10 Tarian Adat Bali yang Masih Lestari Hingga Sekarang

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 9 Mei 2021

Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih kental dengan budayanya. Selain terkenal memiliki beragam pesona alam yang indah, Bali juga memiliki beragam warisan budaya yang menarik. Salah satu warisan budaya yang menjadi karakter Bali yaitu tarian tradisional.

Tari adat Bali adalah salah satu warisan budaya yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang. Meskipun tarian modern sudah mulai mendominasi, tari adat Bali masih memiliki tempatnya tersendiri. Beberapa jenis tari tradisional Bali sudah banyak dikenal oleh penduduk lokal maupun mancanegara. Berikut ini adalah 10 jenis tari adat Bali yang masih ada hingga sekarang.

1. Tari Kecak

Tari Kecak

Tarian adat Bali ini sangat terkenal. Tari Kecak memadukan seni tari dengan kisah drama, khususnya cerita Ramayana. Penari utama tarian ini hampir semua adalah laki-laki, kecuali penari yang memerankan Dewi Sinta dan beberapa penari pengiring perempuannya.

Bekerja sama dengan pelukis Jerman bernama Walter Spies, Wayan Limbak pada tahun 1930 menciptakan tari kecak. Pertunjukan tarian ini dimainkan oleh para penari laki-laki yang jumlahnya banyak. Mereka duduk melingkar dan mengangkat kedua lengannya sambil menyerukan kata “cak”.

Selain itu, ada juga penari utama lainnya yang memainkan tokoh dalam lakon Ramayana seperti Rama, Shinta, Hanoman, Rahwana, dan Sugriwa. Penggalan cerita di dalam tari adat Bali ini berkisah tentang Ramayana ketika barisan Hanoman dan para kera membantu Rama melawan Rahwana.

Para penari yang duduk melingkar menari mengenakan kain poleng, yaitu motif kotak-kotak putih hitam yang mirip dengan papan catur, melingkari di pinggang mereka.

2. Tari Pendet

Tari Pendet

Tarian ini pun cukup terkenal karena sering ditampilkan tak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Tari Pendet awalnya adalah tarian yang ditampilkan di pura-pura Bali untuk acara ritual pemujaan.

Menurut keterangan beberapa ahli, tarian ini merupakan jenis tari adat untuk menyambut turunnya dewa ke bumi. Baru di saat sekarang tari pendet dijadikan sebagai tarian selamat datang saat menyambut tamu yang berkunjung ke pulau Bali.

Tari pendet adalah jenis tarian adat Bali yang dikenal oleh para pecinta seni tari. Selain itu, tari pendet juga jadi salah satu pondasi kesenian di Bali karena penuh dengan unsur seni. Tari pendet juga jadi mudah diterima ketika diubah jadi versi yang lebih kekinian.

Adalah I Wayan Rindi tokoh dibalik munculnya perubahan lintas generasi pada tari pendet. I Wayan Rindi merupakan salah satu seniman Bali yang mengabdikan hidupnya dengan mengamati tarian khas pulau dewata ini.

Pada tahun 1950 an I Wayan Rindi sukses melakukan perubahan pada tari pendet tradisional menjadi modern. Walaupun tarian ini diubah jadi modern, nuansa kental khas Bali tak hilang dari tari pendet.

3. Tari Barong

Tari Barong

Tari adat Bali yang ketiga adalah tari barong. Tarian ini dimainkan oleh para penari yang mengenakan kostum barong dengan wajah yang seram berhiaskan ornamen khas Bali. Diduga istilah barong pada tarian ini asalnya dari kata “bahruang” yang artinya beruang.

Walaupun berasal dari kata beruang, banyak juga model topeng lain, seperti baron blablasan, barong asu, barong macan, barong gajah, dan lain-lain. Beberapa masyarakat juga terkadang menggunakan topeng barong menjadi hiasan rumah.

Tarian barong dibawakan oleh dua orang penari laki-laki. Penari yang memakai topeng posisinya berada di depan, sementara penari yang berada di belakang mempunyai tugas untuk menggerakan tubuh serta ekor barong.

Filosofi, nilai, serta makna yang diangkat dalam tari barong yaitu peperangan antara sifat baik dengan sifat buruk. Barong mewakili sifat baik, sementara rangda mewakili sifat jahat. Tarian ini sakral sekali dan hanya dibawakan pada upacara ritual tertentu.

4. Tari Legong

Tari legong

Tarian ini pada era kerajaan Bali hanya ditampilkan di lingkungan keraton. Legong sendiri berasal dari kata “Leg” yang artinya luwes dan “gong” yang diterjemahkan sebagai gamelan.  Karena itulah, tarian ini gerakannya lemah gemulai.

Tari legong diiringi oleh gamelan tradisional khas Bali yang disebut Semar Pegulingan. Para penari legong menari sambil memainkan kipas. Seiring dengan berjalannya waktu di Bali berkembang beberapa jenis tari legong

Jenis tarian legong tersebut di antaranya legong keraton atau disebut juga legong lasem, legong jobog, legong legod bawa, legong sudarsana, legong smaradahana, dan legong kuntul.

5. Tari Panji Semirang

Tari Panji Semirang

Tarian adat Bali ini diakui sebagai sebuah tari pertunjukan yang dibawakan diluar pura. Tari Panji Semirang menceritakan kisah seorang putri yang bernama Galuh Candrakirana. Dia sedang mengembara sambil menyamar menjadi laki–laki bernama Raden Panji.

Pengembaraan selanjutnya dilakukan sang putri setelah dia kehilangan suaminya. Biasanya tarian ini dibawakan oleh penari perempuan yang berperan menjadi laki–laki. Tari Panji Semirang diciptakan tahun 1942 oleh I Nyoman Kaler.

Awalnya tari panji semirang dibawakan oleh Luh Cawan yang merupakan murid dari I Nyoman Kaler. Tari ini memiliki ciri khas, salah satunya adalah gerakan yang ada hampir sama dengan tari putra.

6. Tari Baris

Tari Baris

Tari adat Bali yang satu ini pada zaman dulu merupakan jenis tarian ritual, tapi sekarang ini fungsi dari tari tersebut sudah berkembang jadi tarian hiburan untuk masyarakat. Tarian yang bernama tari baris ini dilakukan oleh para penari yang jumlahnya cukup banyak menyesuaikan esensi dari tarian tersebut.

Jenis tarian ini  bisa dibawakan oleh 8 sampai 40 orang penari laki-laki. Sementara itu, kisah di balik tari baris menceritakan mengenai ketangguhan dari para kesatria Bali pada masanya. Karena itu tarian ini memperlihatkan para penari yang menggerakkan badan mereka seperti kesatria tangguh.

7. Tari Puspanjali

Tari Puspanjali

Tari Puspanjali adalah tarian adat Bali yang digunakan sebagai tari penyambutan. Pupanjali asalnya dari gabungan kata puspa dan anjali. Bila disatukan kedua kata ini memiliki arti “menghormati bagai bunga”. Jadi itulah makna tarian ini, yaitu menghormati tamu seperti sekuntum bunga.

Umumnya tarian ini dipentaskan oleh sekelompok perempuan yang berjumlah 5-7 orang. Tarian ini terinspirasi dari tarian yang dibawakan pada upacara adat Rejang. Rejang memiliki filosofi yang menggambarkan perempuan bahagia dikarenakan kehadiran para tamu.

Menurut catatan sejarah, tari ini diciptakan tahun 1989. Seorang penata tarian Bali yang bernama N.L.N. Swasthi Wijaya serta I Nyoman Windha adalah orang-orang yang memperkenalkan tarian ini. I Nyoman Windha sendiri adalah seorang penata tabuh pengiring dalam gamelan Bali.

8. Tari Topeng Bali

Tari Topeng Bali

Tari topeng merupakan salah satu tari adat Bali yang sakral untuk masyarakat pulau dewata. Berbicara tenang tari topeng, beberapa daerah di tanah air juga memiliki tari topeng, seperti topeng Cirebon dari Jawa Barat, topeng reog, topeng malang, topeng ireng dan lain-lain.

Di masyarakat hindu Bli topeng berhubungan erat dengan ritual keagamaan. Tari topeng Bali merupakan sebuah tradisi memiliki nuansa ritual magis yang sangat kental.

Pada umumnya, tarian yang dipentaskan di tengah masyarakat merupakan seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merupakan representasi dari para dewa dipercaya bisa menganugerahkan ketentraman juga keselamatan.

9. Tari Janger

Tari Janger

Tari janger hadir pada era tahun 1930an. Yang menjadi latar belakang dari tari adat Bali ini adalah nyanyian bersahut-sahutan dari mereka yang sedang memetik kopi. Nyanyian sahut-sahutan ini tujuannya untuk menghilangkan rasa lelah ketika kegiatan memanen biji kopi.

Dari nyanyian inilah kemudian berkembang menjadi inspirasi untuk terciptanya Tari janger. Tari ini dibawakan secara berpasangan oleh penari yang berjumlah 10 sampai 16 orang. Para penari tersebut kemudian dibagi ke dalam kelompok putri yang disebut janger dan putra yang disebut kecak.

Mereka membawakan tarian ini sambil menyanyikan lagu Janger dengan bersahut-sahutan. Lirik lagunya diadopsi dari nyanyian Sanghyang, yaitu sebuah tarian ritual kuno.

10. Tari Trunajaya

 Tari Trunajaya

Trunajaya merupakan tari adat Bali yang menceritakan tentang seorang lelaki yang jatuh cinta. Dia ingin memikat hati wanita pujaannya. Tarian ini pada awalnya hanya dibawakan oleh penari pria saja, tapi kemudian berkembang menjadi tarian yang juga dibawakan oleh perempuan.

Tari trunajaya merupakan tarian heroik. Truna sendiri berarti pemuda, sementara jaya artinya puncak. Tarian ini diciptakan oleh Pan Wandres pada tahun 1915 dalam bentuk kebyar legong yang selanjutnya disempurnakan oleh I Gede Manik.

Keunikan dari tari trunajaya ada pada gerakan penari. Sambil memasang kuda-kuda, mereka membelalakkan mata. Gerakan ini merupakan simbol dari kejantanan penari saat akan menyatakan cintanya.

Nah, itulah 10 tarian adat Bali yang sekarang masih dipentaskan di daerah asalnya. Beberapa tarian ini sudah terkenal hingga ke mancanegara dan bahkan dipelajari oleh orang asing. Tarian ini ada yang merupakan tarian ritual, ada juga yang berupa tarian selamat datang. Beberapa bahkan sudah mengalami perubahan menyesuaikan dengan zaman tapi tetap mempertahankan ciri khasnya.

Tarian adat merupakan aset budaya yang perlu dilestarikan. Salah satu cara untuk melestarikannya yaitu dengan mementaskannya agar tetap dikenal oleh masyarakat. Apakah kamu pernah menonton pertunjukkan tarian adat?

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram