat Jawa. Kabarnya, waos sudah dikenal sejak awal kehidupan ini untuk digunakan saat berburu atau saat berperang.

Waos berbentuk panjang dan inilah nilai plus dari senjata ini. Senjata tradisional ini sangat efektif digunakan ketika berperang menggunakan kuda. Waos memberikan jarak tambahan untuk menyerang musuh. Selain itu waos mempunyai bobot yang ringan.

4. Wedhung

Wedhung

Dilihat dari bentuk fisiknya wedhung mirip pisau namun ukurannya lebih besar dari kebanyakan pisau. Wedhung difungsikan sama dengan keris, untuk melindungi diri dan biasanya diselipkan di belakang pinggang. Bedanya wedhung bisa diselipkan di samping badan atau di muka.

Di keraton Yogyakarta, wedhung hanya digunakan sebagai senjata ampilan, yaitu senjata yang dibawa untuk mengiringi sultan pada upacara di kerajaan. Senjata ini dibawa serta oleh abdi dalem atau lurah ke atas.

Para pejabat tinggi keraton zaman dulu menggunakan wedhung sebagai senjata. Wedhung kepunyaan mereka dinamai pasikon, sebuah penanda status sosial mereka.

Wedhung terdiri dari bilah senjata, sarung dan penjepit yang melekat pada sarung yang disebut dengan sangkelitan. Wedhung terbuat dari besi dan baja, sementara sarungnya terbuat dari kayu trembalo atau cendana. Sangkelitan-nya tersebut dari kulit penyu yang diikat dengan kuningan, rotan atau perak.

5. Candrasa

Condroso

Senjata tradisional dari Yogyakarta berikutnya adalah Candrasa. Ini merupakan senjata mata-mata. Disebut demikian sebab senjata ini biasa digunakan oleh para wanita yang menjadi mata-mata dan digunakan pada sanggul mereka.

Bentuknya mirip tusuk konde tapi mempunyai ujung yang sangat tajam. Seorang wanita mata-mata merayu prajurit dengan rayuan dan setelah mereka masuk ke dalam perangkap mereka menusukan tusuk konde ke leher prajurit tersebut.

6. Plintheng

Plintheng

Kalau di Jawa Barat ini adalah senjata tradisional ini disebut ketapel. Dulu, plintheng sering digunakan untuk melontarkan batu sebesar kelereng yang dibuat sebagai peluru ketapel. Senjata tradisional ini dilemparkan dari semak-semak tempat anak-anak bersembunyi.

Plintheng mempunyai gagang yang berbentuk huruf Y yang diikat dengan tali yang terbuat dari karet atau kulit. selain untuk mainan ketapel sekarang masih digunakan sebagai alat berburu untuk mendapat buah-buahan di pohon atau berburu burung.

7. Tulup

Tulup

Tulup adalah senjata yang juga digunakan untuk permainan anak di masa lalu. Senjata tradisional ini dikenal juga dengan nama sumpit di daerah lain. Senjata tradisional ini dioperasikan dengan cara ditiup kencang sehingga peluru di dalamnya terlontar ke luar.

Peluru yang digunakan dalam tulup terbuat dari butiran tanah atau benda keras lainnya yang muat ke dalam tulup.Tulup itu sendiri terbuat dari bahan bambu kecil.

Meskipun tidak begitu banyak dalam peperangan, tapi dalam cerita Babad Tanah Jawa, Joko Tarub diceritakan selalu membawa tulup untuk berburu burung di hutan.

8. Canggah      

Canggah

Canggah adalah salah satu senjata tradisional yang berbentuk seperti tombsk tapi mempunyai dua mata tombak (dwisula). Cara kerja senjata tradisional ini hampir sama dengan tombak. Namun, mata tombak diarahkan ke leher lawan untuk menjepit leher lawan dan membuatnya tak berdaya.

Canggah terbuat dari besi dan tongkat kayu. Ukurannya kurang lebih dua meter. Canggah mempunyai besi yang berbentuk lingkaran di puncaknya.  

9. Bandhil 

Bandhil

Senjata tradisional lain yang dimiliki oleh masyarakat Yogyakarta adalah Bandhil. Bandhil merupakan senjata tradisional yang disebut juga sebagai alat pelontar batu. Bandhil punya beberapa jenis, yaitu:

  • Bandhil brubuh: bandhil yang digunakan dalam pertempuran jarak dekat. Bentuknya seperti rantai besi dan peluru lontarnya terbuat dari besi pula.
  • Bandhil jauh: bentuknya mirip dengan bandhil brubuh tapi talinya terbuat dari anyaman dengan serat ulet. Pelurunya terbuat dari besi.
  • Bandhil lepas: bentuknya hampir sama dengan bandhil jauh dan bandhil brubuh tetapi talinya terbuat dari tampar dan pelurunya terbuat dari batu. Bandhil ini cocok digunakan baik untuk pertempuran jarak dekat dan jauh.

Pada zaman dahulu bandhil adalah senjata wajib rakyat yang digunakan untuk melawan para penjajah Belanda. Dan, perannya sangat terasa saat perang Diponegoro pecah. Senjata ini membantu para prajurit Indonesia melawan musuh yang bersenjatakan senjata modern.

10. Tameng

Tameng

Selain senjata tajam, Yogyakarta punya perisai atau tameng yang berguna untuk melindungi diri dan bertahan dari serangan musuh. Tameng khas Yogyakarta berbentuk bulat dan bulat telur. Ia digunakan sebagai alat perlindungan diri saat berperang dan saat ronda malam di zaman dulu.

Tamen terbuat dari besi yang dilebur kemudian ditempa. Pada bagian belakangnya diberi pegangan agar dapat diposisikan untuk melindungi tubuh. Agar terlihat lebih indah, bagian depannya dihiasi lukisan pola geometris.

Nah demikian informasi mengenai senjata tradisional Yogyakarta. Menarik bukan? Senjata-senjata ini memang sudah mengalami berubahan dan perkembangan. Kendatipun sudah mengalami evolusi, namun senjata tersebut masih meninggalkan ciri khasnya.

Tentu hal ini sangat menarik untuk dipelajari karena senjata-senjata tersebut sudah menjadi bagian dari kebudayaan Yogyakarta yang harus dijaga dan dilestarikan.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram