Mengenal Filosofi Rumah Adat Bali Beserta Bagian-Bagiannya

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 19 April 2021

Tiap daerah di Indonesia mempunyai rumah khasnya sendiri. Misalnya ada rumah joglo di daerah Jawa Tengah, rumoh Aceh di daerah Aceh,  rumah adat kebaya di DKI Jakarta, rumah honai di Papua, rumah panjang dari Kalimantan Barat, rumah baileo dari Maluku, dan lain-lain. Bagaimana dengan Pulau Dewata Bali? Rumah adat Bali dikenal dengan nama gapura.

Dalam rumah adat pastinya terdapat unsur tradisional serta unsur filosofis. Begitu juga dengan rumah adat Bali. Rumah tradisional penduduk Bali ini pun mempunyai filosofi khusus. Berikut ini penjelasan mengenai filosofi rumah adat Bali.

Filosofi Rumah Adat Bali

Rumah adat Bali memiliki ciri khas yaitu gapura candi bentar. Gapura ini sudah menjadi ikon dan sangat memukau. Di rumah-rumah Bali terdapat dua gapura yang adalah bangunan candi sejajar. Gapura ini adalah jalan masuk menuju area halaman rumah.

Sesudah masuk melalui gapura ini, di bagian depan biasanya ada pura yang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Gapura tersebut juga mempunyai anak tangga dan pagar besi yang terhubung satu sama lain. Posisi pura umumnya terpisah dari bangunan yang lain. 

Tiap rumah adat Bali di bagian depannya mempunyai Gapura Candi Bentar. Berdasarkan filosofi penduduk Bali, kedinamisan hidup akan bisa tercapai jika terdapat hubungan yang harmonis di antara aspek palemahan, yaitu hubungan baik, dengan pawongan, yaitu penghuni rumah, dan parahyangan

Karenanya rumah adat Bali dalam pembangunannya harus meliputi aspek yang dikenal dengan filosofi “Tri Hita Karana”. Arsitektur tradisional umumnya penuh dengan hiasan contohnya, ukiran, peralatan, serta pemberian warna. 

Ragam hias yang terdapat pada rumah tradisional Bali juga memiliki arti tertentu yang bertujuan untuk mengungkapkan keindahan simbol juga penyampaian komunikasi. Ragam hias tersebut dapat berupa bermacam-macam fauna yang muncul dalam perwujudan patung sebagai simbol di dalam ritual.

Di sekitar rumah-rumah di Bali juga terdapat sesajen yang diletakkan di atas wadah dari janur berisi kembang serta dupa yang menyala. Selain itu, pura juga adalah bangunan yang banyak ditemukan bahkan di pertokoan dan perkantoran.

Rumah adat di Bali dibangun menurut aturan Asta Kosala Kosali yang mungkin diibaratkan seperti Feng shui di dalam budaya Cina. Ketika membangun rumah, orang Bali akan memperhatikan ke arah mana bangunan tersebut menghadap.

Hal yang dipercaya sebagai sesuatu yang suci atau  keramat akan dibuat menghadap ke arah gunung. Hal itu karena gunung dipercaya sebagai benda keramat. Arah ini dinamakan juga dengan istilah kaja. Sementara untuk hal yang dipercaya tidak suci akan dibuat menghadap ke arah laut atau disebut kelod.

Oleh karena itu, pura desa yang dipercaya sebagai hal yang suci akan dibuat menghadap ke kaja, sementara pura dalem atau kuil yang berkaitan dengan kematian akan dibuat menghadap ke kelod.

Bagian Rumah Adat Bali

Rumah adat Bali mempunyai bagian-bagian khusus yang membuat rumah ini menjadi semakin unik dan berbeda dari kebanyakan rumah adat lain. Dari mulai penampakan luar sampai bagian belakang rumah ada bagiannya tersendiri. 

Bagian-bagian rumah adat Bali berada secara terpisah-pisah. Tiap-tiap bagian rumah mempunyai fungsi serta makna filosofisnya sendiri. Berikut ini adalah penjelasan yang terkait bagian-bagian rumah adat Bali di antaranya:

1. Angkul-Angkul

Angkul-AngkulSumber: pariwisataindonesia.id

Angkul-angkul merupakan bagian dari rumah adat Bali yang terletak paling depan yang umumnya dilengkapi dengan gapura dengan atap bergaya tradisional serta bagunan yang mirip dengan candi di bagian kanan dan kirinya.

Selain itu, atap dari angkul-angkul dipenuhi dengan ukiran artistik yang menghubungkan kedua sisi gapura hingga nampak unik. Dahulu atap ini berupa rumput kering, tapi di zaman sekarang orang sudah banyak memakai genteng untuk atapnya. 

2. Aling-Aling

Aling-Aling

Sesudah melewati angkul-angkul, bangunan selanjutnya adalah aling-aling yang berupa pembatas antara gapura dengan pekarangan. Aling-aling terlihat ini seperti balai-balai atau pos ronda.

Aling-aling selain sebagai pembatas, juga umumnya digunakan oleh pemilik rumah sebagai tempat untuk melakukan beragam aktivitas, seperti menerima tamu, mempersiapkan upacara adat, melukis, mengukir patung, atau untuk beristirahat saja.

Bagian dari rumah adat Bali ini juga umum disebut sebagai tempat suci. Keberadaan aling-aling di depan rumah dipercaya dapat memberikan energi positif untuk rumah. 

Dahulu, biasanya aling-aling diberikan hiasan berupa sulaman atau ulat-ulatan yang dibuat dari daun kelapa yang dijalin. Fungsi dari hiasan itu untuk mengusir energi negatif.

3. Pamerajan

PamerajanSumber: youtube.com

Pamerajan yang disebut juga dengan istilah pura keluarga memperlihatkan keunikan rumah adat Bali. Sebagian besar masyarakat Bali adalah pemeluk agama Hindu maka menjadi hal yang biasa jika mereka memiliki pamerajan di dalam rumah.

Umumnya pamerajan ini akan dibangun di bagian sudut rumah serta di sebelah timur laut. Pamerajan adalah bangunan suci juga sakral. Sering kali di bangunan tersebut penghuni rumah melakukan upacara sembahyang juga doa harian.

Pamerajan mempunyai beberapa bangunan yang memiliki fungsi yang beragam bergantung dari pemiliknya. Namun, bangunan yang harus selalu ada di pamerajan yaitu penglurah, kemulan, taksu, padmasaro, peliangan serta piyasan.

Selain pamerajan, terdapat beberapa bangunan suci yang lain, contohnya  pelinggih penugun karang yang terletak di dekat pamerajan. Pelinggih penugun ini biasanya terletak di bagian paling barat ataupun pokol barat daya.

Pelinggih penugun memiliki fungsi untuk pemujaan pada dewa penghuni tempat tinggal ataupun tanah yang telah ditempati tersebut.

4. Bale Daja atau Balai Meten

Bale Daja atau Balai Meten

Bale daja adalah bangunan yang berguna untuk menjadi tempat beristirahat atau tidur untuk kepala keluarga dan anak gadis. Bangunan yang berbentuk persegi panjang ini terdiri dari dua buah bale yang posisinya berada di kiri dan kanan ruangan. 

Untuk membuat bale daja digunakan tiang kayu yang jumlahnya 8 (sakutus) serta 12 (saka roras). Pondasi bale daja dibangun lebih tinggi dibandingkan pekarangan serta bangunan lainnya yang berada di dalam area rumah. Selain untuk menghindari resapan air, fungsinya juga sebagai estetika.

5. Bale Dauh atau Bale Tiang Sanga

Bale Dauh atau Bale Tiang Sanga

Bale dauh atau sering juga disebut sebagai bale loji adalah bangunan yang fungsinya sebagai tempat menerima tamu juga sebagai tempat tidur untuk anak remaja. Bale dauh bentuknya persegi panjang dan terletak di bagian dalam yang memiliki satu buah bale.

Bangunan ini pondasinya dibangun lebih rendah dibandingkan bale daja dan bale dangin. Bale dauh ini dibangun memakai tiang kayu yang mempunyai sebutan berbeda bergantung jumlah tiang yang digunakan. 

Bale dengan jumlah tiang 6 disebut dengan sekanem, sementara itu bale yang memiliki 8 tiang disebut sekutus atau astasari, dan bila jumlah tiangnya 9, maka disebut sangasari.

6. Bale Gede

Bale GedeSumber: erwakilan.baliprov.go.id

Seperti halnya bale manten juga bale dauh, bale gede bentuknya persegi dan memiliki tiang yang berjumlah 12. Fungsi ruangan ini untuk melaksanakan upacara adat. Karena itulah, posisinya harus lebih tinggi dibandingkan bale manten.

Rumah adat ini mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan bangunan lainnya. Bale gede tak hanya digunakan untuk ritual adat, tapi juga kerap kali dijadikan sebagai tempat untuk berkumpul dan menghidangkan makanan khas Bali sambil membakar aneka sesaji.

7. Jineng atau Klumpu

Jineng atau Klumpu

Bangunan yang satu ini mempunyai ukuran sedang. Sementara itu seluruh bahan untuk membuat bangunan ini terdiri dari kayu. Ciri khas jineng yaitu posisinya yang didesain lebih tinggi juga dirancang seperti goa yang memiliki atap terbuat dari jerami kering.

Akan tetapi saat ini jineng sudah sangat jarang dibuat menggunakan bahan tradisional tersebut. Sekarang,  sering kali dibuat menggunakan material berupa batu bata, pasir, semen, dan sebagainya. Untuk atapnya juga lebih banyak menggunakan genteng.

Bangunan yang satu ini oleh masyarakat Bali difungsikan sebagai tempat penyimpanan gabah yang telah dijemur. Tujuannya yaitu untuk menghindarkan gabah dari terkena serangan burung.

Selain itu, gabah disimpan di jineng agar terhindar dari jamur. Bagian bawah Jineng difungsikan sebagai tempat penyimpanan gabah yang belum dijemur.

8. Pawaregen atau Paon

Pawaregen atau PaonSumber: mamanbali.wordpress.com

Pawaregen adalah istilah yang digunakan untuk menyebut dapur dalam rumah adat Bali. Bangunan ini memiliki ukuran yang sedang. Posisi pawaregan terletak di sebelah selatan atau barat laut rumah utama.

Bangunan ini mempunyai dua area yaitu area untuk memasak dan area untuk penyimpanan alat-alat dapur. Untuk memasak masih digunakan kayu bakar.

Itulah penjelasan mengenai rumah adat Bali yang ternyata mempunyai filosofi dan aturan khusus untuk membuatnya. Karena mayoritas penduduknya beragama Hindu, maka tak heran jika di rumah adat Bali akan ditemukan Pura. Letak tiap bangunan pun tidak sembarangan, harus mengikuti aturan yang dipegang oleh masyarakat bali.

Rumah adat ini tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tapi juga aset budaya yang harus dilestarikan. Keberadaan rumah adat menjadi bukti dari kekayaan budaya Indonesia. Apakah rumah adat Bali memberikan inspirasi untuk hunian masa depanmu.

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram