keluyuran web banner

10 Upacara Adat Aceh yang Masih Ada Hingga Sekarang

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 1 April 2021

Aceh adalah provinsi paling barat di Indonesia. Provinsi ini dihuni oleh beberapa etnis yang secara umum tentu mempengaruhi kekayaan kebudayaan Aceh. Kebudayaan Provinsi Aceh banyak diwarnai oleh nuansa Islam, agama yang banyak dianut oleh penduduknya. Warna budaya, tradisi serta upacara-upacara adat Aceh tentunya menambah keunikannya tersendiri.

Dari banyaknya ragam kesenian serta budaya, upacara adat Aceh lengkap dengan ritual serta tradisinya adalah satu aspek yang begitu mengakar di dalam kehidupan masyarakat Aceh. Inilah 10 upacara adat Aceh yang tentunya menarik untuk diulas. 

1. Upacara Peusijuek

Upacara Peusijuek

Peusijuek adalah salah satu upacara adat Aceh yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Aceh. Tradisi ada yang satu ini terlihat hampir sama dengan tradisi tepung mawar yang berasal dari kebudayaan Melayu.

Upacara adat peusijuek umumnya dilaksanakan di hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan penduduk Aceh. Di kalangan penduduk pedesaan, upacara adat ini adalah upacara yang sangat umum dilaksanakan untuk hal-hal kecil sekalipun, contohnya saat membeli kendaraan baru.

Namun untuk masyarakat perkotaan yang memiliki gaya hidup yang lebih modern, upacara adat ini hanya dilaksanakan dalam kegiatan-kegiatan adat saja, contohnya pada prosesi adat perkawinan.

Prosesi peusijuek dalam pelaksanaannya dipimpin oleh seorang tokoh agama ataupun tokoh adat yang dituakan di dalam masyarakat. Untuk kaum laki-laki, upacara ini biasa dipimpin oleh seorang Teuku, sedangkan untuk kaum perempuan dipimpin oleh Ummi sebuatan untuk wanita yang dituakan.

Prosesi adat ini berisi doa keselamatan juga kesejahteraan bersama yang sesuai dengan ajaran agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat Aceh. Oleh karena itu pemimpin peusijuek diutamakan dari kalangan yang memahami serta menguasai hukum agama.

Masyarakat Aceh mengadakan peusijuek sebagai ungkapan rasa syukur mereka untuk keselamatan serta kesuksesan dalam meraih sesuatu, bisa yang berhubungan dengan benda ataupun manusia. Semua permohonan serta rasa syukur ditujukan pada Allah untuk nikmat yang sudah diberikanNya.

2. Upacara Tulak Bala (Tolak Bala)

Upacara Tulak Bala

Dalam hidup pastinya selalu ada bala yang tentunya sebisa mungkin dihindari. Tiap manusia memiliki cara yang berbeda ketika mencoba menghalau bala yang mungkin datang. Masyarakat Aceh memiliki cara unik untuk melakukan hal ini, yaitu dengan mengadakan upacara yang disebut tulak bala.

Upacara adat Aceh ini dilaksanakan berdasarkan pandangan bahwa bulan Shafar merupakan bulan panas juga banyak naasnya yang umumnya membawa bahaya. Upacara ini sering dilakukan oleh penduduk Aceh bagian Barat-Selatan terutama masyarakat Aceh Barat Daya tiap satu tahun sekali.

3. Upacara Troen U Laoet

Upacara Troen U Laoet

Troen u laoet adalah upacara adat Aceh yang mirip dengan hajat kenduri yang dilaksanakan saat musim melaut tiba. Tujuan pelaksanaan upacara adat ini yakni  sebagai ungkapan rasa syukur dan berharap supaya hasil tangkapan ikan mereka melimpah.

Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Acaranya dilaksanakan dengan mengundang tetangga terdekat mereka untuk hadir. Namun tak jarang juga tradisi ini diselenggarakan bersama dengan para nelayan lain.

4. Upacara Meugang

Upacara Meugang

Meugang atau disebut juga dengan makmeugang merupakan tradisi menyembelih hewan kurban berupa sapi atau kambing yang dilakukan tiga kali setiap tahunnya, yakni pada Ramadan, Idul Fitri, serta Idul Adha. 

Oleh masyarakat Aceh daging sembelihan tersebut kemudian dimasak lalu dinikmati bersama-sama dengan keluarga, kerabat, juga dibagikan pada yatim piatu. Jumlah hewan kurban yang bisa berupa sapi dan kambing tersebut jumlahnya bisa sampai ratusan. 

Warga Aceh selain menyembelih sapi dan kambing, mereka juga menyembelih bebek dan ayam. Biasanya masyarakat akan memasak daging-daging kurban tersebut di rumah kemudian dibawa ke masjid dan dinikmati bersama tetangga serta warga yang lain.

Biasanya tradisi meugang di desa diselenggarakan sehari sebelum Ramadan atau Idul Fitri. Sementara di kota, upacara ini biasanya diselenggarakan dua hari sebelumnya.

Tradisi ini dalam sejarahnya telah dilaksanakan semenjak ratusan tahun yang lalu, di era Kerajaan Aceh. Di antara 1607-1636 Masehi, saat itu Sultan Iskandar Muda memotong banyak hewan dan kemudian membagikan dagingnya secara gratis pada seluruh rakyatnya. 

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur untuk kemakmuran rakyatnya dan rasa terimakasih pada seluruh rakyatnya. Akan tetapi setelah jatuhnya Kerajaan Aceh pada tahun 1873 oleh Belanda, tradisi ini tak lagi dilaksanakan oleh para raja.

Namun karena upacara ini telah mengakar dengan kuat di dalam kehidupan penduduk Aceh, meugang secara rutin tetap diselenggarakan hingga sekarang pada kondisi apapun. Pada tiap perayaan meugang, semua keluarga akan memasak daging yang nantinya akan dinikmati oleh seisi rumah. 

Meugang mempunyai nilai religius karena dilaksanakan pada hari-hari suci umat muslim. Untuk masyarakat Aceh, semua bentuk rezeki yang didapat dalam setahun, harus disyukuri dalam bentuk upacara adat meugang ini.

5. Upacara Peutron Aneuk

Upacara Peutron Aneuk

Upacara adat Aceh ini akan digelar oleh masyarakat Aceh saat kelahiran lahir anak. Peutron aneuk memang dilaksanakan untuk menyambut kehadiran sang buah hati yang baru lahir. Untuk waktu pelaksanaannya terdapat perbedaan.

Ada masyarakat yang menyelenggarakan upacara ini pada hari ke-7 sesudah kelahiran, tapi ada juga yang melaksanakannya pada hari ke-44 setelah kelahiran. Bahkan ada juga yang melakukannya sesudah bayi berumur satu tahun lebih.

Adapun gambaran prosesinya melibatkan banyak ritual-ritual simbolik, salah satunya yakni bagian saat di atas kepala bayi direntangkan sehelai kain, kemudian sebutir kelapa dibelah di atas kain. 

Kelapa tersebut nantinya akan diberikan pada kedua belah pihak orang tuanya. Ini merupakan simbol serta harapan agar tetap terjadi kerukunan di antara kedua belah pihak. 

Pemahaman lain yang dipercayai oleh masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu ada yang menyebutkan bahwa tujuan pembelahan buah kelapa supaya si bayi tak mudah merasa takut ketika mendengar suara petir yang tiba – tiba datang.

6. Upacara Samadiyah

Upacara Samadiyah

Samadiyah adalah upacara adat Aceh yang diselenggarakan untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal. Biasanya waktu pelaksanaan diselenggarakan selama tujuh malam secara berturut-turut sesudah wafatnya almarhum atau almarhumah.

Biasanya samadiyah hari pertama diselenggarakan di meusanah (mushala/surau/masjid) dan dilaksanakan sesudah shalat Magrib berjamah. Pada Samadiyah malam ketiga juga malam-malam seterusnya diselenggarakan di rumah duka.

Umumnya para tamu yang menghadiri acara tersebut akan membawa buah tangan yang akan diberikan pada keluarga yang sedang berduka. Para tamu sebelum berdoa akan disajikan hidangan makan malam untuk dimakan bersama. 

Dibandingkan dengan hari sebelum-sebelumnya biasanya pada samadiyah hari ketujuh tamu akan lebih ramai karena banyak kerabat, tetangga akan hadir di rumah duka sambil membawa beras, gula, kopi, dan lain-lain kemudian melakukan berdoa bersama.

7. Upacara Ba Ranub Kong Haba

Upacara Ba Ranub Kong Haba

Ketika pasangan di Aceh akan melaksanakan pernikahan, maka mereka akan melalui prosesi upacara adat ba ranub kong haba. Biasanya pelaksanaanya sudah disepakati oleh calon pengantin laki-laki dan perempuan. Bisa juga waktunya merupakan masukan dari pihak orang tua ataupun sanak famili.

Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan orang tua dari pihak calon mempelai laki-laki datang kepada pihak orang tua calon mempelai perempuan untuk melakukan acara pertunangan. Biasanya kedatangan pihak mempelai laki-laki tidak tangan kosong.

Mereka akan datang dengan membawa sirih penguat ikatan atau ranub kong haba, yakni sirih bersama alat-alat dalam cerana, selain ada juga pisang talon, yaitu pisang raja dan harus satu talam. Tak hanya itu diserahkan juga benda mas satu atau dua mayam yang sesuai dengan ketentuan adat.

Jika pernikahan ini tidak dilaksanakan karena ikatan ini putus diakibatkan oleh pihak laki-laki, tanda mas tersebut wajib dikembalikan dua kali lipat. Di acara ini ditentukan juga hari dan bulan diselenggarakannya pernikahan dan pulang pengantin.

8. Upacara Troen U Balang

Upacara Troen U Balang

Upacara adat troen u balang merupakan upacara hajat kenduri yang diselenggarakan oleh masyarakat Aceh ketika musim tanam padi tiba. Troen u balang dilaksanakan dengan tujuan supaya tanaman padi bisa panen dan menghasilkan hasil panen padi yang berlimpah.

Dengan berlimpahnya panen mereka diharapkan bisa menambah penghasilan ekonomi masyarakat. Makna lain dari dilaksanakan upacara adat Aceh ini yakni sebagai pertanda bahwa tanah atau lahan pertanian sudah siap untuk menerima benih baru juga masa tanam bisa segera dilakukan.

Biasanya saat upacara adat ini para petani akan menggarap sawah dengan serentak. Tak hanya itu, acara menyemai benih, menanam, panen, mengeluarkan zakat sampai menikmati hasil pertanian akan dilakukan secara serentak juga. 

9. Upacara Idang dan Peuneuwoe

Upacara Idang dan Peuneuwoe

Masih berhubungan dengan pernikahan masyarakat Aceh, upacara adat ini disebut dengan tradisi idang (hidang) serta peunuwo atau pemulang. Ini adalah hidangan yang dibawa oleh pihak pengantin dan diberikan kepada pihak pengantin yang satunya. 

Pada umumnya ketika intat linto baro atau mengantar pengantin pria, rombongan mereka akan membawa idang untuk pengantin perempuan yang berupa pakaian, kebutuhan juga peralatan sehari-hari bagi calon istri. 

Dan ketika intat dara baro, yaitu mengantar pengantin perempuan, rombongan tersebut akan membawa kembali talam yang sebelumnya dan diisi dengan barang-barang serta makananan khas Aceh misalnya kue boi, bolu, wajeb, kue karah, dan sebagainya.

10. Upacara Jak ba Tanda

Upacara Jak ba Tanda

Saat lamaran diterima, maka keluarga pihak laki-laki akan datang kembali. Mereka akan melakukan peukong haba. Arti dari peukong yaitu perkuat dan haba yaitu pembicaraan. Acara ini adalah kegiatan membicarakan waktu hari pernikahan.

Selain itu, ditetapkan juga termasuk menetapkan besaran uang mahar yang disebut jeulamee dan jumlah tamu yang akan diundang. Pada acara ini biasanya diadakan juga upacara pertunangan yang disebut jak ba tanda

Pada upacara adat ini pihak lelaki akan mengantarkan beragam makanan khas daerah Aceh, aneka buah-buahan, buleukat kuneeng, yaitu ketan berwarna kuning, dan tumphou, seperangkat pakaian perempuan dan perhiasan yang sesuai dengan kemampuan keluarga laki-laki. 

Nah itu adalah 10 upacara adat Aceh yang hingga sekarang masih lestari. Upacara adat ini ada yang berhubungan dengan pernikahan, tolak bala, syukuran untuk pertanian dan tangkapan hasil laut, juga kelahiran anak. Menariknya, masyarakat Aceh masih melaksanakan upacara ini, terutama mereka yang tinggal di desa.

Tak hanya Aceh, pastinya provinsi lain juga memiliki beragam upacara adat. Seperti apa upacara adat yang ada di daerahmu?

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram