keluyuran web banner

12 Upacara Adat Jawa yang Masih Terjaga Hingga Sekarang

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 22 April 2021

Upacara adat Jawa merupakan salah satu budaya asli Indonesia. Tradisi ini patut untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah juga masyarakat. Supaya informasinya tercatat, pemerintah bisa melakukan arsip digital. Selain itu bisa juga dilakukan perlombaan untuk menarik para wisatawan. Agar bisa menjadi objek wisata, upacara adat ini bisa dikemas semenarik mungkin.

Beberapa contoh upacara adat Jawa yang menjadi daya tarik bagi para turis misalnya upacara sekaten juga ruwatan. Selain kedua upacara itu, daerah Jawa masih memiliki upacara adat yang menarik untuk disaksikan. Mau tahu apa saja jenis upacaranya? Jangan lewatkan ulasannya berikut ini.

1. Padusan

Padusan

Upacara adat Jawa ini bernama padusan yang bertujuan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Padusan asal katanya dari adus yang artinya ‘mandi’ atau ‘membersihkan diri’. Upacara adat ini dilakukan dengan cara mandi bersama.

Pada upacara tersebut warga setempat mandi bersama sekaligus mensucikan jiwa dan raga untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Konon menurut beberapa orang padusan merupakan salah satu peninggalan Walisongo.

Padusan dilakukan ketika para Walisongo menyebarkan agama Islam dengan meleburkannya ke dalam budaya Jawa yang saat itu didominasi oleh kebudayaan Hindu.

2. Kenduren

Kenduren

Kenduren merupakan salah satu upacara adat Jawa Tengah. Kata lain dari kenduren yaitu slametan. Istilah ini lebih familiar di kalangan masyarakat. Tradisi ini adalah upacara adat awal.

Sebelum kedatangan agama Islam di daerah Jawa, kenduren merupakan kegiatan doa bersama yang dipimpin oleh ketua suku atau tokoh agama. Namun, di zaman dulu, makanan  yang disediakan merupakan sesaji untuk persembahannya.

Dikarenakan adanya perpaduan dengan budaya Islam, upacara adat Jawa ini akhirnya mengalami perubahan yang cukup besar. Kebiasaan sesaji yang dahulu dijadikan persembahan kemudian diganti menjadi acara makan bersama sesudah acara usai.

Menurut tujuannya, upacara adat Jawa ini dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

  • Kenduren munggahan atau sabanan yaitu upacara adat yang diselenggarakan untuk menaikan para leluhur orang Jawa sebelum memasuki bulan puasa. Umumnya upacara kenduren ini dilaksanakan pada akhir bulan Sya’ban, sebelum acara tabur bunga di makam leluhur.
  • Kenduren wetonan atau wedalan merupakan upacara kenduren yang diadakan saat hari lahir seseorang atau weton. Upacara ini dilaksanakan sebagai media untuk memanjatkan doa secara bersama-sama agar panjang agar umur.
  • Kenduren ba’dan yaitu kenduren yang dilakukan pada 1 Syawal atau ketika hari Raya Idul Fitri dengan tujuan untuk menurunkan arwah leluhur menuju ke tempat peristirahatan mereka.
  • Kenduren likuran yaitu upacara kenduren yang dilakukan pada tanggal 21 bulan Ramadhan dan diadakan untuk memperingati Nujulul Quran atau turunnya Al-Qur’an.
  • Kenduren muludan merupakan upacara adat Jawa yang dilaksanakan tiap tanggal 12 bulan Maulud untuk acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
  • Kenduren ujar yaitu ritual upacara adat yang dilaksanakan jika sebuah keluarga Jawa mempunyai hajat atau tujuan, contohnya saat akan berkirim doa kepada arwah leluhur, pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya.

3. Kebo-Keboan

Kebo-Keboan

Mayoritas penduduk Jawa bekerja sebagai petani dan mereka mempunyai ritual upacara tersendiri. Upacara adat Jawa yang satu ini bernama kebo-keboan yang dilaksanakan untuk menolak semua bala dan musibah yang bisa menerpa tanaman mereka dan bisa menghasilkan panen yang banyak.

Dalam upacara adat ini, ada 30 orang yang didandani seperti kerbau kemudian diarak keliling kampung. Ketiga puluh orang ini akan didandani lalu berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah.

4. Larung Sesaji

Larung Sesaji

Upacara larung sesaji merupakan upacara yang dilaksanakan oleh orang Jawa yang tinggal di pesisir pantai selatan dan utara Jawa. Upacara ini adalah perwujudan rasa syukur untuk hasil tangkapan mereka selama melaut dan sebagai permohonan supaya mereka diberi keselamatan saat melaut.

Beragam bahan pangan serta hewan dipersiapkan kemudian disembelih dan selanjutnya dilarung atau dihanyutkan ke laut. Dalam upacara adat Jawa, larung sesaji ini diadakan tiap tanggal 1 Muharam.

5. Selikuran

Selikuran

Selikuran adalah upacara adat yang umum dilaksanakan di Jawa Tengah. Pelaksanaan tradisi ini yaitu pada malam 21 Ramadhan. Di  Jawa daerah biasanya orang-orang akan melakukan doa bersama dipimpin oleh seorang tokoh agama yang telah diberi mandat.

Arti selikur di dalam bahasa Jawa memiliki makna yang sangat khusus. Waktu untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT serta mendoakan mereka yang sudah pergi mendahului.

Bagi masyarakat Jawa setempat, upacara adat ini merupakan sebuah kebiasaan ungkapan rasa kecintaan mereka pada Rasulullah SAW dan agama Islam.

6. Siraman

Siraman

Upacara adat siraman merupakan upacara adat tradisi yang dilakukan oleh calon pengantin perempuan. Mereka harus dimandikan juga disucikan menggunakan air bunga tujuh rupa.

Acara siraman ini diadakan dengan cara memandikan calon pengantin perempuan supaya dirinya dapat suci sebelum digelarnya upacara pernikahan. Seusai upacara siraman, biasanya calon pengantin perempuan dibopong oleh kedua orangtuanya agar pernikahannya bisa berjalan dengan baik.

7. Popokan

Popokan

Popokan merupakan salah satu upacara adat Jawa Tengah. Tradisi ini dilakukan dengan saling  melempar lumpur di antara warga Beringin yang terletak di Semarang. Waktu melakukan popokan yaitu di bulan Agustus pada hari Jumat Kliwon.

Asal usul tradisi popokan konon katanya berawal dari dahulu di wilayah Beringin. Ketika itu seekor macan mendatangi masyarakat setempat. Macan tersebut mengganggu serta mengancam warga desa. Maka digunakanlah beragam peralatan untuk mengusir hewan itu termasuk melempar lumpur.

Dari situlah akhirnya muncul upacara popokan. Tujuan dari upacara ini yaitu untuk menghilangkan kejahatan serta tolak bala di wilayah mereka. Kabar baiknya yaitu upacara popokan ini masih tetap terjaga sampai saat ini.

8. Nyadran

Nyadran

Upacara nyadran adalah upacara adat Jawa khas Kota Semarang. Upacara ini sering dilaksanakan oleh warga setempat dengan cara berkumpul kemudian secara bersama-sama membersihkan kuburan. Biasanya tradisi ini dilaksanakan ketika bulan Ruwah tiba.

Selesai membersihkan kuburan, maka akan dilaksanakan upacara makan bersama. Nyadran juga dilakukan secara individual. Di kalangan penduduk Jawa biasanya pada saat bulan Ruwah tiba mereka akan pergi ke kuburan keluarga yang lebih tua dan membersihkan sertas mendoakan mereka.

9. Ruwatan

Ruwatan

Satu lagi upacara adat Jawa yang masih ada hingga sekarang yaitu upacara ruwatan. Tujuan dilakukannya upacara adat Jawa ini yaitu untuk meruwat atau menyucikan orang dari segala nasib buruk, kesialan, dan memberikan keselamatan di dalam menjalani hidup.

Umumnya upacara ini dilaksanakan di dataran Tinggi Dieng. Anak-anak yang memiliki rambut gimbal dianggap sebagai keturunan dari raksasa dan harus segera diruwat supaya terbebas dari berbagai marabahaya.

10. Tedak Siten

Tedak Siten

Ini adalah upacara adat ketika bayi yang dimasukkan ke dalam sangkar ayam. Upacara adat Jawa ini digelar saat mereka mulai belajar berjalan. Upacara ini di beberapa daerah lain juga disebut dengan upacara tedak siten atau turun tanah.

Tujuan dari penyelenggaraan upacara ini yaitu sebagai ungkapan rasa syukur ayah dan ibu dari sang bayi atas kesehatan anak mereka yang sudah mampu menapaki alam sekitarnya.

11. Sekaten

Sekaten

Pertama kali tradisi ini dilaksanakan oleh Sunan Bonang. Upacara adat ini merupakan tradisi menyembunyikan gamelan yang dimiliki oleh keraton. Dahulu, tradisi ini dipakai untuk menyebarkan agama Islam.

Asal nama sekaten dari Syahadatain. Penggunaan nama ini dikarenakan tiap kali pergantian pukulan gamelan akan diselingi oleh bacaan Syahadatain. Pesta rakyat akan diadakan terlebih dahulu sebelum sekaten.

Puncak acara ini yaitu dihadirkannya dua gunungan yang dibawa dari Masjid agung sesudah didoakan oleh ulama-ulama keraton. Masyarakat mempercayai bahwa jika mereka mendapatkan makanan dari gunungan, maka mereka akan mendapat berkah dalam hidupnya.

12. Wetonan

 Wetonan

Wedalan atau wetonan merupakan adat Jawa yang dalam bahasa Jawa berarti “keluar”,  tapi yang dimaksud dengan keluar di sini adalah lahirnya seseorang.

Masyarakat setempat akan melaksanakan upacara adat ini sebagai harapan agar diberi panjang umur serta dihindarkan dari bermacam bahaya di masa depan. Selain itu, tujuannya adalah supaya cita–cita sang anak dapat tercapat dengan mudah dan mendapatkan keturunan yang baik.

Ternyata upacara adat Jawa begitu beragam. Upacara adat ini untungnya masih tetap diselenggarakan di masyarakat meskipun di daerah-daerah tertentu saja. Tujuan diadakannya upacara adat ini semuanya sama, yaitu untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup serta terhindar dari bermacam malapetaka.

Salah satu upacara yang sering menjadi objek wisata adalah upacara sekaten, ruwatan serta larung saji. Saat penyelenggaraan upacara biasanya banyak disaksikan oleh para wisatawan. Apakah kamu pernah melakukan upacara adat di rumahmu?

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram