keluyuran web banner

Mengenal Rumah Adat Banten & Ragam Budayanya yang Unik

Ditulis oleh Jihan Fauziah - Diperbaharui 24 Maret 2021

Serupa dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, Provinsi Banten juga memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang masih lestari hingga sekarang.

Pada pembahasan kali ini, Keluyuran akan ngajakin kamu buat nyari tahu lebih dalam tentang Banten, mulai dari sejarah, bahasa, budaya hingga rumah adat Banten yang unik. Yuk, simak langsung saja pembahasan berikut untuk mengetahui informasi selengkapnya.

Tentang Banten

rumah adat banten 1

Seperti yang kita tahu, dulunya provinsi Banten adalah bagian dari provinsi Jawa Barat. Namun, di tahun 2000, Banten memutuskan untuk berdiri sendiri sebagai provinsi, dengan Serang sebagai ibukotanya. Banten sendiri memiliki luas wilayah mencapai 9000 kilometer.

Sejak dulu, Banten terkenal dengan kota-kota pelabuhannya. Banten yang dulu dikenal dengan nama Bantam, adalah bagian dari salah satu kerajaan terbesar yang ada di Indonesia, yakni Kerajaan Tarumanegara.

Di abad ke-16, barulah Banten masuk dalam wilayah Kesultanan Banten yang didirikan oleh Maulana Hasanuddin. Beliau merupakan salah satu keturunan Sunan Gunung Djati. Di awal abad ke-17, Banten mulai dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional di Asia, lho.

Di saat yang bersamaan, datanglah orang-orang Eropa yang mulai bersaing satu sama lain untuk melakukan praktik perdagangan di Banten. Akhirnya, Belanda memenangkan 'pertarungan' tersebut dan berhasil menguasai Banten.

Sampai sekarang provinsi Banten masih tersohor dengan jalur lautnya yang strategis. Salah satunya adalah Selat Sunda yang bahkan menjadi penghubung antara dua negara, yakni Selandia Baru dan Australia, dengan wilayah negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia.

Keanekaragaman Budaya dan Bahasa di Banten

rumah adat banten

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, masyarakat Banten memiliki keanekaragaman budaya dan bahasa yang tidak kalah unik dari daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Dalam kesehariannya, masyarakat Banten menggunakan Bahasa Sunda dengan dialek kuno yang terdengar kasar dalam Bahasa Sunda modern yang banyak digunakan saat ini. Tetapi, tak semua masyarakat Banten masih menggunakan Bahasa Sunda berdialek kuno. Ada pula yang mencampurnya dengan Bahasa Sunda modern maupun Bahasa Indonesia.

Dalam hal kepercayaan, mayoritas masyarakat di Banten memeluk agama Islam. Bahkan, warga suku Baduy Luar pun sudah ada yang memeluk agama Islam. Sementara suku Baduy Dalam umumnya masih memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan. Sebagian penduduk lain dari masyarakat Banten menganut agama Kristen, Buddha dan juga Hindu.

Dan serupa dengan daerah-daerah lain di Nusantara, Banten juga punya beberapa tarian tradisional. Sebut saja seperti Tari Cokek, Tari Bendrong Lesung, Tari Walijamaliha, Tari Bentang Banten dan masih banyak lagi.

Suku Baduy

Kampung Baduy
*

Selain masyarakat Sunda Banten, provinsi Banten juga menjadi rumah bagi penduduk asli dari Suku Baduy. Suku Baduy yang juga dikenal dengan Suku Badui, Orang Kanekes atau Urang Kanekes adalah kelompok penduduk yang masih memegang erat adat istiadat dan tradisi.

Suku Baduy umumnya mengisolasi diri dari dunia luar dan tak sembarangan orang dapat mendokumentasikan kegiatan yang mereka lakukan. Bahkan, mereka tak bisa membaca dan menulis karena tak ada sekolah di wilayah tempat tinggalnya.

Hingga kini, jumlah penduduk Banten dari Suku Baduy diperkirakan mencapai lebih dari dua puluh ribu jiwa. Wilayah yang jadi tempat tinggal Suku Baduy terdapat di kaki Pegunungan Kendeng yang ada di Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok Baduy Dalam dan juga Baduy Luar. Warga Baduy Dalam adalah mereka yang masih memegang teguh adat istiadatnya. Mereka masih mempraktikkan beberapa peraturan seperti tidak memakai alas kaki, tidak menggunakan teknologi, serta tidak memakai pakaian dan juga alat transportasi modern.

Sementara orang-orang Baduy Luar adalah mereka yang dianggap melanggar peraturan Baduy Dalam. Orang-orang Baduy Luar ini umumnya sudah mengenal teknologi, menggunakan pakaian modern dan menikah dengan warga Baduy Luar lainnya.

Sulah Nyanda, Rumah Adat Banten yang Unik

rumah adat banten 4

Setelah tadi membahas tentang Banten, Suku Baduy dan juga keanekaragaman budaya serta bahasanya, kini saatnya bagi kami untuk berbagi informasi tentang rumah adat Banten, tepatnya rumah adat dari masyarakat Suku Baduy. Nah, nama dari rumah Adat Banten ini adalah Sulah Nyanda.

Nama Sulah Nyanda sendiri diambil dari kosakata Bahasa Sunda. Sulah artinya adalah daun nipah yang telah dikeringkan. Sedangkan nyanda berarti bersandar. Nama lain dari rumah adat Sulah Nyanda adalah Imah. Dalam Bahasa Indonesia, imah berarti rumah.

Rumah adat Banten ini memiliki bentuk persegi panjang dengan atap dari sulah atau nipah yang sudah dikeringkan. Umumnya rumah adat Sulah Nyanda memiliki hiasan di atas atapnya. Bentuk dari hiasannya ini biasanya menyerupai tanduk hewan.

Bentuk keseluruhan rumah adat ini sendiri merupakan rumah panggung yang menghadap ke arah selatan. Konstruksi bangunannya terdiri dari pondasi, tiang, dinding, lantai serta atap. Biasanya, warga menggunakan bahan baku bangunan yang ditemukan di sekeliling tempat tinggal mereka untuk membangun Sulah Nyanda.

Pondasi rumah adat Sulah Nyanda biasanya menggunakan bahan baku berupa bebatuan utuh. Sementara tiangnya menggunakan balok kayu. Untuk lantai rumahnya, masyarakat Baduy memanfaatkan bahan baku berupa bambu. Sedangkan dinding rumahnya terbuat dari bambu yang telah dianyam.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, atap rumah adat Banten Sulah Nyanda terbuat dari anyaman daun nipah. Atapnya ini disangga dengan rangka penutup berbahan bambu.

Rumah Sulah Nyanda memiliki beberapa ruangan yang berbeda-beda. Di antaranya ada sosoro, tepas dan ipah. Sosoro sendiri bisa dibilang merupakan bagian ruang tamu dari rumah adat Banten ini. Selain ruang tamu, sosoro juga biasanya juga bisa dijadikan sebagai ruang dapur untuk memasak, kamar tidur untuk anak perempuan dan juga ruang keluarga. Biasanya posisi sosoro ini berada di bagian selatan bangunan.

Nah, kalau tepas adalah ruangan yang berada di samping bangunan. Tepas ini umumnya digunakan untuk melaksanakan beragam kegiatan bersama anggota keluarga. Serupa dengan sosoro, tepas pun dapat difungsikan sebagai ruang masak dan ruang tamu.

Satu ruangan lainnya adalah ipah. Lokasi ruangan ini biasanya terletak di bagian belakang rumah Sulah Nyanda. Ipah umumnya dipakai sebagai ruang penyimpanan untuk ragam jenis persediaan makanan. Nggak jarang, ruangan satu ini juga difungsikan sebagai dapur untuk memasak aneka ragam hidangan.

Sampai di sini pembahasan kami tentang Banten beserta keanekaragaman budaya dan bahasa, juga informasi mengenai rumah adat Banten yang unik, yaitu Sulah Nyanda. Oh iya, kalau kamu memiliki informasi tambahan tentang Banten dan juga rumah adat atau pun budayanya, silakan sampaikan melalui kolom komentar di bawah.

Selain punya rumah adat, bahasa dan juga budaya yang unik, provinsi Banten juga memiliki beberapa tempat wisata yang jadi daya tarik bagi wisatawan buat berkunjung ke sana. Penasaran, ada tempat wisata apa saja di provinsi Banten? Simak daftar lengkapnya di artikel Tempat Wisata Seru di Banten ini.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram